Hubungan Manusia dan Lingkungan – Pendidikan Lingkungan Hidup

Apakah kamu pernah merasa kepanasan sebab sengatan matahari? Sehabis itu, kamu bakal merasakan haus, bukan? Rasa panas seperti itu salah satu faktor lingkungan sedang memberikan efek pada kamu.

Andaikan tidak terdapat air di sekitar kita, sehingga rasa haus itu akan terus menjadi menyiksa kita, ini berarti kamu sedang memerlukan faktor lingkungan yang lain.

Manusia hidup dalam lingkungannya serta melangsungkan interaksi dengan elemen- elemen yang terdapat di lingkungannya. Interaksi itu bisa terjalin dengan elemen biotik mapun abiotik dan sosial budaya.

Pada awal mulanya interaksi antara manusia dengan lingkungannya berjalan dengan cara harmonis, selaras serta proporsional.

Tetapi, akhir- akhir ini ikatan itu berjalan dengan cara tidak proporsional. Manusia dengan keahlian ilmu wawasan serta teknologinya lebih bersifat eksploitatif kepada alam, alhasil timbul berbagai permasalahan lingkungan.

A. Pengertian Hubungan Manusia dan Lingkungan

Pengertian Hubungan Manusia dan Lingkungan – Hubungan antar makhluk hidup, lebih- lebih manusia dan lingkungannya, sebenarnya sudah terjadi sejak manusia lahir. Begitu seorang lahir ke bumi, maka secara langsung atau tidak ia telah melaksanakan ikatan dengan lingkungan hidupnya, misalnya menggunakan oksigen di udara buat bernafas, memperoleh ASI dari ibunya, memakai air buat kebersihan badannya.

Setelah lebih besar, tingkatan ketergantungan terhadap lingkungan pastinya semakin tinggi, seiring perkembangan kebutuhannya. Seluruh keperluan itu mesti diperolah melalui interaksi dengan lingkungan, baik lingkungan alam, lingkungan binaan, ataupun lingkungan sosial budaya.

Benar pada awal mulanya ikatan manusia dengan lingkungannya terjadi dengan cara natural. Bersamaan meningkatnya peradaban, manusia dikelilingi oleh berbagai bentuk artefak ataupun objek- objek hasil kreasinya.

Objek- objek itu kemudian jadi bagian dari lingkungan sebagai keseluruhan. Apalagi, di wilayah perkotaan lingkungannya didominasi oleh elemen- elemen kehidupan perkotaan kayak jalan, jembatan, perumahan, perkantoran, penginapan, dan lain- lain.

Lingkungan alam sudah ditukar ataupun diganti dengan cara radikal oleh lingkungan buatan ataupun arahan.

Hubungan manusia dengan lingkungan bisa beroperasi lewat dua metode. Pada satu faktor, manusia dipengaruhi oleh lingkungan, namun pada bagian lain manusia mempunyai kemampuan buat mengubah lingkungan. keunikan hubungan itu berbeda antara satu wilayah dengan wilayah yang lain ataupun satu warga dengan warga yang lain.

Pada wilayah yang masyarakatnya mempunyai tingkatan peradaban yang sudah maju, manusia condong dominan, alhasil lingkungannya sudah banyak berganti dari lingkungan alam jadi lingkungan binaan hasil buatan manusia.

Kebalikannya pada masyarakat yang masih sederhana, kehidupannya amat tergantung pada kondisi alam. Semacam kehidupan peladang yang amat tergantung pada keadaan iklim.

Untuk lebih memahami macam mana hubungan manusia serta lingkungannya, hendaknya kamu menguasai beberapa aliran pandangan menurut para pakar yang memaparkan hakekat dari hubungan tersebut, yakni paham posibilis, paham determinis, serta paham optimis teknologi.

1. Paham Posibilisme

Paham posibilis memberikan pemahaman kalau keadaan alam itu tidak jadi sebab yang menentukan, melainkan menjadi aspek pengontrol, memberikan kemungkinan ataupun probabilitas yang mempengaruhi kegiatan ataupun kebudayaan manusia.

Jadi bagi paham ini, alam tidak berfungsi menentukan namun cuma memberikan probabilitas. Manusia berfungsi menentukan preferensi dari peluang- peluang yang diberikan alam.

Cendekiawan yang menganut paham ini antara lain yaitu Paul Vidal de la Blache( 1845- 1919).

