Masyarakat Multikultural – Pengertian dan Karakteristiknya

Remove term: pengertian masyarakat multikultur menurut para ahli pengertian masyarakat multikultur menurut para ahliRemove term: masyarakat multikultur masyarakat multikulturRemove term: karakteristik masyarakat multikultur karakteristik masyarakat multikulturRemove term: contoh masyarakat multikultur contoh masyarakat multikultur
Gambar: Indahnya perbedaan di Indonesia. Sumber: Twitter

Masyarakat multikultural, barangkali anda sering mendengar dan membaca istilah ini di media televisi atau media online. Sebetulnya apa sih masyarakat multikultural itu?

Multikultural terdiri dari dua kata, yaitu multi dan kultural. Dalam kamus bahasa Indonesia multi artinya lebih dari satu, sedang kultural adalah hal yang bersifat kebudayaan. Multikultural berarti beragam kebudayaan.

Jika demikian maka masyarakat multikultural adalah masyarakat yang memiliki aneka macam kebudayaan?

Untuk lebih memahaminya, sebaiknya kita simak pengertian masyarakat multikultural di bawah ini:

A. Pengertian Masyarakat Multikultural Menurut Para Ahli

Azyumardi Azra

Beliau menyebutkan bahwa masyarakat multikultural adalah pandangan tentang keberagaman dunia, kemudian diejawantahkan menjadi aneka kebijakan yang menekankan penerimaan realitas plural dan keberagaman hidup masyarakat.

Pada akhirnya multikulturalisme diyakini sebagai salah satu pandangan dunia (way of life) yang harus terwujud dalam kesadaran berpolitik.

J.S. Furnivall

Mengatakan bahwa masyarakat multikultural sebagai kumpulan berbagai elemen komunitas, yang di dalamnya hidup secara sendiri- sendiri, tanpa pembauran sama sekali antar satu dengan lainnya, namun ada rasa saling menghargai, meski berbeda pandangan ekonomi, sosial dan politik.

Suparlan

Mendefinisikan multikulturalisme menjadi satu ideologi yang mengutamakan dan mengakui adanya perbedaan, tapi perbedaan itu memiliki derajat yang sama antar satu dengan lainnya, baik pada tataran individu maupun level kebudayaan.

Menurut beliau, konsep multikulturalisme tak bisa diserupakan dengan konsep masyarakat majemuk, karena ada penekanan titik kesederajatannya.

J.Nasikun

Menurut Prof Nasikun multikultural mesti bersifat majemuk, masyarakat multikultur mempunyai subkebudayaan yang beraneka-ragam, ditandai dengan berkembangnya nilai yang sudah disepakati semua anggota masyarakat.

B. Karakteristik dan Ciri Masyarakat Multikultural

Seorang pakar sosiologi bernama Pierre L. Va den Berghe mengemukakan karakteristik dan ciri masyarakat multikultural, yaitu dengan ciri sebagai berikut;

1. Segmentasi kelompok.

Adanya segmentasi dalam kelompok sub-budaya yang berbeda (Primordial). Masyarakat multikultural tersegmentasi (terbagi-bagi) dalam komunitas-komunitas kecil yang berdasarkan agama, suku dan ras masing-masing.

Meski masih dalam lingkungan kerja yang sama, dalam pergaulan sehari-hari di luar lingkunan kerja, biasanya satu individu lebih memilih bergaul (hang out) dengan orang satu ras atau agama yang sama.

Dengan kata lain, masyarakat multikultural tampak hidup bersama, padahal dalam kesehariannya, sering memilih bersahabat dengan komunitas dari daerah atau komunitas mereka saja, alasannya karena lebih mudah berkomunikasi serta punya ikatan batin yang sama.

2. Punya lembaga yang lebih tinggi dari lembaga formal

Karakteristik masyarakat multikultural tak hanya punya lembaga formal yang wajib ditaati, lebih dari itu masyarakat berciri multikultur memiliki lembaga informal non-komplementer yang wajib ditaati.

Umumnya, ketaatan pada lembaga non-komplementer melebihi penghormatan pada lembaga formal, hal tersebut dipengaruhi kepemimpinan tokoh yang bisa menggerakan warga secara emosional (lebih dekat).

3. Kurang berkembangnya konsensus

Masyarakat multikultural mempunyai berbagai jenis ras, agama dan etnik. Hal ini menimbulkan persepsi, kebiasaan, dan pengetahuan yang berbeda satu dengan lainnya. Agak sulit mendapatkan kesepakatan nilai atau norma yang jadi dasar pijakan bersama karena perbedaan-perbedaan tersebut.

4. Penegakan aturan yang bersifat memaksa

Masyarakat yang multikultur bisa terintegrasi secara sosial ketika dibangun oleh aturan yang sifatnya memaksa. Aturan-aturan ini perlu demi menjaga keharmonisan bersama sekaligus melindungi kaum minoritas. Kalaupun tidak begitu, integrasi sosial terjadi karena ada rasa saling ketergantungan secara ekonomi.

