close

Dasar Ketentuan Sikap Kalangan Di Dalam Organisasi

BAB I

Pendahuluan

1.1.           Latar Belakang

Kelompok mampu atau bahkan sering terbentuk sebab masing-masing anggota mempunyai satu atau lebih karakteristik yang sama. Sering orang menyebut deretan ini selaku kelompok persahabatan. Persekutuan social yang sering dkembangluaskan dari suasana kerja, dapat didasarkan pada usia yang sama atau mempunyai persepsi politik yang serupa. Tidak ada argumentasi tunggal apa pun yang menjelaskan mengapa individu-individu bergabung menciptakan sebuah kelompok. Karena pada umumnya orang tergolong ke dalam sejumlah kalangan, jelas bahwa kelompok-kelompok yang berlainan memperlihatkan faedah yang berbeda terhadap anggotanya. Disini akan lebih lanjut dijelaskan argumentasi-alasan popular mengapa orang bergabung dan bertingkah dalam suatu kalangan.

1.2.        Tujuan

1.2.1.      Tujuan Umum

Guna memperbesar pengetahuan dan pengetahuan mahasiswa tentang perilaku berorganisasi utamanya wacana dasar dasar sikap berkelompok.

1.2.2.      Tujuan Khusus

o              Mengetahui perbedaan antara golongan formal dan informal.

o              Melatih diri untuk menyusun karya tulis ilmiah sederhana.

o              Mengidentifikasi aspek-aspek kunci dalam menjelaskan perilaku kelompok

1.3.          Batasan dilema

Dikarenakan banyaknya sub bab dari materi tentang sikap berorganisasi, kelompok kami mengkhususkan akan membicarakan sedikit banyaknya perihal dasar-dasar perilaku berkelompok. Di makalah ini kami akan menjajal menerangkan bagaimana definisi dan penjabaran kelompok, Tahap-Tahap Perkembangan Kelompok dan sebagainya.

1.4.          Metode Penulisan

Penyusunan tugas ini disusun yang bersumber pada buku-buku tentang dasar perilaku kalangan, internet , dan dari sumber berita yang lain.

1.5.          Sistematika Penulisan

Penyusunan tugas ini secara garis besar terdiri dari 4 (empat) bab, yaitu diuraikan sebagai 

        berikut:

               Bab I                     PENDAHULUAN

Pada Bab ini akan dibahas perihal latar belakang pemilihan judul, tujuan penulisan, batasan masalah, tata cara penulisan, dan sistematika penulisan.

Bab II                    TINJAUAN PUSTAKA

Pada Bab ini dibahas tentang Definisi Kelompok, Klasifikasi Kelompok, Teori Pembentukan Kelompok, Alasan Pembentukan Kelompok, Tahap-Tahap Perkembangan Kelompok, Struktur Kelompok, Sumber Daya Anggota Kelompok, dan Pembuatan Keputusan Kelompok,

Bab III   PEMBAHASAN

Pada Bab ini akan dibahas analisis studi masalah dasar sikap kalangan.

Bab IV   KESIMPULAN

Bab II

Tinjauan Pustaka

 

2.1.        Definisi Kelompok

Kelompok yaitu Suatu kumpulan orang yang satu sama lain saling bekerjasama secara teratur, selama rentang waktu dan mereka menyaksikan bahwa mereka saling bergantung perihal pencapaian satu atau lebih tujuan bersama (Wexley dan Yulk,1977).

Kelompok yakni Dua individu atau lebih, yang berinteraksi dan saling bergantung, yang saling bergabung untuk mencapai sasaran tertentu (Stephen Robbins,2003).

2.2.        Klasifikasi Kelompok

Kelompok dapat atau bahkan sering terbentuk karena masing Dasar Ketentuan Perilaku Kelompok di dalam organisasi

Gambar  2.1 Bagan Klasifikasi Kelompok

2.2.1.          Kelompok Formal

Suatu golongan desain yang ditetapkan dalam struktur organisasi yang dibentuk oleh organisasi formal yang bertujuan untuk meraih tujuan organisasi.

   Kelompok perintah

Kelompok yang terdiri dari para bawahan yang melapor langsung pada manajer tertentu. Kelompok formal ini tersusun atas Atasan dan Bawahan dan  ditentukan oleh bagan organisasi. Contoh seorang kepala sekolah dan dua belas guru yang  membentuk sebuah kalangan perintah.