Baginya, aspek yang menentukan itu bukan alam melainkan cara produksi yang dipilih manusia yang datang dari kemungkinan yang diberikan alam, kayak iklim, tanah, serta ruang di suatu kawasan.

Dalam hal ini, manusia tidak lagi bersikap diam ataupun pasrah menerima apapun yang diberikan alam kayak yang dipercayai oleh determinisme, namun aktif dalam pemanfaatannya.

Manusia serta kebudayaannya bisa memilah aktifitas yang sesuai serupa kemungkinan yang diberikan oleh alam. Contoh, sungai tidak cuma dipakai oleh manusia buat budidaya ikan, melainkan pula bisa dipakai buat transportasi, generator listrik, irigasi, serta pariwisata.

2. Paham Optimisme Teknologi

Dalam hubungannya dengan lingkungan, manusia mengembangkan ilmu wawasan serta teknologi. Setengah rahasia alam terkuak dan teknologi untuk mengeksploitasinya kemudian meningkat.

Apalagi, dengan perkembangan teknologi saat ini separuh manusia membentuk teknologi segala- galanya. Mereka sangatoptimis kalau teknologi berkembang apapun bisa menjamin keperluan manusia. Teknologi bukan lagi jadi pilihan namun sudah jadi kepastian yang dapat

menjamin hidup serta kehidupan manusia. Apalagi lebih jauh telah berorientasi pada ketergantungan teknologi serta mentuhankan teknologi. Teknologi sudah membuat beberapa manusia tidak lagi yakin pada Tuhan. Sementara itu teknologi merupakan buatan manusia serta bertuan pada manusia, bukan kebalikannya.

3. Paham Determinisme

Bersumber pada paham determinis, kalau manusia serta perilakunya didetetapkan oleh alam.

Cendekiawan yang mengembangkan paham ini antara lain Charles Darwin. Charles Darwin( 1809) ialah ilmuwan berkebangsaan Inggris yang amat populer dengan prinsip evolusinya.

Baginya, makhluk hidup sebagai berkesinambungan mengalami perubahan serta dalam prosedur perubahan itu berlangsung seleksi alam( natural selection).

Makhluk hidup yang sanggup menyesuaikan diri dengan lingkungannya bakal bisa bertahan serta selamat dari seleksi alam. Tentang ini berarti alam berperan sungguh menentukan.

Cendekiawan yang lain yakni Frederich Ratzel( 1844- 1904), menggambarkan ilmuwan berkebangsaan Jerman sangat dikenal dengan prinsip” Antopogeographie”- nya.

Baginya manusia serta kehidupannya sungguh terkait pada alam. pertumbuhan kebudayaan ditentukan oleh situasi alam,

Begitu halnya dengan mobilitasnya yang senantiasa dibatasi serta ditentukan oleh situasi alam di dataran bumi.

Tentang ini juga disebut oleh Elsworth Huntington( akademikus berkebangsaan Amerika Serikat). Baginya, iklim amat menentukan kemajuan peradaban manusia.

Begitu juga sudah kamu pelajari dalam mata pelajaran Geografiiklim di bumi amat bermacam- macam. Keragaman iklim tersebut, menghasilkan peradaban yang berbeda. Contoh, peladang melaksanakan aktifitas menanam padi dikala waktu musim hujan.

Dari ketiga mengerti itu, tiap- tiap mempunyai bagian kebenarannya. Beberapa kegiatan manusia amat didetetapkan oleh alam, paling utama yang menggunakan alam dengan cara langsung misalnya kegiatan pertanian.

Kegiatan itu amat didetetapkan oleh situasi cuaca serta hawa, meski dalam kemajuannya manusia mulai memakai teknologi buat mengaturnya semacam rumah kaca.

Busana manusia dalam banyak perihal pula terkait pada situasi cuaca. Perihal ini ialah fakta mengerti determinisme lingkungan. Tetapi begitu, bersamaan dengan perkembangan peradaban, manusia banyak melaksanakan usaha rekayasa buat memaksimalkan eksploitasi alam. Sebab itu, mengerti posibilis serta optimisme teknologi terus menjadi membuktikan realitas.

B. Etika Lingkungan

Besarnya manfaat lingkungan alam untuk kehidupan manusia, sepatutnya manusia menerapkan evaluasi diri kepada apa yang dikerjakannya terhadap alam. Kehancuran alam bukan cuma di Jawa Barat namun nyaris di semua nusantara.

