Masyarakat Madani Kajian Komprehensif

Pengertian Masyarakat Madani Kajian Komprehensif Para Ahli

Pengertian Masyarakat Madani
Sumber Gambar: Wikimedia

Masyarakat madani adalah istilah yang mulai muncul dan terkenal pada awal 90-an khususnya di Indonesia, meskipun masih jarang terdengar di telinga orang awam.

Awal berkembangnya konsep masyarakat madani adalah dari ilmu pengetahuan Barat, lalu sempat menghilang dalam perdebatan wacana sosial modern, tapi mulai muncul kembali dekade 80-an saat negara-negara di Eropa Timur bergejolak karena reformasi.

Memahami konsep madani ini agak pelik karena istilah yang digunakan masih dalam perdebatan, beberapa kalangan berargumen bahwa masyarakat madani adalah sama dengan civil society, sementara yang lain sebaliknya.

Baca Juga: Pengertian Masyarakat Multikultural

Adalah Anwar Ibrahim orang yang memperkenalkan sekaligus menterjemahkan istilah madani menjadi civil society di Indonesia, saat sinposium ilmiah tanggal 26 September 1995 di Istiqlal.

Pengertian Masyarakat Madani Menurut Para Ahli

Aristoteles

Civil Society menurut Aristoteles adalah sistem kenegaraan (koinonia), yaitu; sebuah komunitas politik tempat masyarakat berpartisipasi langsung dalam percaturan ekonomi, politik dan pengambilan keputusan.

John Locke

Civil Society menurut John Locke yaitu ketika masyarakat bisa merealisasikan kemerdekaannya dari kekuasaan elit yang memonopoli kekuasaan dan kekayaan dengan membentuk pemerintahan sipil yang terwujud melalui demokrasi parlementer, karena keberadaan parlemen merupakan wakil pengganti otoritas para raja.

Jack Rosseau

Civil Society menurut John Jack Rosseau adalah mengajak manusia untuk terlibat menentukan masa depannya serta mengikis habis monopoli kaum elit yang berkuasa untuk kepentingan umat manusia.

Anwar Ibrahim

Anwar Ibrahim memberi penjelasan makna masyarakat madani, yaitu sistem sosial yang asasnya adalah prinsip moral dimana ada jaminan keseimbangan antara kestabilan masyarakat dengan kebebasan individu.

Anwar Ibrahim menterjemahkan civil society menjadi masyarakat madani karena adanya konsep kota Ilahi, kota peradaban atau juga masyarakat kota. Pemikiran ini merupakan pemaknaan dari konsep al-Mujtama’ al-Madani-nya Naqwib al-Attas.

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Anwar_Ibrahim

Hikam

Penggunaan civil society sebagai pengganti istilah masyarakat madani ditentang oleh Hikam. Hikam berargumen bahwa istilah ini cenderung sudah “dikooptasi” negara karena dikenali sebagai masyarakat ideal, sebagaimana pernah terdengar “masyarakat pancasila”.

Istilah masyarakat madani secara khusus dipopulerkan para pemikir Islam yang punya kecenderungan memonopoli suara kalangan Islam (Hikam).

Perlu diingat, Hikam berpandangan soal masyarakat madani saat presiden Suharto masih berkuasa, jadi mungkin beliau mencurigai para pemikir Islam ini sedang melakukan gerakan politik.

Konsep Madani menurut Hikam adalah yang secara sukarela ikut terlibat menetapkan tujuan hidup bersama serta menjungjung nilai-nilai hukum yang sudah disepakati.

Di sisi lain pemikir Islam seperti Nurcholish Madjid dan Dawam Raharjo cenderung sepakat dengan penyamaan istilah masyarakat madani dengan civil society.

Nurcholish Madjid

Masyarakat Madani diambil dari kata “Madinah” akar kata bahasa Arab “Madaniyah” yang artinya peradaban. Itu artinta Masy madani adalah masyarakat yang beradab.