   Kelompok Tugas

Kelompok yang ditetapkan secara organisasional yang melakukan pekerjaan sama untuk menyelesaikan sebuah tugas.

2.2.2.          Kelompok Informal

Aliansi atau golongan  yang tidak tersetruktur atau tidak ditetapkan secara organisasional. Kelompok ini terbentuk secara alamiah selaku suatu balasan terhadap keperluan untuk mengadakan kontak sosial.

   Kelompok Kepentingan

Kelompok yang bekerja sama untuk meraih suatu target khusus yang menjadi kepedulian bersama.

   Kelompok Persahabatan

Kelompok persahabatan merupankan kelompok yang terbentuk karena para anggota individunya memiliki satu atau lebih karakteristik yang sama. Itulah bentuk kesetiakawanan sosial yang sering kali meningkat diluar suasana kerja.

2.3.        Teori Pembentukan Kelompok

 

2.3.1.        PROPINQUITY THEORY

Teori ini menyatakan bahwa golongan terbentuk sebab kedekatan dalam ruang, atau kedekatan secara geografis.

Contoh Kasus: kalangan warga desa X yang terbentuk sebab berada di satu wilayah yang serupa.

2.3.2.        INTERACTION THEORY (George HOMANS)

  Semakin banyak aktivitas yang dikerjakan bersama :

    – semakin besar frekuensi interaksi

    – makin besar lengan berkuasa perasaan keterikatan/kebersamaan

Contoh kasus: Suatu kelompok mahasiswa terbentuk sebab banyak kegiatan yang dilaksanakan secara bersama-sama, sehingga sering terjadi interaksi dan komunikasi maka kebersamaan akan terbentuk.

·        Semakin banyak interaksi antar orang-orang tersebut :

    – bertambah banyak acara yang mereka kerjakan bersama

    – perasaan keterikatan makin berpengaruh

Contoh kasus: sebab banyaknya interaksi yang dikerjakan menyebabkan banyak aktifitas yang dijalankan hal ini condong membuat kumpulan individu ini membentuk kalangan.

·        Semakin kuat perasaan antar sesama orang  :

    – kian banyak acara bersama

    – kian banyak interaksi

Contoh masalah: sebab kecocokan minat dan adanya chemistry antar individu, menimbulkan kian banyak nya interaksi dan aktifitas yang dilaksanakan dan hal ini menjadi aspek individu membentuk sebuah golongan.

 

2.3.3.        BALANCE THEORY

Teori ini menyatakan bahwa orang saling kesengsem satu sama lainnya berdasarkan pada kesamaan perilaku dan nilai terhadap obyek-obyek dan tujuan tertentu yang berkaitan.

Contoh perkara: Dalam gambar diperlihatkan bahwa X akan kepincut pada Y, dan akan cenderung untuk berkelompok, karena adanya kesamaan perilaku dan nilai (Z).

Kelompok dapat atau bahkan sering terbentuk karena masing Dasar Ketentuan Perilaku Kelompok di dalam organisasi

2.3.4.        EXCHANGE THEORY

Teori ini mengatakan bahwa golongan terbentuk berdasarkan pada pertimbangan “cost-reward” (untung-rugi).Yang dimaksud dengan “reward” disini antara lain berupa terpenuhinya keperluan; sedangkan “cost”-nya antara lain adalah kecemasan, frustrasi, rasa aib, kecapekan.

Orang akan kepincut untuk membentuk golongan, atau untuk bergabung dalam satu kalangan, bilamana reward-nya lebih besar ketimbang cost-nya.

Contoh Kasus:

Individu X terpesona berkelompok dengan individu Y alasannya Y ialah orang populer, sehingga bila X bergabung dengan Y mungkin akan ikut populer.

 

2.4.        Struktur Kelompok

Kelompok kerja bukanlah sekumpulan individu yang tidak teratur, golongan kerja memiliki suatu struktur yang membentuk perilakku anggotanya dan memungkinkan untuk menerangkan dan meramalkan bagian besar dari sikap perorangan di dalam kelompok maupun kinerja kalangan itu sendiri.

Struktur kalangan ini antara lain: Kepemimpinan Formal, tugas, norma, ukuran kelompok, komposisi kelompok, kekohesifan, dan status kalangan.