5. Dominasi politik kelompok mayoritas

Mesti diakui, dalam masyarakat yang multikultur selalu ada dominasi satu kelompok terhadap yang lainnya. Biasanya kelompok yang dominan tersebut bisa memaksakan kebijakan yang menguntungkan kelompoknya sendiri.

C. Contoh Masyarakat Multikultural: Indonesia

Bangsa Indonesia adalah salah salah satu contoh paling nyata masyarakat yang multikultur, hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya:

1. Faktor Geografis

Wilayah Indonesia memiliki lebih dari 17 ribu pulau yang tersebar kurang lebih 300 mil dari timur sampai ke barat, bahkan lebih dari 1000 mil utara sampai selatan, hal ini merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kehidupan multikultur di Indonesia.

Diperkirakan para pendatang tiba di kepulauan indonesia sekitar 20.000 tahun yang lalu. Mereka kemudian menyebar ke semua pulau-pulau besar, meliputi bagian barat nusantara, Papua, hingga Australia.

Manusia-manusia tersebutlah yang nanti disebut bangsa indonesia, dalam keadaan geografis terisolir, menempati pulau-pulau yang dikelilingi lautan, mereka mengembangkan berbagai mitos dan kebudayaan unik satu dengan yang lainnya.

2. Faktor Wilayah

Daerah nusantara memiliki wilayah yang strategis, ia diapit samudra hindia dan pasifik. Hal ini berpengaruh dalam proses multikultural, khususnya kebudayaan dan agama.

Ditambah lagi kepulauan Indonesia adalah lalu lintas perdagangan antara para pedagang India, Cina dan Asia tenggara. Melalui interaksi para pedagang inilah, pengaruh kebudayaan dan agama masuk ke Indonesia.

Penyebaran agama dan kebudayaan ini tidak merata, tidak dominan, sehingga menyebabkan terjadinya proses asimilasi kebudayaan yang unik antar satu wilayah dengan wilayah lainnya.

Pengaruh agama khususnya hindhu-budha saat awal tahun masehi berkembang pada wilayah barat nusantara. Sementara pengaruh kebudayaan china terjadi di wilayah-wilayah pantai dan daerah pusat perdagangan.

Ajaran islam mulai masuk kemudian berkembang saat abad ke-13, wilayah bagian barat dan maluku menjadi pusatnya.

Masa kolonial, portugis serta agama katolik memasuki wilayah nusa tenggara timur. Abad ke-16 Belanda datang, lalu abad ke-17 menyebarkan agama kristen dan katolik di kota-kota besar di jawa sumatra, sulawesi, kalimantan, maluku, dan papua.

3. Faktor Iklim

Variasi lingkungan hidup masyarakat nusantara berbeda-beda. Ada yang mengandalkan laut sebagai salah satu sumber kehidupannya, contohnya warga di kepulauan Riau dan Bajo di Sulawesi Selatan, dan Asmat di irian jaya, dan lain lain.

Selain lingkungannya, perbedaan tipe masyarakat pun tampak pada masyarakat perkotaan, komunitas transisi dan komunitas yang masih memiliki budaya adat kental (tribal comunites).

Menurut para antropolog dan pakar sosiologi, curah hujan dan kesuburan tanah adalah penyebab terciptanya dua macam lingkungan ekologis, ada daerah sawah pertanina (wet rice cultivation) yang banyak tersebar di pulau jawa dan bali, serta daerah ladang (shifting cultivation) yang banyak tersebar di luar pulau jawa.

Perbedaan-perbedaan tersebut adalah salah satu faktor diversivikasi antara jawa dan luar jawa baik dalam bidang ekonomi, kependudukan, sosial dan budaya.

Sistem sawah pertanian di pulau jawa membuat tumbuh satu ciri khas kemasyarakatan yang mendasarkan diri pada penaklukan di daratan.

Sedangkan sistem ladang di luar jawa mendorong terbentuknya sistem kemasyarakatan yang mendasarkan diri pada penaklukan lautan yang akhirnya punya keunggulan dalam hal perdagangan.

Makanya di Jawa tumbuh kekuasaan Mataram kuno dan Majapahit. Sedangkan di luar jawa berkembang kerajaan Melayu dan Sriwijaya.

D. Macam-macam Masyarakat Multikultural

Masyarakat dengan kompetisi seimbang.

Yaitu masyarakat multikultur yang terdiri atas sejumlah komunitas dan etnis-etnis yang punya kekuatan kompetitif seimbang.

Masyarakat dengan mayoritas dominan.

Yaitu masyarakat yang terdiri atas sejumlah komunitas atau kelompok etnis yang secara kekuatan adanya ketidakseimbangan. Karena ada kelompok mayoritas yang punya yang lebih besar daripada lainnya.

Masyarakat dengan minoritas dominan.

Yaitu masyarakat yang didalamnya ada kelompok etnis terdapat kelompok minoritas, namun punya kekuatan kompetitif diatas yang lain.

Masyarakat dengan fragmentasi.

Yaitu masyarakat yang didalamnya terdapat sejumlah besar komunitas atau kelompok etnis, akan tetapi tidak ada satu kelompok pun punya posisi politik atau ekonomi yang dominan.