Rujukan utama istilah masyarakat madani berasal dari peradaban ummat Islam yang dibangun oleh Nabi Muhammad di Madinah, daerah tersebut asalnya bernama Yastrib kemudian diubah menjadi Madinah, yang hakekatnya adalah pernyataan niat membangun masyarakat yang berperadaban, berlandaskan ajaran Islam dan ummat yang bertaqwa pada Allah SWT (piagam madinah).

Dawam Rahardjo

Masyarakat madani merupakan masyarakat yang perkembangannya lebih tinggi, lebih lanjut ia menjelaskan yaitu masyarakat yang punya sistem kelembagaan serta mekanisme yang bisa menjamin langengnya upaya masyarakat itu sendiri untuk secara mandiri memelihara iman dan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar.

Suseno

Mengutip Hegel, Suseno berpendapat bahwa masy. madani adalah kumpulan individu yang bermasyarakat diluar sistem primordial seperti keluarga atau kenalan pribadi yang berdinamika saling berkerja sama untuk mencapai tujuan tertentu sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman.

Penutup

Masyarakat madani merupakan konsep bewayuh wajah, banyak makna, tidak akan cukup dijelaskan secara ringkas.

Saya memahaminya sebagai konsep ideal tentang bagaimana seharusnya masyarakat memajukan dirinya dengan cara aktifitas partisipatif dalam ruang gerak dimana Negara tidak melakukan intervensi.

Jika digali lebih lanjut mungkin konsep madani ini terkait pula dengan konsep demokrasi partisipatif, karena demokrasi yang ideal adalah tumbuh pada masyarakat.

Baca Juga: Partisipasi Masyarakat Menurut Para Ahli

Silahkan komentar ya.

Sumber yang bisa anda baca:

 

{ Add a Comment }

Pola Kehidupan dan Karakteristik Masyarakat Perkotaan

Pengertian masyarakat kotaRemove term: karakter masyarakat kota karakter masyarakat kotaRemove term: karakteristik masyarakat perkotaan karakteristik masyarakat perkotaan
Ilustrasi Masyarakat Perkotaan. Sumber Gambar: Unsplash.com

Pola Kehidupan dan Karakteristik Masyarakat Perkotaan

Kehidupan masyarakat tergantung dari jenis Community dimana ia berada. Masyarakat kota sebagai Community, seperti pula masyarakat pedesaan, adalah suatu kelompok teritorial di mana penduduknya menyelenggarakan kegiatan-kegiatan sepenuhnya.

Baca Juga: Pengertian Masyarakat Perkotaan

Sosiologi membagi Community atas jenis rural, jika anggota masyarakatnya bersifat relatif sedikit dan bermata pencaharian agraris dan jenis urban jika jumlah warganya relatif banyak dan mata pencaharian utama perdagangan atau industri.

Masyarakat perkotaan sering disebut urban Community. Pengertian masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat kehidupannya serta ciri-ciri kehidupannya. Kondisi-kondisi yang diperlukan bagi suatu kota (urban/city) ada enam : (1) pembagian kerja dalam spesialisasi yang jelas; (2) organisasi sosial lebih berdasarkan pekerjaan dan klas sosial dari pada kekeluargaan, (3) lembaga pemerintahan lebih berdasarkan teritorium daripada kekeluargaan; (4) suatu sistem perdagangan dan pertukangan; (5) mempunyai sarana komunikasi dan dokumentasi; (6) berteknologi yang rasional. Makin besar kota makin tegas ciri-ciri tersebut.

Masyarakat kota adalah suatu kelompok terorganisasi yang tinggal secara kompak di wilayah tertentu dan memiliki derajat interkomunikasi yang tinggi. Sehubungan ini Borgardus menunjuk pada latar belakang yang berupa kegiatan berdagang dan berindustri sebagai yang pokok.

Para warganya menempati suatu lingkungan buatan di mana teknologi membantu segala tata cara kerjanya. Masyarakat kota menarik karena pemakaian kendaraan bermotornya, keserbatergesa-gesaanya dan gangguan jiwa yang dideritanya. Masyarakat kota acap kali meragukan sikap hemat, percaya kepada diri sendiri dan kepuasan kerja merupakan dasar dar kesejahteraan bangsa.

