close

Pengelolaan Kelas

PENGELOLAAN KELAS 


1.      Pengertian Pengolaan Kelas
Menurut Drs. Winarno Hamiseno pengelolaan adalah substantifa dari mengorganisir. Sedangkan mengurus adalahsuatu langkah-langkah yang dimulai dari penyusunan data, merencana, mengorganisasikan, melakukan sampai dengan pengawasan dan evaluasi.[1]
Dari uraian tersebut mampu ditarik kesimpulan bahwa pengelolaan yakni
penyelenggaraan atau pengurusan semoga sesuatu yang dikontrol dapat berjalan dengan lancar.
Selajutnya pemahaman kelas sendiri, menurut Hadari Nawawi kelas  dapat dipandang dari dua sudut yaitu :
1.      Kelas dalam arti sempit yaitu, ruangan yang dibatasi oleh empat dinding, tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses belajar mengajar.
2.      Kelas dalam arti luas adalah, sebuah masyarakat kecil yang merupakan bagian dari penduduk sekolah, yang selaku satu kesatuan diorganisasi menjadi unit kerja yang secara dinamis menyelenggarakan aktivitas acara berguru mengajar yang inovatif untuk mencapai satu tujuan. [2]
Pengelolaan kelas berdasarkan beberapa jago diantaranya adalah:
Made Pidarta dengan mengutip pendapat Lois V Johson dan Mary A Bany, bahwa pengelolaan kelas ialah proses seleksi dan penggunaan alat
alat yang sempurna kepada problema dan suasana kelas.
Sudirman N, dkk, pengelolaan kelas ialah kesanggupan guru atau wali kelas dalam mendayagunakan potensi kelas.
Hadar Nawawi, pengelolaan kelas yakni kesanggupan guru atau wali kelas dalam mendayagunakan kesempatankelas berupa sumbangan peluang
yang seluas-luasnya pada setiap personal untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang inovatif dan terarah.
Suharsimi Arikunto, pengelolaan kelas yakni suatu perjuangan yang dikerjakan oleh penanggung jawab acara berguru mengajar atau yang menolong dengan maksud agar dicapaikondisi maksimal sehingga mampu terealisasi kegiatan belajar mirip yang diharapkan.[3]
Menurut Djamarah & Zaini secara sederhana pengelolaan kelas berarti aktivitas pengaturan kelas untuk kepentingan pengajaran. Sedangkan menurut mulyasa pengelolaan kelas ialah kemampuan seorang guru untuk  membuat keadaan iklim pembelajaran yang aman dan mengendalikanya kalau terjadi gangguan dalam pembelajaran.[4]
Usaha guru dalam menciptakan kondisi dibutuhkan akan efektif kalau : Pertama, dikenali secara sempurna faktor-faktor yang mampu menunjang terciptanya kondisi yang menguntungkan dalam proses belajar mengajar.
Kedua, diketahui problem-persoalan yang diperkirakan dan biasanya timbul dan mampu merusak iklim berguru mengajar. Ketiga, dikuasainya banyak sekali pendekatan dalam pengelolaan kelas dan dimengerti pula kapan dan untuk persoalan mana suatu pendekatan dipakai.
Dari pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan pengelolaan kelas ialah
suatu perjuangan yang dilakukan oleh penyelenggara atau penanggung jawab acara mencar ilmu mengajar atau yang membantu dengan maksud supaya diraih kondisi maksimal sehingga mampu terealisasi aktivitas berguru mengajar yang diperlukan.
Kemudian Menurut Made Pidarta untuk mengurus kelas secara efektif perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1.      Bahwa kelas yakni sekelompok kerja yang diorganisasikan untuk tujuan tertentu yang dilengkapi oleh peran-peran yang diarahkan oleh guru
2.      Dalam situasi kelas, guru bukanlah tutor untuk satu anak pada waktu tertentu, tetapi bagi seluruh anak dan kelompok.
3.      Kelompok mempunyai perilaku sendiriyang berlawanan dengan perilaku masing-masing individu dalam kalangan tersebut.
4.      Kelompok kelas menyisipkan pengaruhnya terhadap individu. Pengaruh yang buruk mampu dibatasi mampu  dibatasi oleh perjuangan guru dalam membimbing mereka dalam kelas.
5.      Praktek guru waktu belajar cenderung berpusat pada kekerabatan guru dan siswa. Makin meningkat keahlian guru mengelola secara kalangan kian puas individu dalam kelas.