Penutup

Setelah kita memahami tentang masyarakat multikultur, penulis berharap agar pembaca menjadi orang yang senantiasa ramah dan toleran terhadap orang-orang yang memiliki identitas kultural berbeda, karena bagaimanapun Indonesia adalah negara yang mempunyai beragam kultur. Salam

{ Comments are closed }

Masyarakat Desa – Ciri dan Karakteristiknya

pengertian masyarakat pedesaan
Sumber gambar: Pixabay

Masyarakat pedesaan seringkali dianggap sebagai masyarakat petani atau masyarakat yang mata pencahariannya kebanyakan bertani, tapi benarkah demikian? Mari kita bedah.

‘Masyarakat pedesaan’ Terdiri dari dua gabungan kata yaitu masyarakat dan pedesaan.

Masyarakat adalah segolongan orang yang hidup bersama di tempat atau wilayah yang memiliki ikatan aturan tertentu atau sekumpulan orang-orang yang memiliki kesamaan tertentu.

Sedangkan pedesaan dipersepsikan sebagai wilayah pemukiman yang dihuni oleh orang-orang yang berprofesi sebagai petani atau peternak.

Berarti, masyarakat pedesaan adalah masyarakat petani?

Sayangnya tidak sesederhana itu, desa atau pedesaan dalam konteks Indonesia memiliki pengertian yang kompleks.

Misalnya, dalam pembagian administratif, istilah desa adalah bagian wilayah di bawah kecamatan, kabupaten, dan provinsi.

Contoh kasus, wilayah desa Kertamulya kecamatan Padalarang kabupaten Bandung Barat penduduknya kebanyakan bukan petani, mereka bekerja sebagai karyawan dan wiraswasta, padahal secara administratif disebut wilayah desa.

Jika dipikir-pikir, kalau memang pedesaan diidentikan dengan pertanian, lalu mengapa banyak wilayah yang secara administratif disebut desa, tapi mata pencaharian penduduknya bukan bertani?

Agar dapat menjawab pertanyaan tersebut, mari kita fahami dulu pengertian masyarakat pedesaan menurut para ahli di bawah ini: 

A. Pengertian Masyarakat Pedesaan Menurut Para Ahli

1. Undang-undang Desa 2014

Masyarakat desa adalah komunitas yang memiliki batas wilayah tertentu serta berwenang untuk mengatur serta mengurus hal-ihwal pemerintahan.

Yang berhak untuk diatur adalah kepentingan warga yang berdasarkan partisipasi masyarakat, hak asal-usul, ataupun hak tradisional yang sama-sama dihormati dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

2. Paul H. Landis

Masyarakat pedesaan adalah yang memiliki penduduk kurang dari 2.500 jiwa. Dengan ciri-ciri sebagai berikut:

  • Antar penduduk hidup saling kenal mengenal.
  • Mempunyai perasaan kesukaan yang sama tentang suatu kebiasaan.
  • Perekonomian didominasi oleh pertanian karena dekat dengan alam. Sedangkan pekerjaan yang bukan pertanian sifatnya sambilan.

3. Sutardjo Kartodikusuma

Adalah suatu komunitas yang punya kesatuan hukum, memiliki wilayah tempat tinggal dan pemerintahan yang mandiri.

4. Bintaro

Merupakan pengejawantahan sebuah kesatuan geografi, ekonomi, politik, dan kultur yang ada di suatu daerah, yang membutuhkan pengaruh timbal balik dengan daerah lain.

5. Ensiklopedia

Masyarakat dengan jumlah penduduk yang cukup rendah. Untuk kegiatan ekonomi, biasanya mereka memproduksi  bahan bahan baku mentah seperti sayur, daging, benang wol, dan lain-lain.

B. Ciri dan Karakteristik Masyarakat Desa/Pedesaan

1. Ciri-ciri Masyarakat Pedesaan

Masyarakat desa adalah komunitas yang belum kompleks. Berarti, kelompok yang belum mengimplementasikan pembagian kerja secara terstruktur dan aspek-aspeknya masih dapat dipelajari sebagai satu kesatuan.

Baca Juga: Pengertian Masyarakat Perkotaan

Wilayah pedesaan juga memiliki ciri – ciri spesifik sebagai berikut:

  • Kehidupan keagamaan cukup kental, sehingga jika ada acara keagamaan biasanya para warga ikut serta.
  • Orang desa pada umumnya saling ketergantungan. Apa yang dianggap baik oleh komunitas maka baik pula bagi individu.
  • Pembagian kerja di antara warga lebih fleksibel dan tidak memiliki batasan yang nyata.
  • Peluang mendapat pekerjaan lebih kecil dibanding daripada warga kota.
  • Interaksi atau pola komunikasi lebih banyak sekadar basa-basi/nonformal.
  • Pembagian waktu yang sangat fleksibel, tergantung kebutuhan, kecuali saat masa-masa tertentu (panen misalnya).
  • Perubahan sosial tidak begitu cepat, berbeda dengan di kota-kota, sebab kota sangat terbuka dalam menerima pengaruh.