Pertanyaanya, apakah ada yang salah dalam manajemen lingkungan hidup? Bila kita ada dugaan kalau alam lingkungan bisa lestari tanpa adamanusia. Manusia lebih memerlukan alam lingkungan dari alam yang membutuhkan manusia, sehingga sudah bisa dipastikan kalau kehancuran alam lingkungan sebab manusia sudah berbuat salah kepada alam.

Kenapa terjadi kerusakan lingkungan? Bagi A. Sonny Keraf( 2002), kalau permasalahan lingkungan hidup merupakan permasalahan moral manusia, ataupun pesoalan perilaku manusia. Kehancuran bukan masalah teknis namun krisis lingkungan merupakan kemelut moral manusia.

Buat menanggulangi permasalahan lingkungan hidup dewasa ini prosedur awalnya yakni dengan metode mengubah cara memandang serta perilaku manusia kepada alam dengan cara mendasar melaui pengembangan etika lingkungan.

Dengan cara teoritis, ada 3 bentuk filosofi etika lingkungan, yaitu

Shallow Environmental Ethics, Intermediate Environmental Ethics, serta Deep Environmental Ethics. Ketiga prinsip ini dikenal sebagai antroposentrisme, biosentrisme, serta ekosentrisme( Sony Keraf: 2002).

1. Etika Lingkungan Antroposentrisme

Teknik pandang antroposentrisme, saat ini dikritik secara tajam oleh etika biosentrisme serta ekosentrisme.

Pada faham biosentrisme serta ekosentrisme, manusia tidak cuma dipandang selaku makhluk sosial, namun pula selaku makhluk biologis ataupun makluk ekologis.

Manusia cuma dapat hidup serta bertumbuh sebagai manusia utuh serta penuh, tidak cuma dalam komunitas sosial, namun pula komunitas ekologis, yakni selaku makhluk yang kehidupannya terpaut dari serta terikat kuat dengan seluruh kehidupan lain di alam jagat.

Tanpa alam, tanpa makhluk hidup lain, manusia tidak bakal bertahan hidup, sebab manusia cuma menggambarkan salah satu entitas di alam jagat. Serupa semua makhluk hidup yang lain, manusia memiliki peran yang serupa dalam” jaringan kehidupan” di alam jagat ini.

Jadi, manusia tidak posisi di luar, di atas serta terpisah dari alam. Manusia diantara dalam alam serta terikat dan terpaut dari alam serta segala isinya.

Etika lingkungan yang bermotif antroposentrisme menggambarkan suatu kekeliruan metode pandang Barat, yang berasal dari Aristoteles sampai filsuf- filsuf modern, di mana perhatian pentingnya menyangka kalau etika cuma berlaku untuk komunitas manusia.

Antroposentrisme merupakan aliran yang memandang kalau manusia merupakan pusat dari alam jagat, serta cuma manusia yang mempunyai angka, sedangkan alam serta seluruh isinya hanya alat untuk pelampiasan keperluan serta kepentingan hidup manusia.

Manusia dianggap posisi di luar, di atas, serta terpisah dari alam. Malahan manusia dipahami sebagai penguasa atas alam yang bisa melakukan apa saja.

Metode pandang semacam itu melahirkan tindakan serta sikap eksploitatif tanpa kepedulian sama sekali kepada alam serta seluruh isinya yang disangka tidak memiliki nilai pada diri sendiri.

2. Etika Lingkungan Biosentrisme serta Ekosentrisme

Dari uraian ini, biosentrisme serta ekosentrisme mengembangkan pemahaman etika, yakni berpendapat komunitas biotis serta komunitas ekologis selaku komunitas moral.

Etika tidak lagi dibatasi cuma untuk manusia. Etika dalam uraian biosentrisme serta ekosentrisme berlaku untuk seluruh makhluk hidup. Etika lingkungan yang diperjuangkan serta dibela oleh biosentrisme serta ekosentrisme ialah kembali pada etika masyarakat adat, yang dipraktikkan oleh nyaris seluruh suku asli di segala negeri.

Biosentrisme mempunyai pemikiran kalau tiap kehidupan serta makhluk hidup memiliki nilai serta berarti pada dirinya sendiri. prinsip ini berpendapat serius setiap kehidupan serta makhluk hidup di alam jagat.

Semua makhluk hidup bernilai pada dirinya sendiri akibatnya patut mendapat pertimbangan serta kepedulian moral. Alam butuh diperlakukan dengan cara moral, terlepas dari apakah ia bernilai untuk manusia ataupun tidak. prinsip ini mendasarkan moralitas pada keluhuran kehidupan, bisa jadi pada manusia ataupun pada makhluk hidup yang lain.