Masyarakat kota sebenarnya merupakan produk dari kekuatan sosial yang bersifat kompleks. Hal ini tergantung dari sejarah perkembangan kota yang bersangkutan. Mungkin kota tersebut berlatar belakang kemajuan pertanian, perdagangan, pemerintahan, politik dan sebagainya.

Perkembangan masyarakat kota didorong oleh banyak faktor. Di antaranya;

  1. Pertambahan penduduk kota itu sendiri sudah menambah gengsi kepada warganya. Kontrak sosial antara manusianya yang beraneka itu bersifat mengharuskan. Tanpa itu manusia akan merasa hidup terpencil.
  2. Penemuan mesin dan tenaga uap ditambah lagi dengan penggunaan modal besar dalam usaha dagang dan industri menciptakan pabrik-pabrik besar. Ini menarik banyak tenaga kerja dari daerah pertanian melalui tingginya upah dan aneka jaminan sosial. Akhirnya produksi massal dari industri kota itu sendiri mendorong perkembangan kota lanjut.
  3. Peranan transportasi dan komunikasi besar di kota. Dua itu yang menjamin kekompakan kehidupan masyarakat kota. Jika itu macet maka segala kegiatan akan lumpuh.
  4. Kesempatan untuk maju dan berhasil lebih banyak tersedia di kota dibandingkan dengan di desa.
  5. Kota menawarkan fasilitas kesehatan dan pendidikan yang cukup sebagai sarana kenaikan jenjang sosial. Ilmu dan seni memenuhi kebutuhan manusia.
  6. Pengisian waktu senggang tersedia cukup, demikian pula berabagai hiburan dan olahraga.

Talcott Parsons.  mendeskripsikan tipe masyarakat kota yang diantaranya memiliki ciri:

  1. Netral Afektif, Masyarakat Kota Memperlihatkan sifat yang lebih mementingkan Rasionalias dan sifat rasionalitas ini erat hubungannya dengan konsep Gesellschaft atau Association. Mereka tidak mau mencampuradukan perasaan pada umumnya dengan hal-hal yang bersifat rasional, itulah sebabnya tipe masyarakat itu disebut netral dalam perasaannya.
  2. Orientasi Diri, Manusia dengan kekuatannya sendiri harus dapat mempertahankan dirinya sendiri, pada umumnya dikota tetangga itu bukan orang yang mempunyai hubungan kekeluargaan dengan kita oleh karena itu setiap orang dikota terbiasa hidup tanpa menggantungkan diri pada orang lain, mereka cenderung untuk individualistik
    Universalisme, Berhubungan dengan semua hal yang berlaku umum, oleh karena itu pemikiran rasional merupakan dasar yang sangat penting untuk universalisme.
  3. Prestasi, Mutu atau prestasi seseorang akan dapat menyebabkan orang itu diterima berdasarkan kepandaian dan keahlian yang dimilikinya.
  4. Heterogenitas, Masyarakat kota lebih memperlihatkan sifat heterogen, artinya terdiri dari lebih banyak komponen dalam susunan penduduknya.

Menurut Ramdani,  Ada beberapa ciri dan pola yang menonjol pada masyarakat kota yaitu:

  1. Kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa.
  2. Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain. Hal yang penting adalah manusia perorangan atau individu.
  3. Pembagian kerja di antara warga-warga kota lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata.
  4. Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota dari pada warga desa.
  5. Interaksi yang terjadi lebih banyak terjadi berdasarkan pada faktor kepentingan dari pada faktor pribadi.
  6. Pembagian waktu yang lebih teliti dan sangat penting, untuk dapat mengejar kebutuhan individu.
  7. Perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata di kota-kota, sebab kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh dari luar.