6.      Struktur golongan, contoh komunikasi dan kesatuan kalangan ditentukan oleh cara mengurus, baik untuk mereka yang tertarik pada sekolah maupun yang apatis, abad terbelakang, dan berselisih. [5]
2.      Tujuan Pengelolaan Kelas
Tujuan yang diniatkan dalam setiap aktivitas belajar mengajar, baik yang sifatnya instruksional maupun tujuan pengiring akan mampu diraih secara maksimal bila mampu diciptakan dan dipertahankan kondisi yang menguntungkan bagi peserta didik. Akan tetapi acara atau tujuan kelas tidak akan mempunyai arti jika tidak diwujudkan menjadi sebuah bentuk kegiatan.[6]
Tujuan pengelolaan kelas pada hakekatnya sudah tergantung dalam tujuan pendidikan, secara umum tujuan pengelolaan kelas yaitu menyediakan fasilias dari bermacam-macam acara mencar ilmu siswa dalam lingkungan social, emosional, dan intelektual dalam kelas. Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa belajar dan bekerja, terciptanya situasi social yang menawarkan kepuasan,  suasana disiplin, pertumbuhan  intelektual, emosional, dan sikap serta apresiasi.
Tujuan pengelolaan kelas ialah semoga setiap anak dikelas mampu melakukan pekerjaan dengan tertib sehingga secepatnya tercapai tujuan pengajaran secara efisien dan efektif. Sebagai indikator dari sebuahkelas yang efektif adalah apabila:
a.       Setiap anak terus melakukan pekerjaan , tidak macet, artinya tidak ada anak yang terhenti alasannya tidak tahu akan tugasnya yang mesti dikerjakan atau tidak dapat melaksanakan peran yang diberikan kepadanya.
b.      Setiap anak terus melaksanakan pekerjaanya tanpa mencampakkan waktu. Artinya, setiap anak akan bekerja segera biar lekas menyelesaikan peran yang diberikan kepadanya. Apabila ada anak yang meskipun tau dan mampu melakukan tugasnya, tetapimengerjakanya kurang kasar dan mengulur waktu bekerja, maka kelas tersebut dikatakan tidak tertib.
3.      Komponen Dalam Pengelolaan Kelas
a.       Kondisi fisik.
Kondisi fisik daerah berlangsungnya mencar ilmu mengajar mempunyai imbas yang Sangat signifikan terhadap hasil belajar mengajar. lingkungan fisik yang dmaksud yakni:
1)   Ruangan kawasan berlangsungnyaproses belajar mengajar
Ruangan daerah berlangsungnyabelajar mengajar mesti memungkinkan siswa bergerak leluasa. Tidak berdesak-desakan dan saling mengganggu antara peserta latih yang satu dengan yang
lainya. Besarnya kelas akan Sangat tergantung padaberbagai hal antara lain: jenis aktivitas, apakah kegiatan tatap paras dalam kelas ataukah dalam ruang praktikum, jumlah peserta ajar yang melakukan kegiatan-aktivitas bareng akan berbeda dengan kegitan dalam kalangan kecil. Apabila ruangan tersebut memakai hiasan, pakailah hiasan yang memiliki nilai pendidikan yang dapat secara langsung mempunyai daya sembuh bagi pelnggar disiplin. Misalnya dengan kata-kata yang baik, ajuan-proposal, gambar tokoh sejarah dan sebaginya.
2)   Pengaturan kawasan duduk
Pengaturan tempat duduk akan Sangat menghipnotis kelancaran proses belajar mengajar. Dalam menertibkan daerah duduk yang paling terpenting adalahmemungkinkan terjadinya tatap muka, semoga guru mampu sekaligus menertibkan tingkah laku penerima asuh. Beberapa pengaturan daerah duduk antara lain: Berbaris, pengelompokan yang terdiri antara 8 sampai 10 orang, setengah ligkaran, berupa bundar, individual yang umumnya terlihat diruang baca, diperpustakaan, atau diruang praktek laboratorium, tersedianya ruang yang sifatnya bebas dikelas disamping kursi daerah bduduk yang dikontrol. Dengan sendirinya penataan kawasan duduk ini diatur sesuai dengan kebutuhan.
3)   Ventilasi dan pengaturan cahaya
Ventilasi mesti cukup menjamin kesehatan peserta latih, jendela harus cukup besar sehingga memunginkan panas cahaya matahari masuk. Usahakan udara yang masuk sehat lewat ventilasi yang bagus sehingga peserta ajar bisa menghirup udara yang sehat, mampu menyaksikan goresan pena dengan terang,
4)   Pengaturan dan penyimpanan barang-barang