2. Karakteristik Masyarakat Pedesaan

Talcot Parsons menyamakan masyarakat desa sebagai masyarakat Gemeinschaft, yaitu masyarakat yang mempunyai karakteristik:

a. Afektifitas

Setiap individu memiliki perasaan saling sayang dan peduli satu sama lain. Hal ini kemudian berdampak terhadap sikap dan budaya saling tolong menolong, bersimpati pada musibah yang diderita tetangga, dan menolong tanpa pamrih.

b. Orientasi kolektif

Mendahulukan kebersamaan, mereka kurang suka menonjolkan diri, banyak yang tidak suka konflik (perbedaan pendapat), semua orang memperlihatkan keseragaman dalam persamaan.

c. Partikularisme

Lebih menunjukan sifat sangat subyektif, kebersamaan yang mementingkan kelompok mereka sendiri jika ada serangan dari luar. (lawannya Universalisme)

d. Askripsi

Adat atau budaya yang sudah menjadi kebiasaan secara turun temurun terus dijaga. (lawannya prestasi)

e. Kekabaran

Untuk menjaga harmoni, kebanyakan masyarakat desa menggunakan komunikasi bahasa tidak langsung. Baik ketika menunjukkan sesuatu, mengingatkan dan menegur.

C. Perbedaan Masyarakat Desa dan Kota

Sorokin dan Zimmermann menegaskan perbedaan yang mencolok masyarakat pedesaan dan perkotaan yaitu dari cara menjalani hidupnya.

Menurutnya, kebanyakan masyarakat yang tinggal di pedesaan bekerja berkaitan dengan alam. Misalkan, bertani dan beternak.

Sedangkan, masyarakat perkotaan bekerja berkaitan dengan dunia industri dan perdagangan, sehingga banyak pembagian tugas tiap individunya.

D. Pergeseran dari Pedesaan (rural) ke Transisi (sub-urban)

Sebutan desa di Indonesia terkadang sangat berbeda dan bertolak belakang teori-teori pedesaan yang dikemukakan di atas.

Saya ambil contoh lain, desa-desa di kab Bekasi profesi pekerjaan warganya begitu beragam, tidak didominasi petani. Sekarang agaknya tidak tepat jika kita sebut desa-desa di Bekasi sebagai daerah rural.

Dalam sosilogi, daerah ini disebut sub-urban. Yaitu, daerah pedesaan yang dihuni warga perkotaan dengan tujuan bisa tetap bekerja di Kota besar.

Penutup

Memahami tentang teori masyarakat pedesaan, anda akan menemukan berbagai kontradiksi antara satu konsep dan fakta sosial yang terjadi di lapangan.

Ini karena, sosiologi dan masyarakat itu sangat dinamis, kita mesti jeli dan tidak langsung menerima begitu saja semua teori dan informasi yang tertulis dalam buku dan internet.

Saran saya, tetap kritis. Salam

{ Comments are closed }

Solidaritas Sosial – Pengertian, Jenis dan Contohnya

Remove term: pengetian solidaritas sosial pengetian solidaritas sosialRemove term: jenis solidaritas sosial jenis solidaritas sosialRemove term: contoh pudarnya solidaritas sosial contoh pudarnya solidaritas sosialRemove term: solidaritas sosial menurut Emile Durkheim solidaritas sosial menurut Emile DurkheimRemove term: Solidaritas Mekanik Solidaritas MekanikRemove term: Solidaritas Organik Solidaritas Organik

Solidaritas Sosial. Sumber: Pixabay

Pengertian Solidaritas Sosial

Solidaritas sosial berasal dari dua kata yakni solidaritas dan sosial. Solidaritas memiliki akar kata solider yang berarti satu rasa (senasib) atau perasaan setia kawan, kekompakan. Sosial artinya masyarakat.

Maka, solidaritas sosial adalah kepedulian atau kekompakan bersama masyarakat yang didasarkan pada persamaan moral, kolektif yang sama, dan kepercayaan yang dianut serta diperkuat oleh pengalaman emosional.

Prinsip solidaritas sosial adalah saling tolong menolong, bekerjasama, saling membagi. Prinsip tersebut menurut Redfield adalah kekuatan persatuan internal dari suatu kelompok.

Solidaritas sosial dipengaruhi interaksi sosial, hal ini terjadi karena ada ikatan kultural kekeluargaan dan kedekatan emosional, meliputi:

(1) Seperasaan, ketika seseorang berusaha mencari identitas dirinya dengan sebanyak mungkin orang dalam kelompok tersebut, sehingga terjalin rasa satu, kesatuan ini terwujud dalam interaksi sosial yang menyebabkan mereka bersatu membentuk satu ‘komunitas’ atau ‘masyarakat’;

(2) Sepenanggungan, ketika tiap individu sadar akan tugas dan perannya sehingga menghadirkan perasaan saling butuh, timbal-balik kelompok.

(3) Saling butuh, saat individu menjadi tergantung terhadap masyarakat setempat baik fisik maupun psikologinya. 

Baca Juga: Kesejahteraan Sosial

Jenis Solidaritas Sosial Menurut Emile Durkheim

Solidaritas sosial terdiri dari 2 jenis solidaritas, yaitu solidaritas mekanik dan organik. Teori ini dikembangkan oleh sosiolog Emile Durkheim.