1.            Kepemimpinan Formal

Pemimpin formal dalam kalangan lazimnya mempunyai jabatan khusus mirip manajer bab,penyelia, mandor, pimpinan proyek, kepala satuan peran,ataupun ketua komite, pemimpin ini memiliki tugas dan fungsi penting dalam kesuksesan golongan. (untuk lengkapnya akan di bahas di bagian kepemimpinan).

2.            Peran

Seseorang bisa memainkan beberapa tugas. Peran ialah acuan perilaku sesuai dengan posisi  yang di diberikan, sehubungan dengan posisi yang diberikan dalam sebuah unit sosial. Banyak diantara tugas-peran yang diemban tersebut bersifat sejalan, tetapi beberapa tugas justru menciptakan konflik. Contoh proposal penawaran khusus pada pekerjaan mengharapkan pindah kota, sementara peran sebagai istri tak mungkin mampu pindah. Dapatkan permintaan perannya sebagai pekerja diadaptasi dengan kiprahnya selaku istri ?

  Dakwah harus memiliki sasaran yang jelas, karena itu harus menggunakan metode. Berlandaskan Q.S. al-Nahl/16: 125, dijelaskan metode yang dilakukan dai berikut ini, kecuali … .

Dalam realitas hidup ternyata kita dituntut memainkan banyak peran, dikala dilingkungan pekerjaan orang-orang menuntut tugas yang berlawanan dengan ketika kita dirumah sebagai istri dan Ibu anak-anaknya.

Pemahaman perihal perilaku peran mampu disederhanakan secara dramatis kalau masing-masing dari kita memilih sebuah tugas dan memainkan secara reguler dan konsisten. Sayangnya kita diminta untuk memaikan beragam peran, baik didalam maupun diluar pekerjaan kita.

Beberapa Kesimpulan bardasarkan hasil penelitian tentang peran:

o Orang-orang nyaris ditentukan memainkan peran ganda dalam kesehariannya.

o orang-orang mempelajari tugas dari rangsangan yang diterima dari sekitarnya mirip  teman-sobat. Buku, film dan televisi.

o Orang memiliki kesanggupan berubah peran dengan cepat saat mereka menyadari bahwa situasi dan permintaan sungguh-sungguh mengharapkan pergantian yang sangat penting..

o Orang-orang sering mengalami konflik tugas dikala mendapati kriteria dari sebuah peran ialah hal yang ganjil bagi tugas yang lain.

Manfaat bagi manajer yang Memiliki Pengetahuan tentang Peran

Pengetahuan tentang peran menolong manajer saat berhubungan dengan pegawai untuk menimbang-nimbang dari kalangan mana khususnya mereka teridentifikasi pada dikala itu dan sikap apa yang diharapkan dari mereka dalam peran tersebut.

Perspektif seperti ini membuat anda lebih akurat dalam meramalkan sikap para pegawai dan menuntun anda untuk memilih apa yang terbaik untuk dilakukan dalam mengatasi suasana yang terjadi pada pegawai tersebut.  

3.            Norma

Pernahkah anda mengamati bahwa para pegawai tidak mengkritik Bos mereka didepan  lazim? Hal ini alasannya adalah adanya norma, adalah, adanya kriteria sikap yang diterima dalam sebuah golongan yang dicicipi bahu-membahu oleh para anggota kelompok tersebut.

Setiap kalangan akan membentuk serangkaian normanya sendiri-sendiri.mirip bagaimana berpakaian yang sempurna, kapan waktunya berhura-hura diterima, siapa yang patut menerima perhatian yang besar dari para manajer, seberapa keras mereka semestinya melakukan pekerjaan , bagaimana cara mereka menuntaskan perkerjan. Norma-norma ini sungguh kuat kepada kinerja karyawan secara individu.

Ketika norma ini disetujui dan diterima oleh kelompok, norma bertindak selaku alat dalam mempengaruhi sikap anggota kelompok dengan pengendalian ekternal yang minimum.

Kunci utama tentang norma adalah bahwa kelompok memakai tekanan kepada anggotanya untuk menuntun perilaku anggota tersebut semoga beradaptasi dengan persyaratan kelompok. Jika melanggar norma anggota kelompok akan bertindak untuk mengoreksinya atau menghukumnya.

4.            Ukuran

Apakah ukuran golongan mensugesti perilaku? Jawabnya pastilah, ya. Bukti memperlihatkan bahwa golongan kecil lebih cepat menuntaskan tugas dibanding kelompok yang lebih besar. Akan namun, jika kelompok tersebut sedang terlibat dalam pemecahan persoalan, kelompok yang besar secara konsisten menerima nilai yang lebih baik.

