close

[Mission Hmi] Bahan Basic Pembinaan (Lk 1) Himpunan Mahasiswa Islam

Referensi:

  • Nilai Dasar Perjuangan HMI
  • Ade Komaruddin dan Muchhrijin Fauzi (ed) HMI Menjawab Tantangan Zaman, PT. Gunung Kelabu, 1992
  • Asghar Ali Engginar, Islam dan Theologi Pembebasan, Pustaka Pelajar 1999
  • Ali Syari’ati, Ideologi Kaum Intelektual: Satuan Wawasan Islam, Mizan 1992
  • M. Rusli Karim, HMI MPO Dalam Pergulatan Politik Indonesia, Mizan, 1997
  • Moeslim Abdurrahman, Islam Transformatif, Pustaka Firdaus
  • Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga HMI
  • Ramli H.HM Yusuf (ed), Lima Puluh Tahun HMI mengabdi Republik, LASPI, 1997
  • Dr. Fiktor Imanuel Tanja, HMI sejarah dan Kedudukannya di tengah kedudukan Muslim Pembaharu Indonesia, Sinar Harapan, 1982
  • Referensi Lain Yang Relevan

Pengantar

Mission merupakan peran dan tanggung jawab yang diemban, sehingga mission HMI dapat diartikan selaku tugas dan tanggung jawab yang diemban oleh kader HMI. Sebagai organisasi kader yang mempunyai platform yang terperinci, semenjak permulaan berdirinya HMI memiliki komitmen asasi yang disebut dengan dua janji asasi, adalah (1) Mempertahankan negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat bangsa Indonesia, yang dikenal dengan akad kebangsaan, dan (2) Menegakkan dan membuatkan aliran Islam, yang dikenal dengan wawasan keislaman/keumatan.

Kesatuan dari kedua wawasan ini disebut dengan wawasan integralistik, ialah cara pandang yang utuh melihat bangsa Indonesia kepada tugas dan tanggung jawab yang mesti dilakukan sebagai warga negara dan umat Islam Indonesia. Penerjemahan komitmen HMI ini diadaptasi dengan konteks jaman, sehingga HMI senantiasa nyata dan bisa tampil di garda terdepan dalam setiap even.

Bila dicermati belakangan ini bisa dibilang bahwa HMI mengalami stagnasi, untuk tidak dikatakan degradasi. Hampir tidak ada pemikiran pintar yang disumbangkan oleh HMI di tengah carut marut dan tunggang langgangnya tatanan republik ini, dimana dilema disintegrasi perlu segera diselesaikan, masalah ekonomi mendesak untuk segera diperbaiki, dilema supremasi aturan yang mesti ditegakkan, masalah pendidikan mendesak untuk diperhatikan, dan masalah-dilema lain yang melingkari, seperti budaya, pertahanan keamanan, yang kesemuanya memerlukan penanganan secepatnya. Singkatnya, Indonesia sekarang sedang diterma krisis multi dimensional. Di tengah keadaan ini, komitmen HMI tidak lebih dari sebatas slogan tanpa jiwa.

Oleh alasannya adalah itu untuk mendongkrak kembali ghirah kader HMI dalam berperan serta untuk penyelesaian problematika bangsa dan umat perlu adanya reaktualisasi mission HMI dalam jiwa kader HMI melalui proses perkaderan yang selama ini perjalanannya tidak lebih hanya selaku proses pencapaian status dengan meninggalkan makna bahwasanya, ialah sebagai proses pembentukan kader yang mempunyai aksara, nilai dan kemampuan, yang berusaha melaksanakan transformasi budpekerti dan kepribadian seorang muslim yang utuh (kaffah), sehingga kader HMI mempunyai keberpihakan yang jelas kepada kaum tertindas (mustad’afin) dan melawan kaum penindas (mustakbirin).

HMI selaku organisasi berbasis mahasiswa yang ialah kaum intelektual, generasi kritis, dan mempunyai profesionalisme harus mampu menjadi distributor pembaharu di tengah penduduk dan kehidupan bangsa. Karena mahasiswa memiliki kekuatan yang hebat dalam tatanan kehidupan bangsa dan negara, maka seluruh gerak pergantian yang terjadi di bangsa ini dimotori oleh golongan mahasiswa dan perjaka, mulai dari proklamasi, revolusi, hingga reformasi, selalu ada andil mahasiswa. Namun demikian arah pergantian mesti sesuai dengan usaha untuk mewujudkan penduduk adil sejahtera yang diridhoi Allah SWT sebagaimana termaktub dalam serpihan tujuan HMI.

