Alamat: Tenganan, Manggis, Karangasem, Bali 80871
Map: Klik Disini
Jam Buka: 10.00-16.00 WIB
No. Telp:–
WhatsApp:–
Daftar Isi
Harga Tiket Masuk—
HTM: Gratis
Parkir Motor: Gratis
Parkir Mobil: Gratis
Bali memang selalu mempunyai daya pikat yg mampu menciptakan siapa pun rindu untuk kembali berkunjung. Banyak sekali kekayaan yg dimiliki oleh Bali bukan hanya wisatanya saja, tetapi budaya & akhlak istiadatnya pula.
Hampir setiap wilayah di Bali mempunyai keanekaragaman budaya masing-masing, salah satunya yaitu Perang Pandan tradisi yg berasal dr Desa Tenganan. Perang Pandan atau sering disebut pula sebagai Tradisi Mekare-kare ini memang sangat unik & menarik perhatian wisatawan.
Desa Tenganan merupakan salah satu wilayah yg berada di daerah Bali Timur. Selain karena terkenal dgn tradisi Perang Pandan, Desa Tenganan pula mempunyai hasil kerajinan kain tenun khas yaitu Kain Geringsing.
Kain Geringsing yakni produksi kain tenun tradisional yg menggunakan teknik doble ikat & saat ini sudah jarang didapatkan di Bali. Selain itu Desa Tenganan pula terkenal sekali dgn salah satu desa bau tanah di Bali yg tak terpengaruh oleh budaya dr luar. Hal tersebut terbukti dr tradisi Megeret Pandan yg hingga saat ini masih terus dijalankan.
Tak sedikit turis yg tiba ke Bali sengaja berkunjung ke Desa Tenganan hanya untuk melihat pertunjukan tradisi wilayah ini. Untuk bisa menikmati pertunjukan Perang Pandan para penonton tak perlu membayar tiket alias gratis.
Pertunjukan Perang Pandan ini bisa dirasakan oleh siapa pun, baik penduduk Desa Tenganan maupun pelancong. Dengan menyaksikan budaya lokal ini ananda akan semakin jatuh hati dgn Pulau Dewata Bali.
Jalan Menuju Lokasi—
Apabila ananda tertarik ingin melihat pertunjukan tradisi budaya setempat ini maka segeralah untuk bertandang ke Desa Tenganan. Lokasinya berada di tempat Bali Timur, untuk bisa menjangkaunya ananda mampu pergi menggunakan kendaraan pribadi.
Karena lokasinya yg lumayan jauh dr sentra kota, sehingga akan lebih mudah jikalau ananda pergi menggunakan kendaraan pribadi. Kamu bisa menggunakan jasa rental mobil atau motor yg sudah cukup terpercaya.
Agar lebih mempermudah perjalananmu maka ananda bisa mengikuti petunjuk arah lewat Google Maps. Caranya ananda hanya perlu klik link iatas, lalu ikutilah arahan navigasi yg diberikan. Jarak Desa Tenganan dr Bandara Udara Ngurah Rai sekitar 67,9 kilometer dgn estimasi waktu perjalanan meraih 1 jam 45 menit.
Jadwal Pertunjukan—
Buat ananda yg kepincut ingin melihat pertujukan tradisi Desa Tenganan ini maka datanglah pada bulan Juni. Tradisi Perang Pandan ini hanya dilaksanakan setahun sekali.
Untuk tanggalnya sendiri berlainan-beda, mengikuti penanggalan/kalender Bali Aga. Pertunjukan acaranya berjalan mulai dr jam 10 pagi sampai selesai. Prosesi Perang Pandaan ini dilangsungkan selama dua hari.
Bagi para kaum perempuan mengenakan pakaian khas Tenganan berbentukkain tenun Pegeringsingan, sedangkan prianya memakai busana budbahasa madya dgn bertelanjang dada tetapi cuma memakai selendang, sarung & ikat kepala.
Durasi perang yg berlangsung setiap pertarungan hanya sekitar 1 menit saja. Suasana semakin terasa menegangkan akan diiringi pula oleh tabuhan musik gemelan, maksudnya supaya para penerima bisa lebih bersemangat mengalahkan lawan.
Kaprikornus buat ananda yg pengen lebih bersahabat dgn budaya lokal Bali, menentukan Desa Tenganan selaku destinasi liburanmu bisa jadi keputusan sempurna.
Selain bisa mengenal lebih bersahabat dgn budaya setempat setempat, ananda pula akan mencicipi serta mendapatkan pengalaman yg berharga.