Ada 4 keyakinan biosentrisme,
Pertama, percaya kalau manusia merupakan bagian dari komunitas kehidupan di bumi dalam pengertian yang selevel dan dalam kerangka yang sama di mana makhluk hidup yang lain pula bagian dari komunitas yang sama.
Kedua, kepercayaan kalau spesies manusia, bersama dengan seluruh spesies lain, merupakan bagian dari sistem yang silih tergantung sedemikian muka akibatnya kehidupan ditentukan oleh hubungan satu dengan yang lain.
Ketiga, keyakinan kalau semua makhluk bernyawa merupakan pusat kehidupan yang memiliki tujuan sendiri.
Keempat, keyakinan kalau manusia pada dirinya sendiri tidak lebih unggul dari mahluk hidup yang lain.

Lewat pandangan itu, membikin manusia jadi lebih adil dalam memandang seluruh makhluk hidup dengan seluruh kepentingannya. Pasti saja. Manusia bakal selalu memandang kepentingannya lebih bernilai.

Dengan keyakinan tadi, manusia akan lebih terbuka buat memperhitungkan serta memperhatikan kepentingan makhluk hidup yang lain dengan cara serius, khususnya kala ada benturan kepentingan antara manusia dengan makhluk hidup lain.

Berlainan dengan biosentrisme, ekosentrisme lebih memandang etika berlaku pada keseluruhan unsur lingkungan, semua komunitas ekologis, baik yang hidup ataupun tidak.

Secara ekologis, makhluk hidup serta bendabenda abiotis yang lain silih terikat satu sama yang lain. Sebab itu, keharusan serta tanggung jawab moral tidak cuma dibatasi pada makluk hidup namun pula pada lingkungan tidak hidup.

Etika ekosentrisme saat ini ini terkenal dengan sebutan Deep Ecology suatu sebutan yang dipublikasikan kali pertama oleh Arne Naess, seseorang filsuf Norwegianahun 1973.

Deep Ecology menuntut etika terkini yang tidak cuma berfokus pada manusia, namun berfokus pada makluk hidup total dalam kaitannya dengan usaha menanggulangi permasalahan lingkungan hidup. Etika ini tidak mengganti sama sekali ikatan antara manusia dengan manusia.

Hal yang baru yaitu, pertama, manusia serta kepentingannya bukan lagi ukuran untuk segala objek yang lain.

Manusia bukan lagi pusat dari dunia moral. Deep Ecology malah memfokuskan pada semua spesies terhitung spesies bukan manusia, singkatnya pada semua susunan kehidupan( biosfer). Kedua, kalau etika lingkungan hidup yang dibesarkan Deep Ecology didesain sebagai suatu etika efisien, yakni sebagai suatu gerakan.

Maksudnya prinsip moral etika lingkungan wajib diterjemahkan dalam aksi nyata serta konkrit. Dengan begitu, Deep Ecology menuntut banyak orang buat punya tindakan serta keyakinan yang sama, mensupport suatu gaya hidup yang selaras dengan alam, serta bersama mengupayakan isu lingkungan serta politik.

Suatu gerakan yang menunut pergantian metode pandang, nilai, serta perilaku ataupun gaya hidup.

Etika lingkungan tidak cuma suatu diskusi pembicaraan di ruang kelas, forum dialog ataupun kolokium, namun menuntut sesuatu aksi nyata yang dengan cara bersama- sama memulihkan situasi lingkungan yang hancur serta tetap menjaga keadaan yang sudah baik.

Bagaimana caranya? Pada babbab berikutnya bakal dikemukakan gimana teknik efisien melakukan etika ekosentrisme dan maupun Deep Ecology.

C. Pandangan Manusia Terhadap Lingkungannya

Pandangan manusia kepada alam lingkungan bisa dibedakan atas 2 kategori, ialah pandangan imanen( holistik) serta pandangan transenden.

Bagi pandangan holistik, manusia bisa merelaikan dirinya dengan sistem biofisik sekitarnya, kayak dengan binatang, tanaman, gunung, kali, serta lain- lain. Namun demikian, manusia tengah merasa adanya ikatan funfsional dengan faktor- faktor biofisik itu alhasil bembentuk satu kesatuan sosio- biofisik.