Dalam perjalanannaya, gerakan mahasiswa begitu dimanis, mengikuti pertumbuhan jaman dan senantiasa eksis dalam setiap momen penting kebangsaan. Kekonsistenan itu harus diiringi oleh pegangan yang teguh terhadap idealisme dan mempertahankan sikap hanif sehingga kedatangan mahasiswa sebagai kaum intelektual yang dalam tatanan sosial masyarakat menerima daerah yang penting selaku embun penyejuk. Untuk itulah HMI selaku organisasi mahasiswa harus bisa menetaskan kader-kader yang bermutu manusia cita sebagaimana yang tersurat dalam tujuan HMI: “Terbinanya manusia akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya penduduk adil makmur yang diridhoi Allah SWT” (pasal 4 AD HMI).

  [Konstitusi Hmi] Bahan Basic Pembinaan (Lk 1) Himpunan Mahasiswa Islam

HAKEKAT KEBERADAAN HMI

HMI Sebagai Organisasi Mahasiswa (Pasal 7 AD HMI)

Makna HMI selaku organisasi mahasiswa adalah organisasi yang mengumpulkan mahasiswa yang berguru wawasan di perguruan tinggi tinggi (Universitas/Akademi/Institut/Sekolah Tinggi) atau yang sederajat, dan memilki ciri-ciri kemahasiswaan. Adapun ciri-ciri kemahasiswaan tersebut yakni ilmiah, kritis dan analitis, rasional, obyektif, serta sistematis.

HMI Sebagai Organisasi Berasaskan Islam (Pasal 3 AD HMI)

HMI selaku organisasi berasaskan Islam maksudnya adalah organisasi yang mengumpulkan mahasiswa yang beragama Islam, dimana secara individu dan organisatoris mempunyai ciri-ciri keislaman, menimbulkan Al- Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber norma, sumber nilai, sumber wangsit, dan sumber aspirasi dalam setiap acara dan dinamika organisasi.

HMI Sebagai Organisasi Yang Bersifat Independen (Pasal 6 AD HMI)

HMI yang bersifat independen yaitu waktak organisasi yang senantiasa tunduk danberorientasi pada kebenaran (hanif), sehingga kiprah setiap individu dan dinamika organisasi dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara memiliki acuan pikir, contoh perilaku, dan teladan tindak tidak terikat dan tidak mengikatkan diri secara organisatoris dengan kepentingan atau organisasi mana pun, segala sesuatu tidak didasarkan atas hasratatau paksaan pihak lain.

Independensi dilihat dari dua dimensi, yakni :

  • Indepndensi Etis

Sikap dan adab HMI yang termanifestasikan secara individu dan organisasi dalam dinamika berfikir, bersikap, dan bertindak, baik dalam relasi terhadap Sang Rab, ataupun korelasi kepada sesama, sesuai dengan fitrah kemanusiaannya, yaitu tunduk dan patuh kepada kebenaran (hanif).

  • Independensi Organisatoris

Sikap dan moral HMI yang teraktualisasikan secara organisatoris di dalam kiprah dinamika intern organisasi maupun dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dalam keutuhan kehidupan nasional melaksanakan partisipasi aktif, konstruktif secara konstitusional terhadap usaha bangsa dan pencapaian impian nasional, cuma komit terhadap kebenaran, dan tidak tunduk atau komit kepada kepentingan atau organisasi tertentu.

Prinsip-prinsip independensi HMI dalam implementasi dirumuskan sebagai berikut :

  • Kader HMI terutama aktivitasnya dalam melakukan tugas dan tanggung jawab organisasi harus tunduk pada ketentuan-ketentuan organisasi dalam melaksanakan program-program organisasi, oleh sebab itu tidak diperkenankan melaksanakan acara-kegiatan yang membawa organisasi atas kehendak pihak luar manapun.
  • Kader HMI terutama aktivitasnya tidak dibenarkan mengadakan kesepakatan dalam bentuk apapun dengan pihak luar selain segala sesuatu yang telah ditetapkan dan ditentukan secara organisatoris.
  • Alumni HMI senantiasa diperlukan untuk aktif berjuang meneruskan dan membuatkan watak independensi etis dimanapun mereka berada dan berfungsi sesuai dengan profesinya dalam rangka menenteng hakekat misi HMI, merekomendasikan serta mendorong alumni HMI untuk menyalurkan aspirasinya secara tepat melalui semua jalur pengabdian, baik jalur organisasi profesi, instansi pemerintah, wadah aspirasi politik, dan jalur yang lain yang semata-mata sebab hak dan tanggung jawab dalam rangka mewujudkan kehidupan masyarakat adil sejahtera yang diridhoi Allah SWT.