Ada beberapa parameter. Kelompok besar dengan anggota selusin memang bagus untuk mendapatkan banyak sekali input.Kaprikornus untuk menemukan fakta, misalnya, kalangan yang besar mestinya lebih efektif. Sebaliknya kalangan yang kecil lebih baik dalam melakukan sesuatu yang produktif dengan menggunakan input-input tadi.

Penemuan yang paling penting sehubungan dengan ukuran, diberi nama social loafing  (kemalasan sosial). Maksudnya yakni kecenderungan individu untuk menawarkan cuma sedikit perjuangan saat bekerja secara kolektif dibanding, bila mereka bekerja secara individu.

Contoh:

Individu A bisa mengangkat beban maks.berat 30kg. Individu B bisa mengangkat beban maks.berat 40kg. Pada ketika mereka bekerjasama, ternyata malah tidak mampu mengangkat beban 70kg, melainkan hanya 67kg à terjadi social loafing sebesar 3 kg. Social loafing dapat terjadi karena adanya social inhibition, ialah:

·        self handicapping, ialah suatu cara sedemikian rupa sehingga golongan malah merintangi seseorang untuk melakukan pekerjaan menghasilkan performansi dengan baik secara individual.

·        self conformity, yakni sebuah bentuk rintangan sosial yang membuat anggota melaksanakan sesuatu yang tidak benar alasannya adalah adanya efek- pengaruh kelompok yang tidak dapat disingkirkan, contohnya ada anggota kelompok yang terpaksa turut korupsi alasannya adalah ada tekanan dari kelompoknya agar gotong royong korupsi.              

Social loafing  terjadi disebabkan oleh adanya orang-orang yang disebut “free rider”, ialah mereka yang tidak jujur (tidak fair) dalam menyumbangkan upayanya atau kinerjanya dalam kebersamaan kerja, padahal mereka menerima sarat bagian dari laba atau hasil kelompok.

Dari observasi terungkap bahwa social loafing terjadi bilamana :

             Tugas dipandang tidak penting atau sederhana

             Anggota golongan berpikir bahwa hasil perorangan tidak mampu diidentifikasi

             Anggota golongan memandang bahwa teman yang lain juga tidak betul-betul kerjanya.

5.            Komposisi

Aktifitas golongan membutuhkan berbagai kemampuan dan wawasan.semoga menjadi lebih logis untuk menyimpulkan bahwa kelompok heterogen mungkin akan lebih memiliki kesanggupan dan gosip yang beragam dan mestinya lebih efektif diban-dingkan dengan kalangan yang homogen. Hanya saja biasanya bagian keragaman, pada permulaan saja sedikit mengganggu proses kalangan, alasannya adalah memerlukan adaptasi bagaimana cara berafiliasi melalui ketidakcocokan pendapat dan pendekatan yang berbeda untuk menuntaskan masalah.

6.            Kekohesifan (Kekompakan)

Kekompakan merupakan suatu hal penting alasannya adalah terbukti erat kaitannya dengan produktifitas kalangan. Studi secara konsisten menunjukkan bahwa relasi kekompakan dengan produktifitas tergantung pada norma kinerja yang dibangun oleh golongan tersebut.

Semakin kompak kelompok tersebut kian mengarah pada maksudnya, maka makin tinggi produktifitasnya dengan syarat disokong norma yang tinggi, tapi sebaliknya jikalau norma rendah akan menurunkan produktifitasnya.

Bagimana cara bagi manajer untuk meningkatkan kekompakan kalangan?

o   Bentuklah golongan yang lebih kecil.

o   Usahakan kelompok melakukan tujuan yang disepakati bareng .

o   Tingkatkan waktu untuk dihabiskan bersama kalangan.

o   Tingkatkan status kelompok dengan membangun citra perihal sulitnya menerima keanggotaan dalam golongan tersebut.

o   Rangsanglah kompetisi dengan kalangan lain.

o   Berikan penghargaan terhadap golongan bukan kepada anggota perseorangan.

o   Lakukan isolasi kalangan secara fisik

Hubungan antara kohesifitas, norma kinerja, dan produktivitas

Kelompok dapat atau bahkan sering terbentuk karena masing Dasar Ketentuan Perilaku Kelompok di dalam organisasi

Tabel 2.1  Hubungan antara kohesifitas, norma kinerja, dan produktivitas

Dengan adanya variabel norma kinerja yang diberlakukan dalam kelompok, walaupun kohesivitas tinggi, namun bilamana norma kinerja rendah, maka jadinya produktivitas juga rendah.

