close

Biografi Imam Syafi’i

Biografi dan Sejarah Tokoh Islam Imam Asy-Syafi’i Dia ialah Abu Abdullah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin syafi’I bin Saib bin Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Al – Mutthalib bin Abdi Manaf bin Qushai Al-Qurasyi Al – Mathalib Asy – Syafi’i Al-hijazi Al-Makki, anak paman Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam yang bertemu silsilsilahnya dengan Rasulullah pada Abdu Manaf.
Para ulama setuju bahwa beliau lahir pada tahun 150 Hijriyah,yaitu pada tahun meninggalnya Imam Abu Hanifah Rahimahumullah.

Bahkan, ada yang menyampaikan jikalau ia lahir pada hari yang sama saat Abu Hanifah Wafat. Imam An-Nawawi berkata, ”Ketahuilah bahwa sebenarnya Imam Asy-syafi’I yakni tergolong insan opsi yang memiliki budpekerti mulia dan memiliki tugas yang sangat penting dalam sejarah islam.

Pada diri Imam Asy-Syafi’i terkumpul berbagai macam kemuliaan karunia Allah, di antaranya nasab yang suci berjumpa dengan nasabnya Rasulullah dalam satu nasab dan garis keturunan yang sungguh baik semua ini ialah kemuliaan paling tinggi yang tidak ternilai dengan bahan .

Awal belajar dan kecerdasannya

Dari Abu Nu’aim dengan sanad dari Abu Bakr bin Idris juru tulis Imam Al-Humaidi, dari Imam Asy-syafi’i, dia berkata, aku ialah seorang yatim di bawah asuhan ibuku. Ibuku tidak memiliki dana guna membayar seorang guru untuk mengajariku. Namun, seorang guru telah mengizinkan diriku untuk belajar dengannya, dikala beliau mengajar yang lain. Tatkala saya tamat mengkhatamkan Al-Qur’an, aku kemudian masuk masjid untuk mengikuti pelajaran yang disampaikan para ulama. Dalam pengajian itu,saya hafalkan hadits dan urusan-persoalan agama. Waktu itu saya masih tinggal di Makkah, di suku khif.

Akibat kemiskinanku ,saat aku melihat tulang yang ibarat papan, maka tulang itu ku ambil untuk aku gunakan menulis hadist dan beberapa urusan agama. Di kawasan kami terdapat daerah sampah, dikala tulang yang aku tulis sudah penuh, maka tulang itu saya buang disana.

Imam Al – Baihaqi dengan sanadnya dari Mus’ab bin Abdillah Az-Zabiri, ia berkata, ”Imam Asy –syafi’i memulai acara keilmuannya dengan mencar ilmu sya’ir, sejarah dan sastra. Setelah itu baru menggeluti dunia fikih.”

Sebab ketertarikan Imam Asy-syafi’i terhadap fikih bermula dari suatu dikala beliau berjalan dengan mengendarai hewan, sedang di belakangnya kebetulan sekretaris Ubay sedang mengikutinya.

  Pemberontakan APRA: Latar Belakang, Tujuan, dan Kronologi

Berangkat dari perkataan inilah, Imam Asy-Syafi’i melantunkan bait sya’ir , sehingga sekretaris Ubay memacu kendaraannya agar berlangsung lebih cepat lagi untuk menghampirinya. Ketika telah mendekat dengan Imam Asy-Syafi’i, ia kemudian berkata “orang sepertimu akan kehilangan muru’ah kalau cuma serperti ini saja. Di mana kemampuanmu dibidang fiqih?

Berangkat dari inilah Imam Asy Syafi’i , belajar ilmu fikih kepada Imam Malik bin Anas. Adz –Dzabi berkata “dari Imam Asy-Syafi’i, dia berkata “saya telah mendatangi Imam Malik, sedang usiaku baru 13 tahun, demikian menurut riwayat ini. Akan tetapi secara zhahir, kelihatannya usianya pada saat itu ialah dua puluh tiga tahun.

Baca Juga:

Sebelum mendatangi Imam Malik, saya apalagi dulu mengunjungi kerabat sepupuku yang menjabat walikota madinah. Kemudian kerabat sepupuku mengantarku ke Imam Malik, kerabat sepupuku kemudian berkata kepadaku, ”carilah seorang guna menyeleksi bacaan Al-Qur-anmu!” Lalu aku menjawab, aku mencari guru untuk membaca Al-Qur-an!Lalu, aku menghadapkan bacaanku kepada Imam Malik. Barangkali bacaanku telah jauh, akan namun ia memintaku untuk mengulanginya, sehingga aku pun mengulangi bacaan Al-Qur’anku lagi yang menjadikannya terkagum takjub, dikala saya bertanya kepada Imam Malik beberapa masalah dan dijawabnya, maka Imam Malik kemudian berkata ”apakah kamu ingin menjadi seorang hakim”

