close

Mendakwahi Remaja dengan Bahasanya

ilustrasi remaja Islam © drise-online.com
gambaran remaja Islam © drise-online.com

Dakwah ka&g diidentikkan dgn sesuatu yg berat secara muatan sehingga mengerutkan dahi para objek dakwah. Padahal, penyampaian dakwah haruslah diubahsuaikan dgn bagaimana objek dakwah. Inilah yg menjadi tafsir saat Rasulullah berpesan biar berbicara kepada suatu kaum dgn bahasa yg digunakannya.

Kaidah inilah yg harus diamati dgn baik oleh para dai dlm banyak sekali bi&g garapnya. Utamanya terhadap mereka yg telah menyebabkan menulis sebagai salah satu jalan baginya untuk berdakwah. Para penulis itu, mesti memiliki kepekaan yg bagus sehingga mampu menghi&gkan dakwah untuk berbagai kalangan.

Maka, mereka yg usianya remaja, harus didakwahi dgn dunia mereka. Pun, dlm hal menu buku. Mereka mesti disentuh dgn bahasa mereka, lalu disisipi nilai-nilai dakwah yg diperjuangkan tanpa kesan menggurui.

Dalam cerita contohnya, novel Sophia & Pink ini bisa menjadi suatu bimbingan tentang bagaimana “menyusupkan” dakwah dlm kehidupan cukup umur.

Cerita yg mengambil bintang film utama belum dewasa Sekolah Menengan Atas dgn latar belakang Kota Surabaya ini menyuguhkan kepada pembaca sebuah cara halus yg bisa dipakai untuk memengaruhi siapa yg mau diajak menuju kebaikan.

Diawali dgn cerita kehidupan Sekolah Menengan Atas, persahabatan, permainan & khas cukup umur lainnya, novel ini menyajikan suatu konflik multi lapis sehingga mempesona untuk dibaca.

Adalah Sophia Fitri. Anak semata wayg dari pasangan Bunda Amanda & Ayah. Kedua pasangan ini telah bercerai. Sophia tinggal bareng Bunda Amanda, Nenek Run & Tante Yuna. Se&gkan Ayahnya menikah lagi dgn Tante Mira & tinggal di luar kota.

Konflik khususnya, ada pada perasaan butuh seorang anak akan kehadiran lelaki, ayahnya. Ada rindu, tanya & rasa yg amat sukar untuk dibincang detil dlm kata-kata.

  Puisi Hati, Makam Prosa Hati

Konflik selanjutnya terjadi di sekolah. Sophia yg ketua kelas mesti “berhadapan” dgn murid gres yg hampir sempurna, Pink. Sosok yg manis, pandai & mahir mengolah makanan. Meski, Pink menyimpan misterinya sendiri.

Di sekolah, berdasarkan hembusan pengaruh dari neneknya, Sophia sejatinya tengah mencari sosok lelaki yg mampu mengobati rindunya kepada Ayah yg sudah menjadi suami perempuan lain. Maka, dikisahkanlah Pak Ragil. Sosok salih, cerdas & rupawan. Kelak, Pak Ragillah yg menjadi guru spiritual saat Sophia mengalami badai cobaan yg datang bertubi.

Tentang pencarian seorang sampaumur akan cintanya, Sophia juga terlibat pusara asmara yg tak terang antara Vandes, Mocha & teman-teman lain di SMA Utama. Meski banyak sekali pertentangan dihadirkan, tapi persahabatan ialah hal yg paling mereka junjung.

Sinta Yudisia sebagai juru dongeng, teracungi jempol alasannya piawai menggumulkan banyak hal dlm satu sajian. Ia membincang psikologi, agama, asmara, persahabatan & hal-hal lain yg kian menyemarakkan rasa buku ini.

Meski agak menjemukan di bab pertengahan, justru sesudah itu puncak konflik dihadirkan.

Bunda Amanda divonis Kanker Payudara. Harus dioperasi dgn pengangkatan satu payudaranya mudah-mudahan sel kankernya tak menyebar.

Sontak saja, gosip ini merobohkan ketegaran Sophia. Untunglah, dia mempunyai Tante Yuna & Nenek Run yg menguatkannya. Di luar itu, Bunda Amanda yaitu sosok yg paling dikagumi oleh anaknya itu, alasannya ketegaran & perannya selama menjadi single parents selepas bercerai dgn Ayah.

Sekilas, dlm novel ini ada pendiskreditan kepada sosok Ayah. Meski memang ia tak lagi mempunyai relasi dgn mantan istrinya, semestinya kedekatannya dgn anak taklah menyusut. Saygnya, bahkan untuk beritakanker yg diderita Bunda Amanda pun tak diketahuinya.

  Sejarah Gedung Pintu Seribu (Lawang Sewu)

Malahan, Sophia pernah dimarahi olehnya & istrinya cuma alasannya anaknya itu mengantarpesan singkat bernada kangen. Wajar, seorang anak kangen kepada bapaknya.

Sejak tertimpa ujian itulah, Sophia menjadi sering pergi ke musala sekolah. Ia sering bertemu dgn Pak Ragil yg rajin melakukan shalat Dhuha. Meski sempat berdebat dgn gurunya itu wacana kaitan antara shalat Dhuha & rezeki, jadinya Sophia menjadi rajin merutinkannya alasannya memahami; rezeki tak cuma soal materi.

Kisah dlm novel ini, kian cocok dgn cukup umur kontemporer. Di dlmnya dihi&gkan cerita tentang nge-blog, fesbuk, twitter, LINE, WA & produkteknologi berita komunikasi terbaru lainnya. Sehingga, tak membosankan & layak dikonsumsi oleh kalangan dewasa. Bagi orang tua, buku ini bisa dijadikan tumpuan tentang bagaimana cukup umur & cara menghadapinya.

Yang tak kalah menariknya, sebagaimana beberapa novel penulis yg lain, selesai cerita tak teratasi. Penulis diberi ruang khayalan sendiri untuk memilih akhir cerita dari semua aktor yg terlibat di dlmnya.

Apakah Bunda Amanda meninggal sehabis operasi? Bagaimana kelanjutan pendidikan Sophia? Apakah Pink yg mantan pecandu narkoba itu mampu menghadapi ujian keluarganya dgn gemilang? Lantas, bagaimana kelanjutan dongeng Pak Ragil & Vandes?

Sepertinya, akan seru jika ada seri kedua atau ketiga. Sehingga, novel cukup umur ini menjadi dwilogi atau bahkan trilogi. [Pirman]

Sophia and Pink[notice]

Identitas Buku

Judul : Sophia & Pink

Penulis : Sinta Yudisia

Penerbit : DAR! Mizan – Bandung

Tebal : 180Halaman ;19,5 cm

Cetakan : I, 2014

ISBN : 978-602-242-480-2

[/notice]