close

Teori Generalisasi Ilmu Ekonomi Menurut Para Jago

Generalisasi-generalisasi Ilmu Ekonomi 

1. Skarsitas

Kelangkaan (skarsitas) akan barang dan jasa muncul kalau keperluan (impian) sesorang ataupun penduduk akan lebih besar dibandingkan dengan tersedianya barang dan jasa tersebut. Dengan demikian kelangkaan akan timbul kalau tidak cukup barang dan jasa tersedia untuk menyanggupi kebutuhan.

2. Produksi

Dalam metode perekonomian terbaru, berjalan aneka macam aktivitas produksi yang sangat banyak dan bermacam-macam. Dalam masyarakat agraris, aktivitas pertanian memakai pupuk, benih, tanah, dan tenaga kerja yang menghasilan beras dan jagung. Dalam penduduk industri, pabrik-pabrik modern memakai bahan mentah, energi, mesin, tenaga kerja untuk menciptakan televisi, komputer, kendaraan beroda empat, telpon dan sebagainya. Begitu juga dalam dunia perjuangan penerbangan, banyak memakai pesawat terbang, bahan bakar, tenaga kerja, dan sistem pemesanan terkomputerisasi sehingga penumpang memungkinkan untuk melaksanakan traveling ke berbagai rute penerbangan dengan metode kerja yang cepat dan terbaru.

Dengan demikian semuanya ini berupaya untuk berproduksi secara efisien atau dengan biaya yang serendah-rendahnya. Dengan kata lain mereka selalu berupaya untuk berproduksi pada tingkat output yang maksimum dengan menggunakan sejumlah input tertentu.

3. Konsumsi 

Konsumsi selalu ialah satu-satunya unsur GNP yang paling besar dari seluruh pengeluaran. Untuk itu alat pokok dalam analisis ini yaitu bagaimana mengaitkn pengeluaran untuk konsumsi dengan tingkat pendapatan disposable pelanggan. 

Akan namun perbandingan konsumsi dan pemasukan tersebut tidaklah senantiasa linier, karena ada batas suplemen duit yang dibelanjakan untuk makanan, di mana orang tidak mampu makan makin banyak dan semakin yummy terus searah dengan kenaikan pendapatannya. Maka mulai batas tersebut proporsi dari seluruh pengeluaran untuk makanpun mulai menurun atau sebaliknya kecenderungan tabungan makin menaik.

4. Investasi

Kenaikan investasi mampu mendorong kenaikan pemasukan. Proses kenaikan pendapatan selaku akhir kenaikan investasi mampu dikemukakan sebagai berikut.

Injeksi dana investasi memungkinkan produsen menghasilkan barang dan jasa yang lebih banyak. Untuk itu dia akan berbelanja aspek produksi yang lebih banyak lagi. Sebagai jadinya pendapatan yang diterima pelanggan meningkat.

Kenaikan pendapatan pelanggan tersebut akan mendorong mereka menambah konsumsi, tabungan atau keduanya.

5. Pasar

Dalam suatu sistem ekonomi pasar, tidak ada individu maupun organisasi yang secara seorang diri bertanggung jawab atas penetapan harga, bikinan, konsumsi, dan distribusi, Khusus untuk harga, yang menggambarkan janji antara orang dan perusahaan yang dengan sukarela melaksanakan pertukaran berbagai komoditas. Di samping itu harga juga merupakan sinyal bagi produsen dan konsumen. Harga juga mengkoordinasikan keputusan-keputusan para produsen dan pelanggan dalam suatu pasar. Harga-harga yang lebih tinggi cenderung meminimalkan pembelian pelanggan dan mendorong bikinan. Harga-harga yang lebih rendah mendorong konsumsi dan menghalangi bikinan. Harga yakni roda penyeimbang dari prosedur pasar.

6. Uang

Uang pada hakikatnya yaitu segala sesuatu yang mampu dipakai/diterima untuk melakukan pembayaran baik barang, jasa, maupun utang. Dengan demikian secara umum uang dapat didefinisikan selaku segala sesuatu yang secara biasa  memiliki fungsi; (1) sebagai alat tukar-menukar; (2) sebagai alat penyimpan kekayaan; (3) selaku alat pengukur nilai.