Hubungan antara Kohesifitas dengan ukuran, kepuasan, waktu, keberhasilan, penderitaan

·        Semakin besar ukuran kelompok, kian berkurang kepuasannya, kian kurang kohesivitasnya.

·        Semakin besar ukuran kalangan, makin berkurang kinerjanya

·        Semakin besar ukuran golongan, makin kurang partisipasi anggota.

·        Semakin besar ukuran kelompok, semakin besar social loafing-nya.

·         Semakin besar ukuran golongan, semakin menyusut motivasi kerjanya.

·        Semakin besar bahaya (dari luar) terhadap kelompok, kian berkembangkohesivitasnya.

  1. Sebagian Besar Aktivitas Ekonomi Yang Dilakukan Penduduk YangTinggal Di Pegunungan Adalah ….

·        Semakin lama bekerjasama dalam kelompok, kian kohesif.

·        Semakin susah menerima anggota dalam kelompok, makin kogesif golongan

·        Semakin berhasil perjuangan kalangan, kian kohesif kelompok

·        Semakin berhasil usaha kelompok, kian puas kelompok.

·        Semakin kohesif golongan, kian tinggi produktivitasnya.

·        Semakin kohesif suatu kelompok, kian solider kepada sahabat anggotanya

·        Semakin sama pandangan para anggota kelompok, makin kohesif kalangan.

·        Semakin senasib para anggota kelompok, makin kohesif kalangan

7.            Status

Status ialah pembedaan kenaikan gengsi, posisi atau peringkat dalam kelompok , status bisa ditentukan secara formal, yakni oleh oganisasi, seperti lewat titel atau gelar seperti “juara kelas berat dunia” atau “yang paling mengasyikkan”.

Dalam studi restoran klasiknya, William F.Whyte menawarkan pentingnya sebuah status. Ia memberi ide bahwa orang-orang akan bekerja lebih sopan kalau pegawai dengan status yang lebih tinggi mengawali kebiasaan sebuah langkah-langkah kepada pegawai dengan status yang lebih rendah. Dia memperoleh contoh-pola, dimana jika mereka yang memiliki status lebih rendah berinisiatif suatu tindakan, konflik akan timbul antara tata cara status formal dan informal.

2.5.        Alasan Pembentukan Kelompok

Kelompok dapat atau bahkan sering terbentuk karena masing Dasar Ketentuan Perilaku Kelompok di dalam organisasi

Tabel 2.2  Alasan Pembentukan Kelompok

2.6.        Tahap-Tahap Perkembangan Kelompok

Model 5 Tahap

Kelompok dapat atau bahkan sering terbentuk karena masing Dasar Ketentuan Perilaku Kelompok di dalam organisasi

1.            Tahap 1: Forming (pembentukan).

sifatnya masih mencari-cari atau masih banyak ketidakpastian, misalnya siapa pemimpinnya? apa tujuan yang ingin diraih?, bagaimana cara mencapainya?

Tahapan untuk memilih:

·        Keterkaitan dengan tugas, tanggung jawab masing-masing anggota

·        Tujuan/sasaran/hasil yang dikehendaki

·        Struktur dan proses golongan

·        Sosok yang akan menjadi/dijadikan pimpinan

Perasaan yang terjadi:

·        Rasa bangga terpilih/diterima dlm kalangan

·        Antisipasi tentang hal-hal yang bisa dikerjakan

·        Kecurigaan, ketakutan, dan kecemasan tentang hal-hal yang mungkin terjadi

·        Keterikatan awal dengan golongan

2.            Tahap 2: Storming (beradu pendapat)

Tahap konflik dalam golongan mirip beradu usulan alasannya perbedaan-perbedaan pandangan para anggota dalam eksistensinya dalam golongan

Hal-hal yang biasa terjadi:

·        Pemahaman yang lebih baik perihal peran dan kompleksitasnya, dan pengaruh kepada interaksi antar anggota

·        Mengembangkan posisi berlawanan (membanding-bandingkan dengan anggota lain)