Pagelaran Megeret Pandan ini dilangsungkan bertepatan dgn tradisi Upacara Ngusaba Kapat/Sasis Sembah yg diselenggarakan di depan Halaman Bale Agung.
Sejarah Perang Pandan—
Pada masa Kerajaan Beahulu ada seorang raja bernama Maya Denawa yg ketika itu melarang rakyatnya menyembah Tuhan. Raja Maya Denawa menjadikan dirinya selaku seorang Dewa yg harus disembah oleh rakyatnya.
Selain dihentikan menyembah Tuhan, Raja Maya Denawa pula melarang rakyatnya untuk menggelar program upacara keagamaan pada Dewa. Untuk menghentikan perilaku Raja tersebut risikonya Dewa Kahyangan mendelegasikan Dewa Indra untuk menyadarkan Raja Maya Denawa.
Namun usaha Dewa Indra tak sukses & menjadikan keduanya mesti berperang hingga kesannya Maya Denawa dapat dikalahkan. Cerita tersebut pula menjadi latar belakang sejarah Tirta Pura Empul di Tampaksiring, Goa Maya Denawa & Pancoran Cetik.
Karena wilayah kerajaan ini ianggap kotor, maka diselenggarakanlah upacara penyucian menggunakan seekor Kuda. Kuda yg terpilih menjadi kurban untuk acara upacara penyucian tersebut merupakan milik Dewa Indra yakni Oncesrawa.
Namun sayang, kuda putih milik Dewa Indra tersebut melarikan diri ke wilayah Karangasem yg ketika ini bernama Tenganan. Hingga pada jadinya kuda tersebut ditemukan sudah tak bernyawa di daerah Tenganan.
Dewa Indra memerintahkan para prajuritnya untuk menganugerahkan tanah tersebut semoga amis bangkai kudanya bisa tercium. Para prajurit karenanya memangkas bangkai kuda & membaginya ke beberapa titik. Karena hal inilah Dewa Indra pula membagi dirinya menjadi 6 bagian.
Oleh alasannya adalah itulah, tradisi Perang Pandaan masih terus dilaksanakan oleh desa Tenganan sebagai penghormatan pada Dewa Indra. Budaya unik seperti inilah yg menciptakan Desa Tenganan menjadi populer di kelompok para pelancong.
Manfaat Tradisi —
Perang Pandan atau Megeret Pandan merupakan salah satu tradisi budaya lokal yg memiliki manfaat atau tujuan selaku bentuk persembahan & penghormatan pada Dewa Indra & para leluhur.
Warga Desa Tenganan memiliki kepercayaan yg mayoritasnya Hindu seperti warga Bali pada umumnya. Namun warga Desa Tenganan ini tak mengenal kasta & mereka pula menyakini bahwa Dewa Indra merupakan Dewa Tertinggi.
Tentu hal tersebut berbeda dgn kepercayaan warga Bali yang lain yg mempercayai bahwa Dewa Tertinggi ialah Tri Murti, Wisnu, Siwa & Brahma.
Alat yg digunakan untuk perang ini merupakan memakai daun pandan berduri. Dimana pandan berduri tersebut diikat & dilengkapi dgn suatu perisai yg terbuat dr rotan. Pandan berduri berfungsi selaku gada sedangkan perisai rotan tersebut menjadi tameng untuk menangkis serangan lawan.
Perang Pandan ini cuma boleh dibarengi oleh para laki-laki yg sudah menginjak usia akil balig cukup akal. Rentetan proses dimulai dgn peserta mengelilingi desa dgn tujuan supaya diberi keamanan dlm perang.
Para akseptor perang bangkit berhadap-hadapan satu lawan satu. Para akseptor memegang peralatan perangnya masing-masing. Setelah wasit memberi instruksi, para penerima bisa pribadi memulai perangnya.
Salah satu keunikan dr tradisi ini yakni para penerima akan saling menggosokkan daun pandan berduri ke punggung lawan, oleh alasannya adalah itulah dinamai pula Megeret Pandan. Buat yg nyalinya ciut jangan coba-coba deh buat mencobaperang ini.
Bekas luka tabrakan daun pandan berduri tersebut nantinya akan diobati memakai ramuan tradisional yg yang dibuat dr bahan rempah-rempah mirip kunyit. Kunyit ianggap manjur untuk menyembuhkan luka gores.
Jadi itulah review singkat dr tradisi Perang Pandan, kalau pengen melihat langsung seperti apa keseruannya ananda bisa bertandang ke Desa Tenganan pada bulan Juni 2023 mendatang ya!