Kebalikannya bagi pandangan transenden, sekalipun dengan cara ekologi manusia tidak bisa terpisahkan dari alam lingkungan namun pada pandangan ini manusia merasa terpisah dari lingkungannya. Alam lingkungan cuma dianggap sebagai asal usul daya alam yang dibentuk buat dieksploitasi sebesar- besarnya buat kesejaheraan manusia.

Ini, dengan dorongan kepentingan yang rakus kepada makanan, baju, serta bermacam tuntutan hidup yang melampaui dari apa yang dibutuhkan sudah berdampak kepada kehancuran lingkungan.

Ilustrasinya, sesuatu keluarga layak mempunyai satu buah rumah, tetapi sebab ingin dianggap kaya hingga sering- kali mereka mempunyai 2 ataupun 3 buah rumah, padahal semua tidak diisi seluruhnya.

Dari rumah yang dia bangun mesti saja memerlukan papan yang ditebang dari hutan. Pohon di hutan jumlahnya menurun cuma buat mmenuhi rasa gengsi manusia tamak!.

Pandangan imanen yang diakui oleh penduduk Timur, awal mulanya terkesan kuno ataupun terbelakang namun bila direnungkan mereka lebih bersahabat dengan alam.

Peraturan para leluhurnya dijadikan sebagai norma buat melindungi lingkungan alam lingkungannya. Peraturan itu jadi kebiasaan, keharusan, tabu, serta tabu yang dengan cara langsung ataupun tidak langsung menjaga lingkungan alam. Misalnya di golongan Masyarakat Baduy( banten), terdapat beberapa Buyut atau Tabu yang wajib dijauhi oleh orang Baduy apalagi oleh orang” luar” yang kebetulan tengah berada di area Kanekes.

Pantangan tersebut yakni mengubah jalan air, merombak tanah, masuk hutan tabu, memangkas serta mengambil hasil hutan tabu, mempunyai serta mengguanakan beberapa barang pabrik yang dibikin oleh mesin( misalnya pacul serta bajak), mengganti jadwal bertani, memakai pupuk kimia, mandi gunakan sabun, menggunakan pasta gigi, menggunakan bahan bakar minyak, serta membuang sampah di sembarang tempat. Bila melanggar norma maka orang Baduy bakal diusir dari lingkungan Baduy dalam.

Proses kehancuran lingkungan berjalan secara sungguh cepat akhir- kahir ini serta membikin lingkungan bumi kian tidak aman untuk manusia, apalagi bila terus berjalan bakal bisa membuatnya tidak sesuai lagi buat kehidupan kita.

Kerusakan itu sebab kita melanggar dari norma ataupun etika lingkungan.

Buat menangani permasalahan di atas, salah satu jalannya merupakan dengan mendidik keturunan penerus dan atau mengembangkan sumber daya manusia( SDM) pengelola lingkungan yang profesional serta mempunyai komitmen buat melindungi alam.

Syarat penting buat kehandalan itu yakni kalau SDM itu sadar lingkungan yang berpaham holistis, sadar hukum, danmempunyai kemitmen kepada lingkungan. Tanpa ini, penguasaan eknologi manajemen lingkungan yang sangat mutahir pun tidak akan manfaatnya.

Apalagi dengan tumbuhnya teknologi, keahlian manusia buat mempengaruhi lingkungannya kian besar alhasil dengan kian meningkatnya teknologi, pemahaman lingkungan sepatutnya terus menjadi tinggi sebab teknologi bisa jadi ancaman kepada lingkungan.

Dalam pengembangan SDM tidak bisa dipisahkan dari kultur setempat. Budaya antroposentris yang sedang berkembangdi kalangan publik wajib diganti jadi budaya ekosentris.

Penduduk selaku pengelola lingkungan memiliki peranan buat mengatur lingkungannya dengan cakap, seperti tercantum dalam hukum Nomor. 4 tahun 1982 tentang

Ketentuan- ketentuan Pokok tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, kita hendak mencapai perkembangan yang besar dalam pengurusan lingkungan. Sebab itu prioritas pengembangan SDM seyogyanya diserahkan pada penduduk umum.

Melainkan jumlahnya yang besar pengembangan masyarakat jadi pengelola lingkungan pula merupakan hal yang penting.

Peraturan lingkungan yang digariskan oleh negara juga bakal dijiwai oleh peradaban lingkungan tersebut. Bila kita sukses membuat masyarakat berkebudayaan ramah kepada lingkungan serta memiliki komitmen yang besar, kontrol sosial yang kuat bakal bisa meningkat.