7. Letter of Credit

Sistem pembayaran yang paling aman dipandang dari sudut kepentingan eksportir dan importir ialah apa yang disebut “Letter of Credit”. Sebab dengan tata cara Letter of Credit tersebut mampu mempermudah pelunasan pembayaran transaksi ekspor, mengamankan dana yang ditawarkan importir dalam pembayaran barang impor, dan menjamin kelengkapan dokumen pengapalan.

8. Neraca Pembayaran

Suatu negara dalam mempertimbangkan tindakan guna menyeimbangkan neraca pembayaran, negara yang bersangkutan harus memfokuskan diri pada neraca transaksi berlangsung jika beliau mengharapkan berfungsinya perekonomian riil, dan (jika sedang defisit) ingin menyingkir dari penurunan terus-menerus atas nilai tukar mata uangnya

9. Bank dan Perbankani

Bank sentral pada dasarnya memiliki peran untuk memelihara supaya metode moneter bekerja secara efisien, sehingga dapat menjamin tercapainya tingkat perkembangan kredit/duit beredar sesuai dengan yang diperlukan untuk meraih perkembangan ekonomi tersebut tanpa menimbulkan inflasi yang memiliki arti. Untuk mencapai tujuan tersebut, bank sentral bertanggungjawab atas: (1) perumusan serta pelaksanaan budi moneter; (2) mengendalikan dan memantau serta menertibkan tata cara moneter.

10 .Koperasi

Beberapa masalah yang banyak terjadi kurang majunya metode ekonomi koperasi di Indonesia, kebanyakan disebabkan masih rendahnya kesadaran berkoperasi serta kurangnya etos yang berdisiplin baik di tingkat pengurus maupun para anggotanya.

11. Kebutuhan Dasar

Kebutuhan-keperluan dasar itu tidak cukup lagi didefinisikan cuma dengan mengacu kepada kebutuhan-keperluan fisik individunya saja, melainkan harus melibatkan syarat-syarat fisik serta layanan lainnya yang terperinci-jelas diperlukan oleh komunitas setempat. Penguraian keperluan dasar tersebut bergantung pada beberapa perkiraan perihal berfungsinya dan berkembangnya masyarakat.

12. Kewirausahaan

Suatu hal yang menawan untuk dikaji lebih jauh, banyak wirausahawan yang sukses yakni para pendatang atau imigran yang meskipun dengan semangat kantong kosong, anggota kelompok minoritas keagamaan yang militan jauh lebih berhasil dibanding golongan lain (Casson, 2000: 298).

13. Perpajakan

Tradisi mengeluarkan uang pajak sempurna pada waktunya selaku bagian integral dalam mentaati perundangan yang berlaku, tidaklah mudah untuk dilakukan alasannya membutuhkan sebuah tingkat kesadaran yang tinggi dan terjalin besar lengan berkuasa rasa saling yakin mempercayai antara rakyat dengan pemerintah yang ada. Namun bagi sejumlah pemerintahan yang tidak transparan, korup, dan tidak accountable akan sukar menumbuhkan kesadaran bagi rakyatnya untuk mematuhi undang-undang perpajakan tersebut.

14. Periklanan

Pengaruh periklanan, tidak lagi terbatas pada imbas-efek ekonomi, melainkan meluas ke berbagai bidang dan tidak senantiasa positif namun juga negatif. Dalam bidang komunikasi sosial, iklan juga berperan selaku lokotif komunikasi sosial. 

Ia mencoba menarik para pelanggan dengan dimensi-dimensi yang tidak berhubungan pribadi dengan penawaran khusus barang-barang tersebut, mirip dimensi identitas individual, kelurga, maupun kalangan, kepuasan/kebahagiaan, gender, dan sebagainya (Leiss: 1990).

15. Perseran Terbatas 

Badan usaha perseroan terbatas yang memiliki ciri-ciri independensi yang tinggi serta dapat mngabaikan risiko utang bagi pemilik berani berekspansi secara optimal selama masih ada pihak yang mau memperlihatkan tunjangan usahanya (Reekie, 2000: 176).