Menurut Soejono Soekanto,  Masyarakat Kota memiliki karakteristik atau ciri khas sebagai berikut:

  1. Heterogen
  2. Perilaku yang dilandasi oleh konsep pengandalan diri dan kelembagaan
  3. Perilaku yang berorientasi pada rasionalitas dan fungsi
  4. Mobilitas sosial, sehingga dinamik
  5. Kebauran dan diversifikasi kultural
  6. Birokrasi fungsional dan nilai-nilai sekular
  7. Individualisme

{ Add a Comment }

Strategi Pengembangan Masyarakat Miskin

Strategi-strategi yang digunakan dalam metode pengembangan masyarakat sebagai upaya peningkatan dan pengembangan kapasitas masyarakat miskin adalah sebagai berikut:
a. Strategi pemecahan masalah dimaksudkan untuk mengajak warga masyarakat miskin melihat dan menyadari permasalahan yang dihadapi kemudian mendiskusikan bersama bagaimana cara mengatasi masalah tersebut. teknik motivating dan supporting bisa digunakan untuk membangkitkan kepercayaan diri (self-reliance) mereka, sebagai unsur penting yang harus dikembangkan dalam meminimalisasi dampak negatif budaya kemiskinan tadi.
b. Konfrontasi, merupakan strategi mengonfrontasikan masyarakat miskin dengan permasalahan yang dihadapi. strategi ini dimaksudkan untuk dapat menimbulkan kesadaran menggalang kesatuan dan kekuatan mereka untuk bertindak dalam menangani masalah tersebut.
c. Membangun kelembagaan baru, yaitu membangun lembaga-lembaga dalam masyarakat dengan menggunakan sumber Daya masyarakat setempat, dimana masyarakat miskin diintegrasikan ke dalam lembaga tersebut. lembaga-lembaga yang berkaitan dengan peningkatan pendapatan masyarakat miskin senantiasa ditumbuhkembangkan misalnya  lembaga ekonomi produktif (LEP), kelompok usaha bersama (KUBE), wirausaha baru  (WUB) pemberdayaan ekonomi kecil, koperasi Baitul Mal, dll. jika di lingkungan masyarakat sudah ada lembaga tetapi tidak berfungsi maka yang harus dilakukan adalah bagaimana mengaktifkan kembali lembaga tersebut.
d. Pengembangan dan peningkatan keterampilan hidup (life skill) dengan mengajarkan cara-cara atau alat-alat dalam perubahan yang direncanakan.
e. Terapi pendidikan, yaitu strategi untuk mengikutsertakan masyarakat miskin dalam suatu program penanggulangan kemiskinan, biasanya dalam bentuk latihan-latihan, saling bekerja sama secara demokratis, dan belajar untuk menilai dan menghargai kerjasama tersebut. Strategi ini akan memperkuat pemerintah pada tingkat lokal mendorong proses pembangunan serta menimbulkan perasaan sebagai anggota masyarakat dalam suatu kesatuan.

 

SUMBER TULISAN: Buku Pengembangan Masyarakat

 

{ Add a Comment }

Tingkatan Pemberdayaan Masyarakat

tingkatan pemberdayaan masyarakat

Pola pikir pembangunan yang acapkali meletakkan pemerintah pusat menjadi sumber segala-galanya harus segera dirubah. Semestinya masyarakatlah yang jadi aktor utama (pelaku) dalam pembangunan.

Kekuasaan dan kepemimpinan sejatinya ada di tangan masyarakat, karena dengan begitu derajat dan tingkat keberdayaan masyarakat akan berjalan dengan optimal.

Baca Juga:

Menyadari itu, maka seorang pendamping masyarakat (fasilitator) mesti memahami tingkatan pemberdayaan masyarakat, Susila Diharti menggambarkan tentang pemberdayaan masyarakat menjadi lima tingkatan:

1. Tingkat keberdayaan pertama, kebutuhan dasar manusia dan komunitas terpenuhi. Seperti sandang, pangan dan papan (basic need).

2. Tingkat keberdayaan kedua, masyarakat memiliki akses dan penguasaan yang adil terhadap berbagai sistem sosial serta sumber-sumber yang diperlukan.

3. Tingkat keberdayaan yang ketiga, masyarakat manyadari akan beraneka ragam potensi serta kelemahan yang ada pada diri dan lingkungannya.

4. Tingkat keberdayaan yang keempat, masyarakat mampu ikut aktif berpartisipasi dalam beragam kegiatan yang bermanfaat baik bagi dirinya maupun lingkungan yang lebih luas.