Setelah belajar terhadap Imam Malik .Imam Asy-syfi’i kemudian pindah ke yaman , dari yaman kemudian ia pindah ke Irak untuk menyibukkan dirinya dalam ilmu agama. Di Irak dia berdebat dengan Muhammad bin Al-Hasan dan ulama lainnya. di sana dia sebarkan ilmu Hadist, mendirikan madzhabnya dan menolong pertumbuhan sunnah. Hasilnya, nama dan keutamaan Imam Asy-syafi’i tersebar dan semakin diketahui hingga namanya membumbung ke angkasa memenuhi setiap dataran bumi Islam.

Sanjungan Para Ulama Terhadapnya

Abu Nu’aim Al-Hafizh berkata, ”diantara ulama terdapat imam yang sempurna, arif dan mengamalkannya, memiliki keilmuan yang tinggi, berakhlak mulia dan gemar memberi. Ulama demikian ini yaitu cahaya diwaktu gelap yang menjelaskan segala kesulitan dan ilmunya menerangi kepingan Timur hingga Barat.

Madzhabnya di ikuti oleh orang banyak,baik yang tinggal di darat maupun dilautan sebab madzhabnya didasarkan pada sunnah, atsar dan sesuatu yang sudah disepakati para sahabat Anshar dan Muhajirin, dan terambil dari perkataan imam pilihan. Ulama itu ialah Abu Abdilllah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i Al-Aimmah Al-Ahbar Al-Hijazi Al-Muthalibi.

Dari Ayyub bin Suwaid, ia berkata, ”saya tidak pernah membayangkan kalau dalam hidupku ini aku mampu berjumpa dengan orang seperti Imam Asy-Syafi’i. Ar-Razi berkata, ”sesungguhnya pujian dan pujian para ulama terhadap Imam Asy-Syafi’i sangat banyak dan tak terhitung jumlahnya.

Ibadah, Kewara’an dan Kezuh udannya

Bahr bin Nashr berkata, ”di kurun Imam Asy-Syafi’i, aku belum pernah menyaksikan dan mendengar ada orang yang bertaqwa dan wira’i melebi Imam Asy-Syafi’i. Begitu juga aku belum pernah mendengarkan ada orang yang melantunkan Al-Qur’an dengan suara yang lebih bagus darinya.”

Al – Husain Al Karabisi berkata, ”Aku bermalam bareng Asy Syafi’i selama delapan puluh malam, beliau senantiasa sholat sekitar sepertiga malam. Dalam sholatnya, aku juga tidak pernah melihatnya membaca Al-Qur’an kurang dari delapan puluh ayat, jikalau pun lebih tidak lebih dari seratus ayat, dikala membaca ayat yang berisi rahmat, maka ia selalu berdoa untuk dirinya dan orang mukmin semuanya. Dan dikala membaca ayat yang berisi adzab, maka ia selalu memohon dukungan dari Allah untuk dirinya dan orang mukmin seluruhnya. Kalau saya perhatikan, maka seolah olah rasa takut dan penuh harap berkumpul dan bersatu menjadi satu dalam dirinya.

Kedermawanan

Ibnu Abdil Hakam menyampaikan bahwa Imam Asy-Syafi’i ialah orang yang paling senang memberi kepada sesuatu yang dia miliki. Ketika ia lewat di tempat kami dan tidak menyaksikan diriku maka ia meninggalkan pesan semoga aku tiba kerumahnya. Oleh alasannya adalah itu saya sering makan siang dirumahnya.

Ketika aku duduk bersamanya untuk makan siang, maka beliau menyuruh budak perempuannya biar mengolah makanan kuliner untuk kami. Lalu ia tetap setia menanti di meja makan hingga kami selesai dari makan.Dari Ar-Rabi’ bin sulaiman, ia berkata ”ketika Imam Asy-Syafi’i sedang meniki keledai melewati pasar, maka tanpa sadar cemeti ditangannya jatuh perihal salah seorang tukang sepatu, sehingga ia pun turun mengambil cemeti dan mengusap orang tersebut. Kemudian Imam Asy-Syafi’i berkata Ar-Rabi’, ”berikan duit Dinar yang ada padamu kepadanya,” Ar-Rabi’ berkat ”Aku tidak tahu, enam atau sembilan dinar yang saya berikan terhadap tukang sepatu tersebut.