Teori-teori Ilmu Ekonomi

Teori ekonomi makro yaitu teori ekonomi yang membahas duduk perkara-persoalan ekonomi secara keseluruhan, secara besar-besaran, menyangkut keseluruhan tata cara dan organisasi ekonomi. Dalam ekonomi makro dibhas teori-teori yang bersifat biasa dari tanda-tanda-tanda-tanda ekonomi keseluruhan. Hal ini terutama menyangkut kejadian-insiden ekonomi yang berhubungan dengan tingkat harga umum; keseluruhan permintaan dan penawaran yang berkaitan dengan jumlah masyarakatdan jumlah buatan masyarakat keseluruhan. Jumlah peluang kerja dan lapangan kerja serta penempatan kerja dari seluruh tenaga kerja yang ada dalam penduduk . Makara teori ekonomi makro membicarakan keseluruhan tanda-tanda dan kejadian dalam kehidupan ekonomi, hubungannya satu sama lain baik yang bersifat kekerabatan kausal maupun kekerabatan fungsional.

Berbeda dengan teori mikro, yang merupakan suatu teori yang membahas kejadian atau hubungan-kekerabatan kausal dan fungsional antara beberapa insiden ekonomi yang bersifat khusus. Pengertian khusus di sini adalah pada kajian-kajian yang lebih terbatas (spesifik) seperti pada; orang tertentu, keluarga tertentu, perusahaan tertentu, dan sebagainya. Dengan demikian pokok kajian utama pada teori mikro tersebut terbatas pada keperluan, barang dan jasa, harga, upah, pendapatan, dari sebuah organisme ekonomi dalam lingkup rumah-tangga, keluarga ataua perusahaan (Chourmain dan Prihatin, 1994: 19).

1. Teori Ekonomi Klasik Adam Smith

Teori ini ialah karya Adam Smith yang dituangkan dalam buku An Inquiry into Nature and Causes of the Wealth of Nations (1776). Smith adalah seorang Guru besar Falsafah Moral di Universitas Glasgow yang memusatkan perhatiannya terhadap persoaan-problem umum, yaitu bagaimana menciptakan kerangka politik dan sosial yang mendorong pertumbuhan ekonomi secara swasembada (Jhingan, 1994: 138; Sastradipoera, 2001). Adapun pokok-pokok fikiran dari teori sebagai berikut:

a. Kebijaksanaan Pasar Bebas: dalam arti tercapainya sebuah keterlibatan pemerintah yang minimum untuk mencapai sebuah bentuk ‘persaingan yang sempurna’, maka secar otomatis harus bebas atau seminimal mungkin campur tangan pemerintah. Karena itu semboyannya the best government governs the least. Sebab teori berasumsi bahwa yang akan memaksimumkan pendapatan nasional yaitu “tangan-tangan yang tak kelihatan”.

b. Keuntungan, Merangang bagi Investasi; Menurut pandangan teori ini bahwa laba itu merangsang investasi. Artinya semakin besar laba, akan kian besra pula akumulasi modal dan investasi. 

c. Keuntungan Cenderung Menurun: Artinyakeuntungan tidak akan naik secara terus –menerus, tetapi cendrung menurun apabila kompetisi untuk mengumpulkan modal antarkapitalis meningkat. Alasannya adalah, dengan menaiknya upah selaku akhir persaingan antar kapitalis. Sementara upah dan sewa naik sebab naiknya harga-harga pangan. Hal ini menerima pembenaran juga dari Ricardo.

d. Keadaan Stationer; Para hebat ekonomi klasik meramalkan akan timbulnya keadaan stationer pada simpulan proses pemupukan modal. Sekali keuntungan mulai menurun, proses ini akan berlangsung terus sampai keuntungan menjadi nol, kemajuan enduduk dan pemupukan modal terhenti, dan tingkat upah mencapai tingkat kebutuhan hidup minimal.