5. Tingkat keberdayaan yang kelima adalah masyarakat mampu mengendalikan diri sekaligus mengorganisasi dan mengatur lingkungan hidupnya.

Langkah-langkah dalam meningkatkan pemberdayaan komunitas masyarakat

Dalam memaksimalkan derajat serta tingkat keberdayaan komunitas masyarakat, sebagai fasilitator maka perlu diambil langkah-langkah yang terorganisir beruntun dan simultan, antara lain:

1. Dirasa perlu untuk membantu terlebih dahulu kelompok masyarakat yang paling rentan tidak berdaya (miskin).

2. Menyadarkan masyarakat akan potensi diri, kekuatan dan kelemahan sekaligus memahami lingkungannya.

3. Membentuk atau menguatkan institusi sosial yang ada di tingkat lokal

4. Mengupayakan penguatan kebijakan, pembentukan dan pengembangan jaringan kerja atau usaha.

Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Community_development

{ Add a Comment }

Beda Komunisme vs Sosialisme Vs Kapitalisme

Sosialisme dan komunisme
Bapak Komunisme Karl Marx – Sumber freegreatpicture.com

Pengertian komunisme itu ideologi politik dengan sistem ekonomi yang bertujuan mencapai dunia utopia di mana semua alat produksi dikuasai rakyat dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan bersama secara adil dan merata, semua orang bekerja demi kesejahteraan bersama tanpa insentif; nggak ada lagi yang namanya uang, nggak ada perbedaan kelas kaya-miskin, nggak ada pemerintah, nggak ada negara. Hanya ada satu dunia yang makmur damai sejahtera.

Keren kan? Makanya banyak orang jatuh cinta dengan konsep komunisme. Tapi ini mimpi yang nggak realitis, paling nggak di zaman ini, negara-negara komunis semua berjatuhan ketika berusaha mencapai tujuannya. Belum pernah ada negara di dunia yang pernah mencapai komunisme, semua ambruk di tengah jalan dan yang bertahan, seperti China, harus memodifikasi sistem mereka.

Sedangkan pengertian sosialisme itu adalah komunisme versi lebih realistis. Sistem ekonomi di mana alat produksi dikuasai oleh rakyat dan keuntungan dibagikan sesuai dengan kontribusi individu dalam masyarakat; meritokrasi. Kebutuhan dasar semua orang dipenuhi lewat sarana publik sehingga orang bisa bekerja tanpa khawatir, mis: sandang, pangan, papan, edukasi, kesehatan, transportasi, dll. Prinsip sosialisme bisa diterapkan di negara manapun tanpa harus berideologi komunisme, bahkan di negara sarang kapitalis seperti UK dan US, beberapa undang-undangnya mengadopsi sistem sosialisme.

Sementara pengertian kapitalisme itu sistem ekonomi di mana perdagangan, industri dan alat-alat produksi dikuasai oleh segelintir pemilik modal dan bertujuan untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Pendapatan negara kita itu terbesar se-Asia Tenggara loh, bahkan masuk 20 besar di dunia, sekitar USD 870 milyar/tahun. Nah duit sebanyak itu cukup buat memakmurkan rakyat sebenernya, tapi hampir semua duit tersebut masuk ke kantong boss-boss konglomerat para pemilik modal (dan koruptor yang membantu mereka). Makanya di negara ini bisa ada pemulung yang mengais di bak sampah, sementara di sisi lain ada boss konglomerat yang punya Ferari.

Para boss-boss ini yang empunya pabrik-pabrik gede dengan jutaan karyawan, di Indonesia ada sekitar 120 juta buruh. Meskipun para boss ini duitnya gak bakal abis 20 turunan, tapi mereka kasih upah pas-pasan aja buat pegawai. Cuma cukup buat makan sama nyicil motor. Kenapa kasih upah kecil? Pertama, karena mereka manusia serakah. Kedua, agar para karyawan bergantung sama mereka. Kalo gaji kamu pas-pasan, pertengahan bulan sudah habis, kamu harus kerja banting tulang sampai dapet gaji lagi akhir bulan, terus abis lagi di pertengahan bulan. Begitu terus, muter kayak hamster lari di roda, kerja terus sampe kamu tua atau dipecat. Kamu sudah jadi budak.
Tinggal pilih yang mana?

