Peran Serta Indonesia di Bidang Politik

A. Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB)

Apa itu PBB atau perserikatan bangsa bangsa?

Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), merupakan organisasi internasional yang diciptakan untuk mendorong kerja sama internasional. PBB didirikan setelah Perang Dunia Il yang berakhir pada tahun 1945. Misinya, antara lain mempertahankan perdamaian dunia, membangun hubungan baik antarnegara, dan melindungi hak asasi.

Berdirinya PBB dipelopori oleh F.D. Rosevelt dan Winston Churchill yang mengadakan perundingan-perundingan dan akhirya menghasilkan suatu piagam yang disebut dengan Atlantic Charter pada tanggal 14 Agustus 1941. Berbagai persiapan terus dilakukan demi lahirnya sebuah lembaga internasional.

Pada tanggal 25 April-26 Juni 1945 (2 bulan) berlangsung konferensi di San Francisco. Konferensi ini dihadiri oleh 50 negara, 47 negara menandatangani Piagam PBB ditambah Ukraina, Belarus, dan Argentina.

Kelimapuluh negara yang menandatangani Piagam PBB (Declaration of United Nations) ini disebut sebagai “negara anggota pendiri” atau disebut juga “original member”. Setelah disahkan oleh pemerintah masing-masing negara peserta Konferensi San Francisco, Piagam PBB ini mulai berlaku sejak 24 Oktober 1945.

Tujuan didirikannya PBB adalah sebagai berikut.

  1. Memelihara keamanan dan perdamaian internasional.
  2. Mengembangkan hubungan persahabatan antarbangsa. Dengan menghormati hak untuk menentukan nasib sendiri dan berdasarkan persamaan hak dan kedudukan.
  3. Mengembangkan kerja sama internasional dalam memecahkan masalah-masalah ekonomi, sosial, budaya, dan kemanusiaan.
  4. Jadi pusat dari aktivitas bangsa- bangsa dalam menggapai kerjasamayang serasi buat menggapai tujuan PBB.

Setelah Indonesia merdeka, Belanda tidak rela untuk melepaskan Indonesia. Ketika tentara sekutu diberi tugas untuk melucuti tentara Jepang yang ada di Indonesia,

Belanda kemudian mendompleng kepada tentara sekutu yang akan melucuti senjata Jepang itu. Ketika tentara sekutu selesai melaksanakan tugasnya, Belanda tetap bercokol di Indonesia.

Belanda kemudian melaksanakan serangan kepada bangsa Indonesia yang disebut dengan Agresi Militer I dan Agresi Militer II. Indonesia kemudian meminta bantuan kepada Dewan Keamanan PBB untuk menghentikan tembak menembak dan peperangan tersebut.

Untuk pertama kalinya PBB turut campur dalam menyelesaikan masalah Indonesia. Indonesia akhirnya menjadi anggota PBB yang ke-60 pada tanggal 27 September 1950

Ketika terjadi konfrontasi dengan Malaysia, Indonesia keluar dari anggota PBB pada tanggal 20 Januari 1965. Namun, setelah terjadi pergantian pemerintah dari Ir. Soekarno ke Soeharto, maka Indonesia menyatakan diri masuk kembali sebagai anggota PBB. Indonesia diterima sebagai anggota penuh PBB pada tanggal 28 september 1966.

Jasa yang telah diberikan PBB kepada Indonesia, di antaranya sebagai berikut.

  1. Membentuk UNCI (United Nations Commision for Indonesia) yang diberi tugas untuk menyelesaikan masalah Indonesia dengan Belanda setelah Agresi Militer II. UNCI berhasil membawa Indonesia dan Belanda untuk mengadakan perundingan. Indonesia dan Belanda berunding pada tanggal 7 Mei 1949 dalam perundingan Roem-Royen. Setelah itu, dilanjutkan dengan Konferensi Meja Bundar (KMB). Pada akhirnya KMB menghasilkan pengakuan dari pemerintah Belanda terhadap Republik Indonesia Serikat pada tanggal 27 Desember 1949.
  2. Oleh karena Belanda tidak bersedia mengembalikan Irian Barat, akhirnya muncul kembali perselisihan antara Indonesia dengan Belanda. Meskipun Indonesia sudah berusaha untuk menempuh jalan damai dan diplomasi, tetapi kurang mendapat tanggapan dari pihak Belanda. Bahkan Belanda semakin memperkuat angkatan bersenjatanya. Sebagai akibat sikap Belanda itu, akhirnya Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Belanda pada tanggal 17 Agustus 1960. Pada tanggal 15 Agustus 1962 ditandangani perjanjian antara Republik Indonesia dengan Kerajaan Belanda mengenai Irian Barat. Perjanjian itu ditandatangani di markas besar PBB di New York. Persetujuan itu menerangkan kalau Belanda hendak merelakan Irian Barat pada pemerintahan temporer PBB( UNTEA= United Nations Temporary Executive Authority). Sejak saat itu bendera Belanda diturunkan dan dikibarkanlah bendera PBB. Sejak 1 Mei 1963, pemerintah Indonesia secara resmi menerima pemerintahan atas Irian Barat dari UNTEA (PBB). Sejak saat itu Merah Putih berkibar untuk selamanya di bumi Irian Barat. Dengan demikian, jelaslah bahwa PBB sangat berperan dan berjasa dalam menjaga keutuhan wilayah Indonesia.