2 Teori Tahap-tahap Pertumbuhan Ekonomi Modernisasi
Menurut Rotow Mungkin teori perkembangan Ekonomi Modernisasi yang paling terkenal yakni teori dari ekonom W.W. Rostow yang ditulis dalam bukunya The Stage of Economic Growth : A Non-Communist Manifesto (1960) dan juga dalam The Process of Economic Growth (1953), yang kajiannya secara menggunakan pendekatan sejarah dalam menjelaskan proses perkembangan ekonomi. Menurut Rostow, pertumbuhan ekonomi suatu masyarakat mencakup lima tahap kemajuan; (1) tahap masyarakat tradisional; (2) tahap prakondisi tinggal landas; (3) tahap tinggal landas; (4) tahap maturity (kematangan):; (5) tahap konsumsi massa tinggi atau besar-besaran.

a. Tahap Teadisional; Masyarakat tradisional diartikan sebagai ‘sebuah penduduk  yang strukturnya meningkat disepanjang fungsi buatan berdasarkan ilmu wawasan dan teknologi pra-Newtonian: zaman dinasti-dinasti Cina, Peradaban Timur Tengah dan tempat Mediterania, dunia Eropa pada periode pertengahan (Rostow, 1960: 5). Dalam penduduk ini pertanian masih mendominasi acara ekonomi, dan kekuatan politik biasanya masih pada penguasa tanah. Ini tidak berarti pada penduduk ini tidak ada pergeseran ekonomi. Sebenarnya banyak tanah mampu digarap, skala dan pola perdagangan dapat diperluas, manufaktur dapat dibangun dan produktivitas pertanian mampu ditingkatkan sejalan denan pertambahan pendudukk yangnyata. Namun fakta menunjukkan bahwa cita-cita untuk memakai ilmu pengetahuan dan teknologi modern secara teratur dan sistematis basih bertumbuk dengan suatu batas (pagu) yakni “tingkat output” perkapita yang dapat dicapai. Selain itu struktur sosial penduduk seperti itu berjenjang; hubunganb dan keluarga memainkan peranan yang memilih (Jhingan, 1994: 180).

b. Tahap pra-kondisi tinggal landas: Pada tahap ini ialah abad transisi di mana persyarat-prasyarat kemajuan swadaya dibangaun atau diciptakan. Di Eropa Barat semenjak tamat abad ke 15 dan permulaan kurun ke-16 menempatkan kekuatan “daypikir” (reasoning) dan “ketidakpercayaan” (skepticism) yang ialah imbas empat kekuatan (Renaissance, Kerajaan Baru, Dunia 

Baru dan Agama Baru atau Protestan), selaku pengganti “iktikad” (faith) dan “kewenangan” (authority) menuntaskan feodalisme dan menjinjing  ke kebangkitan negara kebvangsaan, menanamkan semangat pengembaraan yang yang menghasilkan berbagai inovasi dan dominannya kaum borjuasi dalam dunia usaha. Manusia-insan gres yang mau bersusah payah muncul memasuki sector ekonomi swasta, pemerintah atau dua-duanya, manusia baru yang bergairahmenggalakkan tabunbungan dan berani mengambil risiko dalam mngejar laba. Bank dan lembagai lain bermunculan untuk mengerahkan modal, sehingga investasi berkembangdi aneka macam dibidang; pengangkutan, perhubungan dan materi mentah yang memiliki pesona irit bagi bangsa lain. Jangkauan jual beli dari dalam dan mancanegara menjadi kian luas. Di mana-mana timbul perusahaan manufacturing yang memakai tata cara gres (Rostow, 1960: 6-7).

c. Tahap Tinggal Landas: Merupakan abad permulaan yang menentukan di dalam sebuah kehidupan masyarakat ketika kemajuan meraih keadaan normalnya… kekuatan modernisasi berhadapan dengan etika istiadat dan lembagalembaga. 