·        Keragu-raguan kepada kompetensi pimpinan

·        Tingkat emosi dan ketegangan yang tinggi

·        Konflik intrakelompok yang meningkat

Perasaan:

·        Kecemburuan, keterpecahan

·        Naik-turunnya (fluktuasi) mutu hubungan

·        Berbagai perasaan cepat muncul secara bergantian

·        Perhatian berlebihan kepada beban kerja (terlalu berat VERSUS terlalu ringan)

·        Mempertanyakan keterlibatan dan akad anggota

3.            Tahap 3: Norming

pembentukan aturan yang dipakai sebagai norma sikap kalangan dan para anggotanya dalam mencapai tujuan mirip berkembangnya kekerabatan yang karib dan memperagakan kehohesifan (kekompakan).

Hal-hal yang umum terjadi:

·        Mulai bisa mendapatkan anggota-anggota lain dan menyadari tanggung jawab pribadi

·        Mulai ditemukannya norma yang sesuai untuk diterapkan, baik diungkapkan secara terbuka atau cuma disimpan dalam hati

·        Kelompok mulai mencar ilmu bagaimana cara mengurus pertentangan

·        Kompetisi “power” sudah selsai

·        Kelompok mulai menerima realita wacana perlunya dilaksanakan pergeseran

Perasaan yang biasa muncul:

·        Kelegaan karena beberapa masalah terpecahkan

·        Munculnya kembali optimisme

·        Semangat kebersamaan atau semangat yang sama di antara anggota

4.            Tahap IV: Performing (Pelaksanaan)

struktur sudah sepenuhnya fungsional dan diterima dengan baik; energi kelompok bergeser dari mencoba mengetahui satu sama lain ke pelaksanaan tugas di depan mata

Hal yang umum terjadi:

·        Mampu menempatkan dan menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh kelompok.

·        Anggota kelompok saling support satu sama lain dalam memilih sikap dalam berkelompok.

·        Kelompok fokus terhadap produktivitas kerja

·        Tujuan kalangan sungguh di prioritaskan

·        Tingginya saling ketergantungan antara anggota golongan.

Perasaan yang umum:

·        Kepuasan yang tercukupi

·        Rasa besar hati dan rileks dikala melakukan pekerjaan

·        Toleran dan pengertian antar anggota golongan

5.            Tahap V: Adjourning (Penundaan)

Selesainya pencapaian tujuan, golongan beristirahat bekerja atau bubar, terutama kelompok yang tujuannya spesifik dalam waktu yang terbatas atau sementara

Biasanya terjadi untuk peran-peran projek atau penugasan yang bersifat sementara (temporary)

Hal yang umum terjadi:

·        Perhatian kelompok terfokus pada menata kembali hasil kerja

·        Anggota kalangan mempertanyakan apakah masih akan tetap bergabung atau mencari/membentuk kelompok lain alasannya telah bergesernya prioritas kebutuhan/cita-cita

Perasan yang biasa:

·        Muncul pengelompokan perasaan:

·        Sebagian berwarna faktual: puas, optimis, dsb.

·        Sebagian berwarna kekecewaan, kekecewaan, depresi

2.7.        Sumber Daya Anggota Kelompok

Kinerja dan tingkat berpotensi suatu kalangan bergantung sebagian besar pada sumber daya yang dibawa masing-masing anggota kalangan ke kelompok itu sendiri. Dalam bagian ini ada 2 sumber daya yang penting yaitu kemampuan, dan kepribadian.

1.            Kemampuan dan Keterampilan

Keterampilan hubungan antar personal secara konsisten timbul selaku hal yang penting dalam menentukan kinerja dari suatu kalangan, kemampuan ini mencangkup administrasi konflik dan resolusi, pemecahan problem kolaboratif, dan komunikasi. Sebagai acuan, para anggota mesti mampu mengenal jenis dan sumber dari pertentangan yang melanda golongan dan mesti mengimplementasikan suatu seni manajemen resolusi untuk konflik yang sempurna.

2.            Karakteristik Kepribadian

Ciri dari kepribadian seorang individu dalam kalangan sungguh mensugesti kinerja dalam golongan, sebab hal tersebut berhubungan dengan cara bagaimana individu tersebut berinteraksi dengan anggota  kalangan yang lainnya.