Barang-barang hendaknya disimpan pada kawasan khusus yang gampang dijangkau jikalau segera dibutuhkan yang hendak depergunakan bagi kepentingan belajar mengajar. Tentu saja problem pemeliharaan barang- barang tersebut akan sangat penting, dan secara periodik harus di cek dan di recek. Hal yang tak kalah pentingnya yakni penjagaan barang-barang tersebut dari pencurian, penjagaan kepada barang yang gampang terbakar atau meledak.
b.      Kondisi Sosio- Emocional
Howes dan Herald (1999) menyampaikan pada intinya, kondisi ini ialah bagian yang menciptakan seorang menjadi terpelajar memakai emosi.[7] Lebih lanjut ia mengatakan bahwa emosi manusia itu terletak pada daerah hati, naluri yang tersembunyi, dan sensasi emosi yang kalau diakui dan dihormati, dapat menyediakan kondisi yang bagus untuk dirinya sendiri dan orang lain.
c.       Kondisi Organizational
Kegiatan berkala yang secara organizational dilakukanbaik tingkat kelas maupun pada tingkat sekolah akan mampu menghalangi duduk perkara pengelolaan kelas. Dengan aktivitas yang jelas dan dikelola dengan dikomunikasikanya terhadap semua akseptor bimbing secara terbuka sehingga terang pula bagi mereka dan akan menjadikan tertanam pada diri setiap akseptor asuh kebiasaanyang baik dan keteraturan tingkah laris.
d.      Masalah Pengelolaan Kelas
Masalah pengelolaan kelas dapat dikelompokan menjadi dua klasifikasi adalah duduk perkara perorangan dan dilema kelompok.[8]
Meskipun kadang-kadang perbedaan antara kedua kalangan itu hanya merupakan perbedaan tekanan saja. Tindakan pengeloaan kelas seorang guru akan efektif jika dia mampu mengidentifikasikan dengan sempurna hakikat duduk perkara yang sedang dihadapi, sehingga pada giliranya ia dapat memilih taktik penanggulangan yang tepat pula.
4.      Tindakan Dalam Pengelolaan Kelas
a.       Tindakan Preventif
Tindakan pengelolaan kelas adalahtindakan yang dikerjakan oleh guru dalam rangka penyediaan kondisi yang optimal agar proses berguru mengajar berlangsung efektif. Tindakan guru tersebut dapat berupa tindakan pencegahan ialah dengan jalan menyediakan kondisi baik fisik maupun sosia-emosional sehingga terasa benar akseptor didik rasa kenyamanan dan keselamatan untuk mencar ilmu.[9]
Tindakan lain dapat berupa tindakan korektif terhadap tingkah laris penerima didik yang menyimpangdan merusak kondisi maksimal bagi proses belajar mengajar yang sedang berlangsung.
b.      Melakukan tindakan korektif
Dalam kegiatan pengelolaan tindakan sempurna dan secepatnya sangatlah dibutuhkan. Dimensi tindakan ialah kegiatan yang semestinya dilakukan guru bila terjadi duduk perkara pengelolaan. Guru yang bersangkutan dituntut untuk berbuat sesuatu dalam menghentikan tindakan akseptor latih secepat dan sedini mungkin.
c.       Melakukan langkah-langkah penyembuhan (kuratif)
Pelanggaran yang kadung dilaksanakan oleh peserta latih perlu ditanggulangi dengan tindakan penyembuhan baik secara individual  maupun kelompok.

  Program Kegiatan Penilaian Tengah Semester (Pts)

[1] Suharsimi Ari Kunto, Pengelolaan Kelas Dan Siswa Sebuah Pendekatan Evaluatif, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1996), hlm 8

[2] Hadari Nawawi, Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas, (Jakarta : PT. Haji Mas Agung, 1989)  hlm 116

[3] Suharsimi Arikunto, Pengelolaan Kelas Dan Siswa(Jakarta : Raja Grafindo 1996),hlm  67

[4] Martinis Yamin, Maisah, Manajemen Pembelajaran,     hlm 34

[5] Syaiful Bahri Djamarah, Asuan Zain, Strategi Belajar Mengajar(Jakarta : Rineka Cipta 2006) 214

[6] Ahmad Rohani dan Abu Ahmadi , Pengelolaan Pengajaran, (Jakarta : PT. Rineka Cipta,1995), hlm 132

[7] Zaim El-Mubarok, Membumikan Pendidikan Nilai, Mengumpulkan Yang TerserakMenyambung Yang Terputus Dan Menyatukan Yang Tercerai(Bandung : Alfabeta CV, 2008),hlm122

[8] Ahmad Rohani, Pengelolaan Pengajaran, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2004), 125

[9] ibid