Sumber: https://ask.fm/KeiSavourie

{ Add a Comment }

7 Pengertian Partisipasi Masyarakat Menurut Para Ahli

Ilustrasi Partisipasi Masyarakat

Partisipasi masyarakat mempunyai mempunyai definisi yang beragam, simak pengertian partisipasi masyarakat menurut para ahli dibawah ini:

1. Dalam KBBI partisipasi artinya turut berperan serta dalam sebuah kegiatan; keikutsertaan; peran serta.

2 . Adanya keikut-sertaan masyarakat dalam sebuah proses pemberdayaan ataupun pembangunan, masyarakat ikut terlibat dari tahap penyusunan program, perencanaan proses, perumusan kebijakan, sampai pengambilan keputusan (Mubyarto: 1997).

3. Sulaiman (1985:6) menjelaskan bahwa partisipasi sosial masyarakat merupakan keterlibatan aktif warga masyarakat baik perorangan, kelompok, ataupun kesatuan masyarakat dalam proses membuat keputusan bersama, merencanakan dan melaksanaan program serta usaha pembangunan dan pelayanan kesejahteraan sosial di dalam maupun di luar lingkungan masyarakat, yang mendasarinya adalah kesadaran akan tanggung jawab sosial.

4. Isbandi (2007: 27), partisipasi masyarakat adalah keikutsertaan masyarakat baik dalam proses mengidentifikasi permasalahan, maupun potensi yang ada di sekitar masyarakat.
Meliputi proses memilih dan mengambil sebuah keputusan, baik alternatif solusi untuk menangani masalah, maupun proses pelaksanaan mengatasi masalah, serta keterlibatan dalam hal mengevaluasi perubahan yang terjadi.

5. Mikkelsen (1999: 64) menjelaskan pengertian partisipasi dengan membagi ke dalam enam bagian yaitu:

  1. Partisipasi merupakan kontribusi sukarela masyarakat kepada sebuah proyek tanpa ikut terlibat dalam pengambilan keputusan;
  2. Partisipasi adalah proses membuat “peka” masyarakat yang tujuannya meningkatkan keinginan untuk menerima serta menanggapi proyek-proyek pembangunan;
  3. Partisipasi merupakan keikutsertaan sukarela masyarakat dalam sebuah proses perubahan yang ditentukan oleh mereka sendiri;
  4. Partisipasi juga berarti proses aktif yang terbuka dimana tiap orang atau kelompok yang terkait agar mengambil inisiatif serta mendayagunakan kebebasannya untuk ikut terlibat;
  5. Partisipasi masyarakat yang diartikan sebagai sosialisasi yaitu dialog antar masyarakat setempat dengan para pelaku pembangunan yang melakukan persiapan, pelaksanaan, monitoring proyek. Yang tujuannya memperoleh informasi mengenai konteks lokal, dan dampak-dampak sosial;
  6. Partisipasi adalah keterlibatan langsung masyarakat dalam upaya pembangunan diri, kehidupan, serta lingkungan mereka.

6. Partisipasi dipahami dengan sudut pandang yang berbeda, yaitu sebagai suatu “insentif moral” yang membantu kelompok marjinal dalam merundingkan “insentif-insentif material” yang baru bagi mereka, juga sebagai terobosan yang memperbolehkan rakyat kecil mendapatkan solusi dan ikut serta di level makro pembuatan kebijakan (Goulet, 1990: 134).

7. Marshall Wolfe dalam (Goulet, 1990: 135) mendefinisikan partisipasi masyarakat sebagai kerja terorganisir yang tujuannya meningkatkan peranan pengendalian sumber daya dan lembaga regulatif di dalam masyarakat tertentu, khususnya bagi berbagai kelompok atau organisasi yang sampai sekarang tidak pernah diikutsertakan dalam proses pengendalian.