Keteguhan Mengikuti Sunnah dan Celaannya Terhadap Ahli Bid’ah

Dari Abu Ja’far At-Tirmidzi, ia menyampaikan, ”dikala aku ingin menulis kitab wacana aliran,datang datang dalam tidur saya bermimpi bertemu dengan Rasulullah. Aku bertanya terhadap beliau, ya Rasulullah, apakah aku perlu menulis aliran Imam Asy-Syafi’i ? Maka ia bersabda, ”bahu-membahu itu bukan anutan, Akan namun, itu ialah bantahan kepada orang orang yang menentang sunnah-sunnahku.

Ketika Seseorang mengajukan pertanyaan, ”Wahai Abu Abdillah, apakah kami boleh mengamalkan Hadist dari Rasulullah itu shahih dan saya tidak menggunakannya, maka aku bersaksi kepada kalian bahwa akalku sudah hilang.

  Sejarah Nabi Muhammad Saw, Mengenal Manusia Paling Mulia

Dalam peluang lain Imam Asy-Syafi’i mengatakan, ”Apabila hadist itu adalah shahih maka ketahuilah bahwa sebenarnya itu ialah mazhabku .

Syafi’i, pernah berkata, ”Seorang hamba melakukan semua jenis dosa selain syirik terhadap Allah itu masih lebih baik dibandingkan dengan hamba yang bemain-main dengan hawa nafsunya.

Kepandaiannya Berkarya dan karya-karyanya menjinjing faedah
Imam Asy-Syafi’i adalah orang pertama kali yang berkarya dalam bidang Ushul Al-Fiqh dan Ahkam Al-Qur’an. Para ulama dan cendekia terkemuka pada mengkaji karya-karya Imam Asy-Syafi’i dan mengambil faedah darinya.

Imam Asy-Syafi’i sudah menulis kitab Ar-Risalah. Padahal pada ketika itu Imam Asy-Syafi’i masih sungguh muda. Dan masih banyak lagi karya-karyanya yang lain.

Dan ia juga terpelajar dalam bersyair dan berkata mutiara, mirip:

Ilmu bukanlah sesuatu yang dihafal,namun ilmu adalah sesuatu yang ada manfaatnya.
Barangsiapa membenarkan pemikiran Allah, maka beliau akan selamat. Barangsiapa memperhatikan agamanya, maka dia akan selamat dari kehinaan.barangsiapa zuhud di dunia, maka hatinya akan ditenangkan Allah dengan menunjukkan padanya balasan yang baik.

Guru dan Murid-muridnya

Guru-guru beliau : Al-Hafiz berkata, ”Imam Asy-Syafi’i berguru terhadap muslim bin khalid Az-Zanji, Imam Malik bin Anas, Ibrahim bin Sa’ad, Sa’id bin Salim Al-Qaddah, Ad-Darawardi, Abdul Wahab Ats-Tsaqafi, dan banyak lagi yang lainnya.

Murid-murid dia : Adalah Sulaiman bin Dawud Al-Hasyimi, Abu Bakar Abdullah bin Az-Zubair Al-Humaidi, Ibrahim bin Al-mundzir Al-Hizami, Imam Ahmad bin ambal, dan yang lainnya.

Wasiat Beliau

Sesunggunya dia berwasiat terhadap dirinya sendiri dan orang yang mendengar wasiatnya ini untuk tetap menghalalkan sesuatu yang dihalalkan Allah dalam kitab-Nya dan dihalalkan oleh Nabi-Nya, dan mengharamkan sesuatu yang diharamkan dalam sunnah delegasi-Nya.

Dia adalah Abu Abdullah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin syafi Biografi Imam Syafi’i
Janganlah melebihi batasan ketentuan yang dihalkan maupun yang diharamkan tersebut dengan hal hal lain. Sesungguhnya orang orang yang melebihi batas batas ketentuan tersebut memiliki arti meninggalkan kewajiban yang ditetapkan Allah.

Sakit dan Meninggalnya Beliau

Dia menderita penyakit yang kronis, sampai sampai darahnya mengalir ketika dia sedang menaiki kenderaannya. Aliran darah itu berceceran hingga memenuhi celana ,kenderaan dan telapak kakinya .

Ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata, ”Imam Asy-Syafi’i meninggal pada malam jum’at sesudah maghrib. Pada waktu itu aku berada disampingnya. Jasadnya di makamkan pada hari jum’at sesudah ashar, hari terakhir di bulan rajab. Ketika kami pulang dari mengiringi jenazahnya kami menyaksikan hilal bulan sya’ban tahun 204 Hijriyah.

Demikian yang dapat kami paparkan sedikit tentang Biografi Imam Asy-Syafi’i. Setelah mengetahuinya, hati ini tersa rindu ingin bersamanya menikmati pemikirannya yang sempurna, pancaran kepadaiannya dan berkah kata-katanya. Wallahu a’lam bishowab.