B. Konferensi Asia-Afrika

Faktor Penyebab Terjadinya Konferensi Asia-Afrika

Sebagai negara yang melaksanakan politik luar negeri yang bebas aktif, tentu bangsa Indonesia tidak tinggal diam. Apalagi Indonesia pernah mengalami pahit getirnya penjajahan. Indonesia mendukung perjuangan kemerdekaan negara-negara di Asia dan Afrika. Pada masa itu banyak negara-negara di Asia dan Afrika yang ingin atau sedang memperjuangkan kemerdekaannya.

Rasa kesetiakawanan yang tinggi dari bangsa Indonesia terhadap perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa di Asia-Afrika mendorong bangsa Indonesia untuk memelopori diadakannya Konferensi Asia-Afrika (KAA). Negara-negara yang menjadi pelopor diadakannya KAA ada 5 negara, yaitu Indonesia, India, Pakistan, Birma, dan Sri Lanka. Konferens? Asia- Afrika berjalan di Bandung bertepatan pada 18- 24 April 1955. Rapat Asia- Afrika diiringi oleh 29 negeri

yaitu:

1. Afganistan
2. Birma
3. Jepang
4. Ethiopia
5. Filipina
6. Ghana
7. India
8. Indonesia
9. Irak
10. Iran
11. Kamboja
12. Laos
13. Lebanon
14. Liberia
15. Libia
16. Mesir
17. Nepal
18. Pakistan
19. Pantai Emas
20. Republik Rakyat Cina
21. Saudi Arabia
22. Sri Langka
23. Sudan
24. Suriah
25. Turki
26. Vietnam Utara
27. Vietnam Selatan
28. Yaman
29. Yordania

Adapun tujuan diselenggarakannya Konferensi Asia-Afrika adalah:

  1. Buat tingkatkan keinginan bagus( goodwill) serta kegiatan serupa antarbangsa- bangsa Asia- Afrika, dan buat menjajagi serta meneruskan bagus kebutuhan timbal balik ataupun kebutuhan bersama.
  2. Buat memikirkan permasalahan sosial, ekonomi, serta adat dalam hubungannya dengan negara- negara partisipan.
  3. Buat memikirkan permasalahan hal kebutuhan spesial yang menyangkut orang Asia- Afrika. Dalam perihal ini yang menyangkut independensi nasional, rasialisme, serta penjajahan.
  4. Buat meninjau posisi Asia- Afrika serta rakyatnya dalam negeri era saat ini serta saham yang bisa diserahkan buat kenaikan perdamaian negeri serta kerja sama global.

Selain keempat tujuan tersebut di atas, dibahas pula tentang hidup berdampingan dengan damai, perlucutan senjata, dan senjata penghancur yang dahsyat. Konferensi ini menghasilkan prinsip-prinsip yang disetujui bersama dan dituangkan dalam Dasa Sila Bandung. Isi Dasasila Bandung selengkapnya sebagai berikut.

Dasasila Bandung

  1. menghargai hak- hak dasar individu serta tujuan- tujuan, dan asas- asas yang terdapat dalam piagam PBB.
  2. menghargai independensi serta integritas regional seluruh bangsa.
  3. Membenarkan pertemuan suku bangsa serta perserupaan seluruh bangsa baik besar ataupun kecil.
  4. Tidak mengadakan campur tangan ataupun campur tangan dalam soal- soal dalam negara- negara lain.
  5. menghargai setiap bangsa buat menjaga diri sendiri dengan cara sendiri ataupun dengan cara bersama- sama, sesuai dengan piagam PBB.
  6. a. Tidak memakai peraturan- peraturan pertahanan bersama- sama buat bertindak buat kepentingan eksklusif salah satu negara besar.
    b. Tidak mengadakan desakan kepada negara lain.
  7. Tidak melangsungkan tindakan- tindakan ataupun intimidasi penyerangan atau pemakaian kekerasan kepada integritas internasional ataupun independensi politik sesuatu negeri.
  8. Menuntaskan seluruh konflik universal dengan jalur damai, semacam negosiasi, persetujuan, arbitrase, ataupun penuntasan hukum ataupun metode damai lain- lain lagi menurut pilihan pihak- pihak yang bersinggungan, sesuai dengan piagam PBB.
  9. Memajukan keperluan bersama serta aktivitas sepadan.
  10. menghargai hukum serta kewajiban- kewajiban universal.

Prinsip-prinsip Dasa Sila Bandung seperti hidup berdampingan secara damai diharapkan dapat diperluas dan dikembangkan di antara negara-negara Gerakan Non Blok. Non Blok ini selain berusaha memelihara perdamaian dunia juga bertindak selaku penengah antara Blok Barat dan Blok Timur.