Masyarakat diberi kesempatan untuk ikut berpartisipasi dalam semua kegiatan yang ada, mulai proses pengidentifikasian akar masalah, daftar pemecahan yang bisa diambil, pemilihan satu dari beragam tindakan, penggorganisasian serta pelaksanaan, evaluasi dalam tahap pelaksanaan, hingga perdebatan kualitas mobilisasi atau organisasi yang berkelanjutan. (Goulet, 1990: 138-139).

Pihak yang mempolori sebuah program partisipasi bisa berasal dari penguasa/pemerintah atau para ahli, masyarakat maupun pihak ketiga dari luar. Jika berasal dari pemerintah/aparatur, maka umumnya disertai dengan kontrol sosial tertentu melalu proses dan pelaku partisipasi. Pembangunan dari sebuah sistem non-demokratis (Mis: Saudi-Arabia) biasanya masih memperbolehkan partisipasi dalam tingkat mikro (pemecahan masalah) yang tidak mengganggu aturan atau ketentuan pada tingkat makro (Goulet, 1990: 137-139).

Partisipasi ideal (sempurna) umumnya sulit ditemukan pada tataran praktis, yaitu partisipasi yang dimulai dari tingkat bawah (masyarakat) kemudian berkembang ke tingkat atas (kebijakan), menuju bidang-bidang yang makin meluas yaitu pembuatan keputusan. Bentuk partisipasi ideal umumnya diprakarsai ataupun disetujui, oleh masyarakat non-elit yang berkepentingan saat awal-awal dalam urutan keputusan (Goulet, 1990: 141).

Kesimpulan:
Memperhatikan beragam pengertian partisipasi masyarakat yang dikemukakan diatas, dapat saya simpulkan bahwa yang dimaksud partisipasi masyarakat adalah sebuah proses melibatkan masyarakat, yang tidak hanya saat proses pelaksanaan kegiatan semata, namun mulai dari perencanaan, pengembangan, pelaksanaan sampai evaluasi program. Sifatnya terbuka dan sukarela, termasuk juga menikmati hasil pelaksanaan program tersebut.

Baca Juga: Masyarakat Madani

{ Add a Comment }

Pengertian Masyarakat Pesisir

pengertian masyarakat pesisir
Ilustrasi masyarakat pesisir
Foto diambil dari flickr.com

Pengertian masyarakat pesisir pantai, menurut Siti Aminah dimana istilah yang distribusikan kepada kelompok masyarakat yang tinggal di tepi pantai atau berdekatan berdekatan dengan laut, sebagaimana masyarakat pesisir Sumba, Palembang, Manado, dan lain-lain.

Pada dasarnya istilah masyarakat pesisir sering diidentikkan dengan penyebutan masyarakat nelayan, hal ini disebabkan karena mayoritas dari pekerjaan masyarakat pesisir adalah nelayan.
Adapun pengertian dari nelayan sebagaimana didefinisikan oleh Dirjen Perikanan (Kusnadi, 2006:2), yang disebut nelayan adalah orang yang secara aktif melakukan pekerjaan dalam operasi penangkapan binatang atau tanaman air dengan sebagian atau seluruh hasilnya untuk dijual.

Terkadang masyarakat pesisir (Costal Community) juga diterjemahkan dengan ciri-ciri utama tidak memproduksi barang ataupun jasa terentu, biasanya berupa perahu dengan sistem ekonomi yang hirarki seperti ada juragan kapal, tengkulak, buruh, nelayan, tradisional. (Soetandyo Wignyosoebroto, 2005:143).

Wilayah pesisir merupakan wilayah peralihan daratan dan lautan yang sangat kompleks, dimana terjadi pertemuan antara dua ekosistem yang saling mempengaruhi yakni darat dan laut. Soegiarto dalam Dahuri (1996) mendefinisikan wilayah pesisir sebagai kawasan peralihan (interface area) antara ekosistem laut dan darat baik kering maupun terendam yang masih mendapat pengaruh sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut, perembesan air laut dengan ciri vegetasi yang khas. Kemudian kearah laut mencakup batas terluar dari daerah paparan benua (continental shelf) dengan ciri perairan yang masih dipengaruhi dengan proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi, penggundulan hutan, dan pencemaran.

{ Add a Comment }