Jenis Solidaritas Mekanik

Solidaritas mekanik adalah jenis solidaritas yang didasarkan pada kesamaan keyakinan, nilai dan kepercayaan. Kesamaan kepercayaan inilah yang membentuk perilaku individu, apa yang dianggap baik bagi masyarakat maka baik juga menurut tiap individu.

Jenis solidaritas ini biasanya ada dalam masyarakat sangat homogen atau masyarakat pedesaan. Masyarakat rural (desa) umumnya bersuku dan memiliki kepercayaan yang sama, ini berimplikasi pada terbentuknya kebersamaan emosional yang terwujud menjadi rasa ketergantungan satu dengan lainnya.

Jenis Solidaritas Organik

Sedangkan jenis solidaritas organik terwujud karena pembagian kerja begitu besar. Pembagian kerja yang besar mengakibatkan ketergantungan satu sama lain. Berimplikasi pada bertambahnya spesialisasi pembagian pekerjaan. Hal tersebut berdampak pada tingginya perbedaan dan cara pandang dalam memaknai sesuatu.

Misalkan; Cara pandang pedagang pasar akan berbeda dengan guru sekolah.
Meski begitu, pedagang pasar membutuhkan guru untuk mengajari anak-anaknya dan guru butuh produk dagangan di pasar. Mereka mungkin saja memiliki nilai atau bahkan kepercayaan yang berbeda tapi saling membutuhkan satu sama lain, ini yang disebut solidaritas organik.

Solidaritas organik umumnya ada dalam masyarakat perkotaan yang heterogen.

Solidaritas ini bersifat fungsional dan agak semu, masyarakat terdorong melakukan sesuatu karena ada “aturan bersama” dan “kebutuhan transaksional” yang mengikat, bukan karena adanya ikatan emosional sesama manusia.

Ciri Solidaritas Mekanik Solidaritas Organik
Aktivitas Sosial Utama
  • homogen
  • konsensus moral dan agama
  • saling ketergantungan yang rendah
  • bersifat primitif atau pedesaan
  • heterogen konsesus pada nilai-nilai yang abstrak
  • saling ketergantungan yang tinggi
  • bersifat industrial – perkotaan
Posisi Individu
  • kolektivisme, komunitas
  • menekankan pada kelompok
  • Individualisme
  • menekankan otonomi individu
Struktur Ekonomi
  • kelompok terisolasi
  • pembagian kerja rendah
  • mencukupi kebutuhan
  • terbuka terhadap inovasi
  • pembagian kerja tinggi
  • pertukaran antar kelompok
Kontrol Sosial
  • keterlibatan komunitas dalam menghukum
  • badan-badan kontrol sosial yang menghukum orang yang menyimpang

Contoh Pudarnya Solidaritas Sosial

Pudarnya solidaritas sosial umumnya terjadi pada masyarakat pedesaan yang berubah menjadi masyarakat transisi (sub-urban). Hal ini terjadi diakibatkan oleh:

(a) Adanya kecenderungan mencurigai warga pendatang yang terlanjur dicap buruk dan dianggap sebagai lawan yang berbahaya, padahal belum tentu. Takutnya nanti rawan terjadi konflik.

(b) Semakin menipisnya tingkat saling percaya dan tolong menolong dalam kehidupan masyarakat, sehingga mengakibatkan menurunnya rasa solidaritas sosial dalam proses kehidupan.

(c) Implementasi partisipasi masyarakat yang terjadi sampai saat ini masih bersifat dari atas dan partisipasi masyarakat belum banyak dilibatkan pada berbagai tahap dalam pembangunan.

Penutup

Solidaritas atau kekompakan masyarakat dapat terwujud pada masyarakat desa karena adanya kedekatan emosional dan rasa kesamaan (mekanik).

Sedang, pada komunitas urban, solidaritas terjadi karena kebutuhan satu sama lain (organik).

Meski begitu, kita sebagai masyarakat Indonesia yang masih menjujung tinggi budaya ketimuran, sebaiknya jaga terus rasa kekompakan/solidaritas ini. Tidak peduli mau anda tinggal di pedesaan atau perkotaan.

Karena Indonesia ini rumah kita, kalau bukan kita, siapa lagi?

Baca Juga: Istilah-istilah dalam Sosiologi

 

{ Comments are closed }

Pengertian dan Tujuan Kesejahteraan Sosial

Kesejahteraan Sosial
Sumber Photo: Pixabay

Kesejahteraan sosial adalah keadaan dimana masyarakat memperoleh kebutuhan material, spiritual dan sosial secara baik. Sehingga, bisa hidup layak dan mampu untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki secara maksimal. Dengan begitu, fungsi sosial sebagai manusia dapat terpenuhi.

Baca Juga: Pengembangan Masyarakat

Memahami makna kesejahteraan sosial sebaiknya kita baca definisi yang dipaparkan para ahli berikut ini;

Pengertian Kesejahteraan Sosial Menurut Para Ahli

PBB

Kesejahteraan sosial adalah kegiatan terorganisasi yang bertujuan membantu warga negara atau kelompok masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan dasarnya serta peningkatan kemakmuran yang sebanding dengan kepentingan keluarga dan sosial.