Nilai-nilai dan kepentingan penduduk tradisional menciptakan terobosan yang menentukan ; dan kepentingan bersama membentuk struktur masyarakat tersebut. … bahwa perkembangan umumnya berlangsung berdasarkan deret ukur, mirip rekening tabungan yang bunganya dibiarkan bergabung dengan simapanan pokok,… revulusi industri yang bertalian secara eksklusif dengan perubahan radikal di dalam metode produksi yang dalam jangka waktu relatif singkat menjadikan konsekuensi yang memilih (Rostow, 1960: 9-11).

c. Tahap Kematangan (Maturity): Rostow mendefinisikan ialah tahapan dikala masyarakat sudah dengan efektif menerapkan serentetan teknologi modern terhadap keseluruhan sumberdaya mereka. Masa ini juga merupakan sebuah tahap pertumbuhan swadaya jangka panjang yang merentang melampaui abad empat dasawarsa. Teknik bikinan baru menggantikan teknik yang usang.

Berbagai sektoir penting gres tercipta. Tingkat investasi neto lebih dari 10 % dari pemasukan nasional. Dan, perekonomian mampu menahan segala goncangan yang tak terduga. Dalam hal ini Rostow memberikan bukti-bukti simbolik kematangan teknologi pada negara-negara industri mirip; Inggeris (1850), Amerika Serikat (1900), Jerman (1910), dan Prancis (1910), Swedia (1930), Jepang (1940), Rusia (1950); Kanada (1950) (Jhingan, 1994: 187).

f. Tahap Konsumsi Masa Tinggi atau Besar-besaran: Merupakan sebuah era yang ditandau dengann pencapaian banayk sektoir penting (leading sector) dalam perekonomian berubah menuju buatan barang dan jasa konsumsi. Abad konsumsi besar-besaran juga ditandai dengan migrasi ke pinggiran kota, pemakaian kendaraan beroda empat secara luas, barang-barang pelanggan dan perlengkapan rumah tangga yang tahan lama, Pada tahap ini “keseimbangan perhatian penduduk  beralih dari penawaran ke ajakan, dari dilema buatan ke problem konsumsi dan kemakmuran dalam arti luas”. Tetapi ada tiga kekuatan yang nampak dalam tahap purna dewasa ini, adalah: Pertama, penerapan budi guna meningkatkan kekuasaan dan pengaruh melampaui batasan nasional; Kedua, ingin memiliki suatu negara kesejahteraan dengan pemerataan pemasukan nasional yang lebih adil melalui pajak progresif, kenaikan jaminan sosial, dan fasilitas hiburan bagi para pekerja; Ketga, keputusan untuk membangun pusat jual beli dan sector penting mirip mobil, rumah murah, banyak sekali peralatan rumah tangga yang memakai listrik, dan sebagainya (Jhingan, 1960: 114).

3. Teori Dampak Balik dan Dampak Sebar
Menurut Myrdal Gunnard Myrdal seorang ahli ekonomi Swedia dan pejabat pada Perserikatan Bangsa-bangsa, terkenal dengan tulisannya Economic Theory and Underdeveloped Regions (1957), dan Asian Drama: An Inquiry into the Poverty of Nations (1968), berpendapat bahwa pembangunan ekonomi menciptakan suatu proses alasannya adalah-menyebab sirkuler yang membuat si kaya menerima keuntungan makin banyak, dan mereka yang tertinggal di belakang menjadi kian terhambat. Dampak balik (Blackwash effects) condong mengecil. 

Secara kumulatif kecenderungan ini kian memperburuk ketimpangan internasional dan menjadikan ketimpangan regional di antara negara-negara udik. Sebaliknya di negara terbelakang proses kumulatif dan dsirkuler juga dikenal istilah “bulat setan kemiskinan”., berlangsung menurun, dan sebab tidak terencana menjadikan meningkatnya ketimpangan Myrdal yakin bahwa bahwa “pendekatan teretis yang kita warisi” tidak cukup menyelesaikan masalah ketimpangan ekonomi tersebut. Teori jual beli internasional dan tentu saja teori teori ekonomi secara umum, tidak pernah disusun untuk menerangkan realitas keterbelakngan dan pembngunan ekonomi (Myrdal; 1957).

Tesis Myrdal, ia membangun dari sebuah keterbelakngan dan pembangunan ekonominya di sekeliling ketimpangan regional pada taraf nasional dan internasional. 