Contoh: ada dua  budaya/karakteristik yang menghipnotis kinerja dalam golongan adalah kepribadian yang berkonotasi faktual yang berafiliasi dengan kekohesifan, semangat, dan produktivitas seperti kemahiran bergaul,inisiatif, keterbukaan, dan fleksibilitas. Kontras dengan hal itu ada kepribadian yang berkonotasi negatif seperti absolut, dominasi, dan ketidak transparasian.

  Puisi nasehat kehidupan (kamu berharga) lengkap video

2.8.        Pembuatan Keputusan Kelompok

·        Kekuatan

             Informasi lebih lengkap

             Meningkatkan keanekaragaman persepsi

             Keputusan lebih sempurna

             Meningkatkan penerimaan terhadap keputusan

·        Kelemahan

             Lebih lambat

             Meningkatkan tekanan untuk mengikuti keadaan

             Dominasi oleh satu atau beberapa anggota

             Tanggung jawab menjadi tidak pasti

2.9.        Pengambilan Keputusan Kelompok Individu versus Kelompok

Nilai tambah paling utama keputusan yang dibuat individu yakni efisiensi, juga mempunyai akuntabilitas yang terang, sebab individu itu sendiri yang lebih bertanggung jawab, dan condong menciptakan nilai-nilai yang konsisten, sedang keputusan kelompok bisa mengalami perjuangan kekuasaan dari dalam kelompok itu sendiri.

Bandingkan hal diatas dengan kekuatan pengerjaan keputusan golongan yang mengahasilkan isu dan ilmu wawasan yang lebih komplit, lebih banyak menerima input dalam proses keputusan. Disamping banyak input, juga dapat melibatkan keheterogenan dalam proses keputusan tersebut. Sehingga menciptakan keragaman pandangan, jadi banyak pendekatan dan alternatif yang mampu dipertimbangkan. Kelompok menciptakan mutu yang lebih tinggi dan pastinya lebih efektif.

Makara mana yang lebih baik Individu atau Kelompok? Jawabannya terperinci itu tergantung. Adakalanya itu terbaik diambil keputusan individu,  dan sebaliknya lebih diseleksi keputusan kelompok.

2.10.      Teknik Pengambilan Keputusan

1.            Interaksi kalangan

Anggota-anggota golongan saling berinteraksi satu sama lain. Dengan cara bertukar fikiran satu sama lain dan berkumpul dalam satu kawasan.

 

2.            Brainstorming

Teknik brainstorming adalah teknik untuk menghasilkan pemikiran yang mencoba mengatasi segala kendala dan kritik. Kegiatan ini mendorong hadirnya banyak ide, termasuk ide yang, liar, dan berani dengan keinginan bahwa ide tersebut dapat menciptakan pemikiran yang inovatif. Brainstorming sering digunakan dalam diskusi kelompok untuk memecahkan duduk perkara bareng .

3.            Teknik nominal golongan

Suatu sistem pengambilan keputusan golongan dalam mana anggota-anggota individual berjumpa tatap paras untuk mengumpulkan pertimbangan mereka dalam sebuah cara yang sistematik tetapi tak bergantungan

Contoh teknik ini yaitu:

·        Membuat ide-gagasan secara individual untuk memecahkan duduk perkara tertentu

·        Gagasan-ide dikumpulkan dan dicatat

·        Individu-individu tersebut berkumpul dan memilih pemikiran -ide

·        Gagasan diterangkan

·        Gagasan-ide dievaluasi

·        Kelompok meminimalisir gagasan hingga didapatkan pemecahan yang memuaskan

Teknik ini cocok dipakai untuk rapat tentang planning jangka panjang, kurang begitu cocok untuk rencana jangka pendek. Keuntungan dari teknik ini yakni setiap anggota bisa mengekspresikan pandangan tanpa adanya intimidasi dari anggota golongan yang lebih berkuasa atau yang aktif bicara.

4.            Pertemuan Elektonik

Sebuah pertemuan di mana para anggotanya berinteraksi menggunakan komputer, yang memungkinkan anonimitas(Tanpa mencantumkan nama) komentar dan bantuan suara.