Kamus Ilmu Kesejahteraan Sosial
‘Kesos’ artinya keadaan sejahtera. Baik secara jasmani, rohani dan sosial.

Bonnum Commune
Adalah kesejahteraan yang menyangkut keseluruhan syarat sosial, yang memungkinkan dan mempermudah manusia dalam memperkembangkan kepribadianya secara sempurna.

W.A Fridlander
Mendefenisikan; sebuah sistem yang diorganisir oleh lembaga sosial untuk membantu individu maupun komunitas dalam mencapai standar hidup layak.

Hasilnya, akan tercapai satu relasi sosial yang memungkinkan kelompok tersebut mengembangkan potensi dirinya secara optimal. Yang berimplikasi pada menguatnya keamanan sosial mereka, sejalan dengan kebutuhan-kebutuhan keluarga dan masyarakat.

Skidmore
‘Kesos’ punya arti luas, meliputi keadaan ideal orang banyak (masyarakat). Dimana tercukupinya kebutuhan fisik, emosional, mental dan ekonomi.

Suparlan
Menandakan keadaan makmur pada umumnya. Yaitu mencakup kesejahteraan jasmaniah, rohaniah, dan sosial.

Suharto
Kesos dipandang sebagai proses usaha yang terorganisir, baik yang diinisiasi oleh perorangan, swasta, lembaga sosial, masyarakat maupun pemerintah dalam meningkatkan kualitas kehidupan. Dengan metode pelayanan sosial atau tunjangan sosial.

Tujuan Kesejahteraan Sosial

Apa tujuan kesejahteraan sosial?

Ya, tentu saja agar kehidupan masyarakat bermartabat, yang berarti hak dan kebutuhan dasarnya terpenuhi.

Hal tersebut ditegaskan dalam UU Nomor 11 Tahun 2009 yang menerangkan bahwa kesejahteraan sosial diarahkan agar terwujud sebuah kehidupan yang layak dan berkualitas bagi semua warganya.

Secara general, konsep ‘kesos’ dimaknai sebagai kondisi sejahtera, berarti keadaan tercukupinya segala bentuk kebutuhan hidup, seperti kebutuhan akan makanan, tempat tinggal, dan pakaian, pendidikan dan kesehatan.

Pemaknaan seperti itu memposisikan ‘kesos’ sebagai tujuan dari proses pembangunan. Atau bahasa lainnya, tujuan pembangunan adalah kesejahteraan masyarakat.

Padahal sebetulnya, ‘kesos’ bisa kita maknai sebagai ‘arena utama’, tempat di mana para pekerja sosial berkiprah dan berkontribusi.

Pemahaman seperti ini menempatkan Kesejahteraan Sosial sebagai sarana dan wahana (alat) untuk mencapai tujuan pembangunan yang lebih besar.

{ Comments are closed }

Pemberdayaan Nelayan Oleh Dompet Dhuafa dan BNI Syariah

BNI Syariah bersama Dompet Dhuafa dan Yayasan Hasanah Titik (YHT) melakukan kerja sama program pemberdayaan masyarakat nelayan kerang hijau, program ini dinamai “Mustahik Move to Muzakki”.

Program ini adalah pemberdayaan wilayah pesisir provinsi Banten semenjak tahun 2017, program ini berisi aneka ragam peningkatan kapasitas dan penambahan alat seperti membuat bagan area tambak, membangun ‘rumah kupas kerang’, membantu mengurus izin usaha, penyuluhan dan pendampingan kelompok serta mitra usaha, penguatan kelembagaan dan memfasilitasi usaha lembaga lokal.

Total dana zakat BNI Syariah yang diberikan untuk program ini sebesar Rp660 juta.

Kecamatan Kasemen, Serang yang terpilih dalam program ini karena dekat dengan pusat kota sehingga mudah menjual hasil usahanya serta memiliki potensi sumber daya alam yang berlokasi di pesisir utara pulau Jawa, potensi yang dikembangkan adalah budidaya kerang hijau.

Program penyaluran zakat “Mustahik Move to Muzakki” juga punya target menambah kesejahteraan masyarakat pesisir dengan cara meningkatkan kemandirian ekonomi melalui pengembangan kapasitas dan kemampuan berorganisasi nelayan.

Direktur Mobilisasi ZIS Dompet Dhuafa Filantropi Bambang Suherman Rabu (18/4/2018), di Serang, Banten. mengungkapkan;

“Yang kita lakukan sebagai yang diamanati, bukan sekadar memberikan. Kita mesti menunjukan bahwa zakat dapat dikelola dengan baik, serta mampu membantu menurunkan angka kemiskinan. Contohnya program kerang hijau ini, karena kesuksesan sebuah program zakat adalah hadiah, dengan begitu, akan memberikan ketenangan beramal bagi muzakki, khususnya melalui lembaga,”

Baca Juga: Pemberdayaan Masyarakat

Pada kesempatan tersebut, bapak Adrianto Daru (Ketua YHT BNI Syariah) menyampaikan pesan tentang program sosial yang menjadi salah satu fokus BNI Syariah sesuai dengan ‘maqoshid syariah’ (tujuan syariah) yakni ‘hifdz maal’ (menjaga harta).