Untuk itu ia menerangkan hal-hal sebagai berikut:

a. ‘Dampak Balik’, ialah semua pergeseran yang bersifat merugikan dari perluasan ekonomi sebuah tempat, sebab sebaba-sebab di luar daerah itu, atau juga mampu disebut pengaruh migrasi. Yang merupakan perpindahan modal dan jual beli serta keseluruhan dampak yang muncul dari proses-proses karena=musebab sirkuler antara faktor-aspek ekonomi dan nonekonomi.

b. Sedangkan ‘Dampak Sebar’ menunjuk pada imbas saat-saat pembangunan yang menyebar secara sentrifugal dari pusat pengembangan ekonomi ke wilyah-daerah yang lain. “Sebab utama ketimpangan regional adalah kuatnya efek balik dan lemahnya imbas sebar di negara-negara bodoh.

c. Ketimpangan Regional; terjadi lebih banyak berakar pada dasar non-ekonomi yang berkaitan akrab dengan sistem kapitalis yang dikendalikan oleh motif keuntungan, di mana terpusat di daerah-wilayah (negara-negara) yang memiliki harapan laba tinggi. Penyebab gejala ini oleh peranan bebas kekuatan pasar yang condong memperlebar ketimpangan regional. Karena bikinan, industry, perdagangan, perbankan, asuransi, perkapalan cenderung menghadirkan laba bagi wilayah maju (Myrdal, 1957: 26).

d. Dampak balik dan imbas sebar ini dalam laju perkembangannya tidak mungkin berjalan sebanding. Karena pertama, ketimpangan regional jauh lebih besar di negara-negara miskin ketimbang di negara-negara kaya. Kedua, di negara-negara miskin ketmpangan regional makin mlebar sedangkan di negara maju menyempit. Hal ini disebabkan oleh semakin tinggi tingkat pembangunanekonomi yang telah dicapai sebuah negara, lazimnya makin berpengaruh pula imbas sebar yang mau terjadi. Mengingat pembangunan tersebut diikuti oleh transportasi dan komunikasi yang semakin baik, tingkat pendidikan makin tinggi dan semakin dinamis antara ide dan nilai yang kesemuanya condong memperkuat daya-sebar sentrifugal tesebut dan cenderung melunak hambatan-hambatannya. Dengan demikian sekali sebuah negara sukses mencapai tingkat pembangunan yang tinggi, pembangunan ekonomi akan menjadi sebuah proses yang berlangsung otomatis. Sebaliknya, sebabutama keterbelakangan terletak pada lemahnya pengaruh sebar, kuatnya efek balik, sehingga dalam proses yang makin menggumpal kemiskinan itu ialah penyebab yang berasal dari dirinya sendiri.

e. Peranan pemerintah; Kebijaksanaan nasional sering memperburuk ketimpangan regional, khususnya oleh peranan kekuatan pasar bebas dan akal liberalsebagai akhir lemahnya imbas sebar. Faktor lain yang ialah penyebab ketimpangan regional di negara miskin ialah “forum feudal yang kuat dan forum yang lain yang tidak egaliterserta struktur kekuasaan yang menolong si kaya menghisap si miskan (Myrdal, 1957: 28).

Oleh alasannya itu pemerintah negra ndeso, harus menerapkan kebijaksanaan yang adil dan egaliter.

f. Ketimpangan Internasional; Pada umumnya perdagangan internasional menguntungkan negara kaya dan memperlemah negara udik. Sebab negara maju/kaya memiliki basis industri manufaktur yang besar lengan berkuasa dengan pengaruh sebar yang berpengaruh pula. Denngan mengekspor produk industri mereka yang merah ke negara kolot, mereka akan mematikan industri slkala kecil. Ini condong mengganti negara kolot menjadi produsen barang0barang primer untuk ekspor. Mengingat ajakan akan barang-barang ekspor inelastic (di pasar ekspor), maka mereka menderita akhir fluktuasi harga menggila. Sebagai konsekuensinya mereka tidak mampu mengambil untung dari naik turunnya harga barang di dunia ekspor.

g. Perpindahan modal; juga gagal menghapuskan ketimpangan internasional.