Bab III

Pembahasan

 

3.1. Studi Kasus Dasar Perilaku Kelompok

 Nama Kelompok              : Dasar-Dasar Perilaku Kelompok

Institusi                               : Universitas Komputer Indonesia

Jumlah anggota                : 3 orang

Jenis Kelompok                 : Kelompok Formal, Kelompok Tugas

3.2. Analisis

Tahap Pembentukan Kelompok

1. Tahap 1: Forming (Pembentukkan)

Pada tahap yang awal ini terjadi banyaknya ketidakpastian seperti siapakah yang mau menjadi ketua golongan, apa pekerjaan yang harus dilakukan,  tujuan apa yang mesti dicapai, serta timbulnya rasa kecurigaan, dan kecemasan wacana apa yang akan terjadi di waktu yang hendak datang. Namun pada fase ini mulai adanya rasa keterikatan (Chemistry) di dalam kelompok.

2. Tahap 2: Storming (Perdebatan)

Konflik internal mulai terlihat di dalam fase ini, hal yang terjadi di dalam fase ini seperti perdebatan pembagian tugas yang harus dikerjakan oleh setiap anggota golongan, hingga adanya perilaku membanding-bandingkan dengan golongan lain, menimbulkan tantangan tersendiri untuk menuntaskan pertentangan internal dalam kelompok.

3. Tahap 3: Norming

Kelegaan timbul saat beberapa konflik atau masalah internal terpecahkan, jadinya anggota kelompok mampu memahami apa tanggung jawab masing-masing anggota, sehingga pekerjaan kelompok lebih terfokus terhadap tujuan permulaan yang akan diraih.

4. Tahap 4: Performing (Pelaksanaan)

Ketergantungan antar anggota semakin meningkat karena disinilah proses pencapaian tujuan, maka hal yang mesti diamati adalah saling support sesama anggota, dan produktifitas masing masing anggota, semoga tujuan kalangan dapat tercapai dengan sempurna.

5. Tahap 5: Adjourning (Penundaan)

Tahap ini belum tercapai karena tujuan kelompok belum tercapai.

3.3. Struktur Kelompok

1. Kepemimpinan Formal

Tentu saja meskipun memiliki anggota yang sedikit, namun golongan ini memerlukan pemimpin yang mampu memantau, mengatur, dan memberikan instruksi terhadap anggota-anggotanya dalam pencapaian tujuan kelompok.

2. Peran

Dalam hal ini, peranan dan tugas masing-masing anggota sudah dilakukan semaksimal mungkin meskipun ada terjadinya sedikit konflik pemilihan tugas, namun mampu di tuntaskan dengan baik.

3. Norma

Tidak ada norma khusus dalam kalangan ini walaupun jenis golongan ini merupakan kelompok formal, namun norma-norma khusus seperti sikap antara bawahan terhadap atasan tidak diterapkan alasannya dalam golongan ini statusnya atas dasar friendship.

4. Ukuran

Meskipun dengan ukuran yang kecil, kalangan ini bisa menuntaskan konflik dengan segera dan tuntas, hal ini menandakan teori bahwa semakin sedikit ukuran, maka kian kohesif sebuah kalangan. Dan social loafing tidak ditemukan di kalangan ini.

5. Kohesifitas

Kecilnya ukuran kelompok ini menjadi nilai plus dalam kohesifitas, tetapi ada nilai minusnya yaitu sekurang-kurangnya waktu yang tersedia mampu menjadikan turunnya kohesifitas dalam kelompok ini.

6.            Status

Tidak ada status khusus yang diberikan kepada setiap anggota di golongan ini, walaupun sumbangan status itu penting untuk memajukan motivasi kerja anggotanya.

3.4. Teknik Pengambilan Keputusan

Teknik pengambilan keputusan yang dikerjakan oleh golongan ini ialah dengan cara sederhana ialah dengan cara interaksi kalangan untuk menentukan peran dan tugas anggota serta menyelesaikan konflik kelompok.

Bab IV

Kesimpulan

Hasil dari tujuan golongan dan kinerja dari golongan itu sendiri dipengaruhi oleh beberapa aspek mirip pertumbuhan kalangan, struktur kalangan ( kepemimpinan formal,peran, norma, status, kekohesifan,komposisi,ukuran) dan pengambilan keputusan kalangan dalam menanggulangi pertentangan atau menambah wangsit atau ide. Teknik pengambilan keputusan yang dilakukan oleh golongan ini pun sederhana adalah dengan cara interaksi kalangan untuk menentukan peran dan peran anggota serta menyelesaikan konflik kalangan. Aspek diatas mesti dikelola dengan baik semoga hasil dari tujuan kelompok itu sendiri sesuai atau lebih dari yang diperlukan oleh kelompok serta anggota-anggotanya.