Beliau mengungkapkan;

“Mudah-mudahan sinergi antara Dompet Dhuafa dan BNI Syariah bisa terus berjalan baik sehingga nantinya memberikan kebaikan bagi masyarakat Indonesia”.

Komitmen BNI Syariah sebagai hasanah banking partner, tidak melulu berorientasi keuntungan semata, tapi memberikan kebermanfaatan bagi semua mitranya melalui program sosial dakwah, ekonomi, pendidikan, kesehatan dan lingkungan.

Tercatat sejak Desember 2017, Bank BNI Syariah sudah menyalurkan dana zakat Rp15,513 miliar.

{ Comments are closed }

Memahami Masyarakat Perkotaan: Apa Komunitas Urban itu?

pengertian masyarakat perkotaan
Sumber photo: Pixabay

Silahkan baca artikel ini jika anda sedang mencari pengertian masyarakat perkotaan.

Oke, hal pertama yang mesti kita fahami adalah definisi kata ‘urban’ dan ‘komunitas’ itu sendiri.

Urban dalam kamus bahasa Indonesia artinya perkotaan, sementara komunitas merupakan persamaan kata dari masyarakat (society). Jika demikian maka komunitas urban = masyarakat perkotaan.

Istilah masyarakat perkotaan sendiri dalam sosiologi punya dua kualifikasi. Yaitu, kualifikasi fisik dan kualifikasi sosial.

A. Kualifikasi Fisik Masyarakat Urban

Secara fisik, disebut masyarakat perkotaan itu apabila sebuah kawasan memiliki jumlah penduduk yang padat dan wilayahnya berukuran luas.

Namun, apakah cukup mendefinisikan masyarakat perkotaan dari jumlah wilayahnya yang luas dan penduduknya padat?

Sayangnya tidak, menggambarkan komunitas urban hanya dari kondisi fisik memiliki kelemahan, yaitu ketidaksamaan standar antar satu negara dengan negara lainnya.

Saya ambil contoh, di India disebut “kota” apabila terbentuk sebuah otoritas pemerintah lokal seperti kotamadya (municipality), kecamatan (cantonment board) dan kelurahan (notified area committees).

Berbeda dengan India, di tempat lainnya disebut ‘kota’ apabila penduduknya minimal berjumlah 5000 orang, 75% profesinya bukan petani, dan tiap 1 km persegi setidaknya dihuni 900 orang.

Oleh karena itu, dibutuhkan kualifikasi lain untuk mendefinisikan masyarakat urban, yaitu kualifikasi sosial.

B. Kualifikasi Sosial Masyarakat Urban

Untuk memahami komunitas urban secara sosial, adalah dengan melihat gaya hidupnya. Kata urban sendiri selain diartikan perkotaan, juga bermakna gaya hidup.

Gaya hidup yang dimaksud, biasanya terkait dengan cara berpakaian, variasi barang yang digunakan, interaksi sesama manusia dan pengetahuan serta pandangan politik tertentu.

Sialnya, menggambarkan komunitas urban hanya dari aspek ‘gaya hidup’ kadang menjebak juga. Toh sekarang, gaya hidup dan interaksi sosial masyarakat desa hampir mirip dengan masyarakat kota. 

Lalu bagaimana?

Penyebutan masyarakat perkotaan, harus memenuhi kualifikasi fisik dan kualifikasi sosial, yaitu komunitas/kumpulan manusia yang tinggal di wilayah luas, penduduknya padat, memiliki beragam profesi dan menjalani gaya hidup khas individual serta bervariasi.

Lantas, apa bedanya dengan masyarakat pedesaan (rural)? 

C. Memahami Urban dan Rural

Sorokin dan Zimmermann menegaskan perbedaan yang mencolok masyarakat desa dan kota yaitu dari cara menjalani hidupnya. Menurutnya, kebanyakan masyarakat yang tinggal di pedesaan bekerja berkaitan dengan alam. Misalkan, bertani dan beternak.

Sedangkan, masyarakat perkotaan memiliki profesi yang bervariasi.

Sorokin dan Zimmermann pun menjelaskan karateristik masyarakat perkotaan. Diantaranya;

  • Punya wilayah yang luas
  • Penduduknya padat
  • Heterogen (majemuk)
  • Memiliki diferensiasi dan stratifikasi sosial
  • Sering terjadi mobilitas sosial
  • Memiliki interaksi sosial yang unik nan-semu.

Perubahan dari Desa (Rural) Menjadi Semi Kota (Sub-Urban)

Daerah yang kita klasifikasikan pedesaan (rural) seiring berjalannya waktu bisa berubah menjadi perkotaan (urban), ini karena antar kota dan desa saling mempengaruhi.

Saya ambil contoh kota/kab Bekasi. Bekasi tahun 80-an secara kualifikasi dikategorikan pedesaan, karena jumlah penduduknya sedikit, wilayahnya kecil dan kebanyakan berprofesi sebagai petani.