Karena negara maju lebih menjanjikan keuntungan dan jamninan bagi para penanam modal, maka modal akan makin menjauhkan diri dari negara terbelakang.

Modal yang mengalir ke negara bodoh diarahkan sebagian besar terhadap produksi barang primer untuk ekspor, dan ini akan merugukan mereka alasannya adalah imbas balik yang kuat. Apapun yang diinvestasikan pihak aneh, akan memajukan imbas balik yang domain serta tidak menjadi pemecah duduk perkara dalam ketimpangan internasional (Jhingan, 1994: 274).

4. Teori Nilai Surplus Karl Marx 

Karl Marx adalah seorang filosof Jerman (1818-1883) yang di mata para ekonom Barat yakni seorang agitator yang telah menghidupkan persatuan kelompok kaum buruh dan intelektual selama lebih dari seabad yang telah merasa dirugikan oleh kapitalisme pasar dan sekaligus selaku penjerumus ekonomi ke abad kegelapan baru Kemudian ia merusak ikatan kapitalisme dan mengoyak-oyak dasar-dasar sistem kebebasan natural Adam Smith (Skousen, 2005: 163-164).

Sesuai dengan sub-judul di atas, pada kajian teori ”Nilai surplus” di sini tidak akan dibahas tentang peranan Karl Marx di bidang filsafat sejarah, politik, maupun komunisme, serta alienasi. Adapun pokok asumsi yang dituangkan Marx dalam teori nilai surplus tersebut, dapat dikemukakn sebagai berikut:

1. Jika tenaga kerja yakni satu-satunya penentu nilai, lalu ke mana profit dan bunganya? Marx menyebut profit profit dan bungany itu sebagai “nilai surplus”.

2. Oleh alasannya adalah itu beliau berkesimpulan bahwa kapitalis dan pemilik tanah yakni pihak yang mengeksploitasi para pekerja.

3. Jika semua nilai yakni produk dan tenaga kerja, maka semua profit yang diterima ialah oleh kapitalis dan pemilik tanah pastilah ialah “nilai surplus” yang diambil secara tidak adildari pendapatan kelas pekerja.

4. Adapun rumus matematisnya untuk teori nilai surplus tersebut, mampu dikemukakan selaku berikut: “Bahwa tingkat prpit (p) atau eksploitasi ialah sama dengan nilai surplus (s) dibagi dengan nilai produktif simpulan (r). Dengan demikian:

p = s/r

Misalkan; andaikata pabrik busana memperkerjakan buruh untuk menciptakan baju. Sedangkan kapitalis memasarkan bajunya serga $ 100 per/buah, namun ongkos tenaga kerja yaitu $ 70 per / baju. Karena itu tingkat profit atau eksploitasinya adalah:

p = $ 30 / $ 100 = 0,3, atau 30 persen

5. Marxmembagi nilai produk tamat menjadi dua bentuk kapital (modal) ialah kapital konstan (C) dan kapital varibel (V). Kapital konstan merepresentasikan pabrik dan peralatan. Kapital yakni ongkos tenaga kerja.

Kaprikornus, persamaan untk tngkat profit menjadi:

p = s (v c)