Terdapatnya kontrol sosial yang kuat, budaya malu buat tidak ramah kepada lingkungan bakal meningkat dengan sendirinya. Dengan begitu, pemimpin tidak gampang buat diajak berkongkalikong.

Para usahawan juga tidak mudah buat mengajak para pemimpin berkolusi. Masyarakat pula merasa turut memelihara serta memantau bila ada pihak tertentu menjarah hutan lindung.

Budaya cinta lingkungan haruslah dibesarkan semenjak kecil. Meski ini terlihat susah, namun beberapa hasil nyata bakal bisa diraih. Pembelajaran lingkungan semenjak dini antara lain menyesuikan anak supaya tidak membuang sampah di sembarang tempat, melainkan membuangnya di tempat sampah.

Sebagian ilustrasi lain yang bisa diajarkan yakni, antara lain, mengambil hidangan seperlunya saja serta tidak melampaui batas supaya tidak terbuang; mengajak anak berjalan kaki buat bepergian dalam jarak pendek alhasil bisa kurangi mengkonsumsi bensin serta pencemaran; menanam serta menjaga tumbuhan; mendaurulangkan sampah dengan membuat kompos; peduli kepada sikap hemat listrik, dan lain- lain.

Budaya menjaga tanaman butuh pula dikembangkan. kalangan pencinta lingkungan yang terdapat di sekolah- sekolah bisa jadi pelopor dengan membagikan contoh.

Tetapi sayangnya mereka belum melakukan begitu, apalagi banyak dari golongan mereka memanggil dirinya pencinta lingkungan sudah melakukan kebalikannya, yakni merusak lingkungan.

Misalnya, pada masa mereka melaksanakan aktivitas lintas alam, dengan mudahnya mereka memotong batang tumbuhan guna menerobos hutan serta untuk perkemahannya. perusakan tengah merajalela, misalnya mengukir nama tim dengan pisau di batang pohon.

Budaya berjalan kaki serta naik sepeda hendaknya mulai digalakan. Akhirakhir ini alat transportasi bermotor telah banyak di kota- kota serta desa- desa, Antara lain diakibatkan oleh kebijakan penguasa yang tidak mengontrol kepemilikan alat transportasi bermotor.

Selang itu, pembangunan sarana buat para pejalan kaki serta bersepeda kurang ada, akhirnya budaya ini tidak tersosialisasikan pada warga. Aspek lain yakni munculnya asumsi, kalau berjalan kaki ataupun bersepeda dikira terbelakang serta tidak bergengsi.

Tidak hanya permasalahan alat transportasi motor, kita pula belum mempunyai ketentuan penguatan hukum yang kokoh kepada perlindungan lahan terbuka. Di kota kota nyaris tidak terdapat ruang terbuka ataupun hutan kota, kebalikannya hutan yang terdapat di pinggiran pedesaan pula sudah mulai dijarah.

Bila situasi ini selalu terjadi maka akan terjadi degradasi tanah. Awalnya bakal berlangsung kerusakan tanah, berikutnya akan alami kekurangan air bersih, serta banjir pada waktu hujan. Dampak lanjutannya merupakan kehancuran perairan laut efek sedimentasi.

Rangkuman

Hubungan manusia serta lingkungan beroperasi lewat dua metode. Pada satu bagian, manusia dipengaruhi oleh lingkungan, namun pada bagian lain manusia mempunyai keahlian buat mengganti lingkungan.

Karakter ikatan itu berlainan antara satu wilayah dengan wilayah yang lain ataupun satu warga dengan warga yang lain. Dalam kaitannya dengan ikatan manusia serta lingkungan, ada beberapa paham yang memaparkan hakekat dari ikatan itu, ialah paham determinisme, paham posibilisme serta paham optimisme teknologi.

Buat menanggulangi permasalahan lingkungan hidup dewasa ini tindakan awalnya yakni dengan metode mengubah cara pandang serta perilaku manusia kepada alam dengan cara mendasar melalui pengembangan etika lingkungan.

Dengan cara teoritis, ada 3 bentuk filosofi etika lingkungan, ialah yang diketahui sebagai Shallow Environmental Ethics, Intermediate Environmental Ethics, serta Deep Environmental Ethics. Pandangan manusia kepada alam lingkungan bisa dibedakan atas 2 golongan, ialah pandangan imanen( holistik) serta pandangan transenden.