Semua berubah ketika negara api Jakarta tidak mampu lagi menampung warganya, supaya bisa tetap mencari nafkah dan bertahan hidup, banyak warga Ibukota yang pindah ke Bekasi dan membeli rumah.

Akibatnya, jumlah masyarakat bekasi bertambah, dan profesi warganya jadi beragam. Makanya, sekarang agak kurang tepat jika kita sebut Bekasi sebagai daerah rural, lebih cocok jika kita sebut sub-urban.

Jika dipikir-pikir, semakin kesini garis pembatas antara masyarakat perkotaan (urban) dan pedesaan (rural) semakin menipis. Dinamika sosial berupa peningkatan jumlah penduduk, kebutuhan ekonomi dan pengembangan ilmu pengetahuan pada akhirnya akan mengubah pedesaan menjadi perkotaan, ya kan?.

Penutup

Dikotomi masyarakat urban dan rural saat ini memang masih relevan. Sayangnya, dinamika sosial yang terjadi di masa yang akan datang bakal mengaburkan itu semua.

Stuart A. Queen dan David B. Carpenter berpendapat bahwa secara gradual masyarakat pedesaan berubah setahap demi setahap, sehingga nanti kita akan kesulitan membedakan antara masyarakat desa dan kota.

Ditambah Gist and Halbert yang meyakinkan saya, dengan mengatakan bahwa pemahaman kota dan desa hanyalah teori atau konsep yang pijakannya berasal dari fakta-fakta yang ditemukan dalam kehidupan masyarakat, pijakan fakta itu pun saling bertentangan satu dengan lainnya.

Setiap pedesaan pasti punya satu atau lebih karakteristik perkotaan, sebaliknya tiap kota punya karakter pedesaan. Misal, daerah “kampung kota” yang punya kekhasan pedesaan.

Intinya?

Masyarakat perkotaan (urban) diidentifikasi sebagai kelompok manusia yang tinggal di sebuah wilayah besar, padat, profesinya beragam, dan heterogen.

Sementara masyarakat desa (rural) adalah kelompok manusia yang tinggal di sebuah wilayah kecil, penduduknya sedikit, profesinya rata-rata bertani dan penduduknya homogen.

Teorinya begitu, dan tentu kita faham, Betul?

Pertanyaan selanjutnya adalah; Apa indikator besar, padat, profesinya beragam, dan heterogen sehingga layak disebut kota? Bagaimana cara mengukurnya?

Aih, itu bahasan dalam artikel lain ya, salam.

Catatan: Tulisan ini merupakan opini berdasarkan pengamatan sederhana, jika ada kecacatan logika dan salah data, silahkan komentar di bawah.

Baca Juga: Masalah Sosial di Indonesia

{ Comments are closed }

6 Masakan Khas Masyarakat Papua yang Bikin Penasaran

Papua itu populer karena keelokan panorama alamnya, tapi ternyata selain tempat wisatanya, pulau ini juga punya makanan khas masyarakat sana, diantaranya;

1. Papeda

Papeda merupakan makanan khas masyarakat Indonesia timur. Bahan utama santapan ini adalah sagu. Sagunya diolah berbentuk seperti bubur berwarrna putih dan teksturnya lengket seperti lem.
Papeda tak berasa alias hambar. Biasanya papeda disantap dengan sup kuah olahan ikan. Bisa ikan tongkol atau mubara, dimasak menjadi ikan kuah kuning

2. Udang Selingkuh

Penamaan udang selingkuh karena bentuknya khas, badannya udang tapi punya capit mirip kepiting. Udang ini terkenal karena dipopulerkan masyarakat Wamena, Papua Barat. Udang ini biasanya direbus, digoreng dan juga dibakar.

3. Martabak Sagu

Martabak ini bahan utamanya bukan terigu tapi sagu, sagu digoreng lalu ditambahi sirup yang terbuat dari gula merah, rasa santapan ini cukup enak. Masyarakat kabupaten Fakfak yang memperkenalkannya.

4. Ikan Bakar Manokwari

Ikan bakar merupakan makanan yang disukai masyarakat Manokwari, ikan yang biasanya dipakai adalah ikan tongkol. Selain rasa ikannya yang enak, sambal yang rasanya pedas manis bikin ketagihan, beda dengan aneka sambal lain yang pernak kita cicipi.

5. Ikan Bungkus

Makanan ini bentuknya pepes dan resepnya pun sama. Yang membedakannya yaitu bahan-bahan yang digunakan. Bahan yang dipakai adalah ikan laut, sementara bumbunya lebih beragam dan bungkusnya menggunakan daun salam.

6. Sate Ulat Sagu

Ulat sagu diolah untuk dijadikan sate, ulat ini berasal dari pohon sagu yang tua dan lapuk. masyarakat asli Papua sudah terbiasa mengolah dan menyantap makanan ini, cara membuatnya sangat sederhana, ulat ditusuk lalu dibakar.
Itulah 6 masakan khas masyarakat Papua. Apakah tertarik buat mencicipinya?

Baca Juga: Masyarakat Majemuk

{ Comments are closed }