5. Teori Monetarisme Pasar Bebas Friedman

Milton Friedman lahir pada 1912 di Brooklyn, satu-satunya anak laki-laki dari empat bersaudara imigran Yahudi Eropa Timur bekerja serabutan di New York. Pada tahun 1932 ketika frustasi Friedman mampu beasiswa untuk belajar ekonomi di University of Chicago.. Di samping ia betemu dengan rekannya George Stigler seumur hidupnya, ia juga di Chicago bertemu Rose Director, yang kelak menjadi istrinya. Dan, tahun 1938 Friedman menikah dengan Rose, mereka menjadi rekan dan bahu-membahu menulis beberapa buku, serta dikaruniai dua anak. Friedman mendapat gelar master tahun 1933. Kemudian tahun 1946 Friedman menemukan gelkar Ph.D. dari Columbia, dan beliau kembali mengajar di University of Chicago, bahkan melanjutkan tradisinya memperkuat versi terbaru dari teori kuantitas duit Irving Fisher, yang diterapkannya pada kebijakan moneter. Dia menulis banyak topik yang berkaitan dengan ekonomi moneter, dan berpuncak pada riset dan tulisan empirisnya yang palin populer, ”A Monetary History of the United States 1867-1960” yang dipublikasikan oleh National Bureau of Economic Research dan ditulis bareng Anna J.Schwartz (1963). Pada intinya studi monumental ini memberikan kekuatan uang dan kebijakan moneter dalam gejolak perekonomian Amerika Serikat, tergolong Depresi Besar dan masa pascaperang, dikala para ekonom arus utama percaya bahwa ”duit tidak penting”.

Kemudian ia juga menulis buku Capitalism and Freedom yang diluncurkan pada ulang tahun perkawinan Friedman dan Rose ke-25.

Inti teorinya selaku berikut:

  1. Metodologi Positivisme; menurut Friedman validitas suatu teori tidak tergantung pada bagian generalisasinya maupun kekokohan asumsi-asumsi dasarnya, melainkan semata-mata pada kesesuaian implikasi-implikasinya secara relatif terhadap implikasi teori-teori lain, yang diukur berdasarkan statistik primer.
  2. Pasar dianggap selaku mekanisme utama dalam menyelesaikan banyak sekali problem ekonomi, asalkan disokong keleluasaan politik intelktual ; para ekonom fatwa Chicago melihat perekonomian selaku sebuah kondisi perlu , namun bukan ondisi cukup untuk menciptakan penduduk bebas; 
  3. Aturan moneter yang ketat lebih digemari untuk pengambilan keputusan yang diskret oleh otoritas pemerintah. ”Setiap sistem yang memberi banyak kekuasaan dan banyak keleluasaan bagi segelintir orang di mana kekeliruan mereka entah itu disengaja atau tidak bisa menimbulkan efek yang luas yaitu sistem yang jelek” (Friedman, 1982: 50).
  4. Ia lebih menekankan pada kebijakan moneter. Q, kuantitas duit jauh lebih penting dibandingkan dengan P. ”Opininya yang segar dan sangat berbeda” dengan opini Fisher dan Simons datang mirip ”kilatan datang-tiba”, baginya ”aturan dari sudut pandang kuantitas duit jauh lebih unggul, baik itu untuk jangka pendek maupun jangka panjang, dibandingkan dengan hukum dari sudut pandang stabilisasi harga” (Friedman, 1969: 84).
  5. e. Pengelolaan administratif dan intervensi kebijakan ekonomi yang bersifat ad hoc cuma akan merusak suasana ekonomi; dalam soal kebijakan moneter dan fiskal, dia menekankan pentingnya kesinambungan;
  6. Ia menolak standar emas sebagai numeraire moneter dengan dua argumentasi. Pertama, biaya resources-nya yang tinggi, dan kedua implementasinya yang tidak mudah. Selain itu buatan emas jarang mampu mengimbangi perkembangan ekonomi dan karena itu bersifat deflasioner. ”Betapa absurdnya menyia-nyiakan sumber daya untuk menggali tanah mencari emas, hanya untuk menguburkannya lagi di kolong Fort Knox, Kentuky”.
  7. Monetarisme jauh lebih baik dibandingkan dengan fiskalisme dalam regulasi makroekonomi.
  8. Kebijakan fiskal baginya diyakini selaku wahana yang sempurna untuk mengentaskan kemiskinan, tetapi redistribusi pendapatan bagi kalangan di atas garis kemiskinan justru akan lebih banyak menjadikan kerugian, serta;
  9. Imperialisme disipliner yang menonjolkan penerapan analisis ekonomi oleh para ekonom kepada semua bidang yang lazimnya dianggap selaku disiplin lain/luar mirip sejarah, politik, aturan, dan sosiologi.
  Catatan Pengalaman Menjadi Panitia Diklat Training Shalat Tepat