Aplikasi dan dinamika berpikir, bersikap dan bertindak secara keseluruhan dari akhlak asasi kader HMI terumus dalam bentuk:

  • Cenderung terhadap kebenaran
  • Bebas, merdeka dan terbuka
  • Obyektif, rasional, dan kritis
  • Progresif dan dinamis
  • Demokratis, jujur dan adil

TUJUAN HMI

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, tujuan HMI yaitu “Terbinanya manusia akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertangung jawab atas terwujudnya penduduk adil makmur yang diridhoi Allah SWT” (pasal 4 AD HMI). Dari tujuan tersebut mampu dirumuskan menjadi lima mutu insan cita, yaitu kualitas manusia akademis, kualitas manusia pencipta, mutu manusia pengabdi, kualitas manusia bernafaskan Islam, dan kualitas insan yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil sejahtera yang diridhoi Allah SWT.

Kualitas manusia cita HMI yaitu ialah dunia cita yang terwujud oleh HMI di dalam langsung seorang manusia yang beriman dan berakal wawasan serta bisa melakukan peran kerja kemanusiaan. Kualitas tersebut sebagaimana dalam pasal tujuan (Pasal 4 AD HMI) adalah sebagai berikut : 

Kualitas Insan Akademis

  • Berpendidikan Tinggi, berpengetahuan luas, berfikir rasional, obyektif, dan kritis.
  • Memiliki kesanggupan teoritis, mampu memformulasikan apa yang diketahui dan dirahasiakan. Dia selalu berlaku dan menghadapi suasana sekelilingnya dengan kesadaran.
  • Sanggup berdiri sendiri dengan lapangan ilmu wawasan sesuai dengan ilmu pilihannya, baik secara teoritis maupun tekhnis dan mampu melakukan pekerjaan secara ilmiah ialah secara bertahap, terstruktur, mengarah pada tujuan sesuai dengan prinsip-prinsip perkembangan.

Kualitas Insan Pencipta: Insan Akademis; Pencipta

  • Sanggup melihat kemungkinan-kemungkinan lain yang lebih dari sekedar yang ada dan bergairah besar untuk menciptakan bentuk-bentuk gres yang lebih baik dan bersikap dengan bertolak dari apa yang ada (adalah Allah). Berjiwa sarat dengan pemikiran -pemikiran pertumbuhan, senantiasa mencari perbaikan dan pembaharuan.
  • Bersifat independen dan terbuka, tidak isolatif, manusia yang menyadari dengan sikap demikian potensi, kreatifnya mampu meningkat dan memilih bentuk yang indah-indah.
  • Dengan ditopang kemampuan akademisnya ia mampu melaksanakan kerja kemanusiaan yang disemangati aliran Islam.

Kualitas Insan Pengabdi: Insan Akdemis; Pencipta; Pengabdi

  • Ikhlas dan mampu berkarya demi kepentingan orang banyak atau untuk sesama umat.
  • Sadar membawa tugas insan pengabdi, bukannya cuma menciptakan dirinya baik namun juga membuat kondisi sekelilingnya menajdi baik.
  • Insan akdemis, pencipta dan mengabdi adalah yang bersungguh-sungguh merealisasikan impian dan ikhlas mengamalkan ilmunya untuk kepentingan sesamanya.

Kualitas Insan Yang Bernapaskan Islam: Insan Akademis; Pencipta dan Pengabdi Yang Bernapaskan Islam

  • Islam yang telah menjiwai dan memberi ajaran teladan fikir dan acuan lakunya tanpa memakai brand Islam. Islam akan menajdi anutan dalam berkarya dan mencipta sejalan dengan nilai-nilai universal Islam. Dengan demikian Islam telah menapasi dan menjiwai karyanya.
  • Ajaran Islam sudah berhasil membentuk “unity personality” dalam dirinya. Nafas Islam telah membentuk pribadinya yang utuh tercegah dari split personality tidak pernah ada dilema pada dirinya selaku warga negara dan dirinya sebagai muslim insan ini telah mengintegrasikan dilema suksesnya dalam pembangunan nasional bangsa kedalam suksesnya perjuangan umat islam Indonesia dan sebaliknya.

Kualitas Insan Bertanggungjawab Atas Terwujudnya Masyarakat Adil Makmur Yang Diridhoi Oleh Allah SWT

  • Insan akademis, pencipta dan pengabdi yang ber nafaskan islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil sejahtera yang diridhoi oleh Allah SWT.
  • Berwatak, mampu memikul balasan-balasan yang dari perbuatannya sadar bahwa menempuh jalan yang benar diharapkan adanya keberanian budbahasa.
  • Spontan dalam menghadapi peran, responsip dalam menghadapi masalah-dilema dan jauh dari perilaku apatis.
  • Rasa tanggungjawab, takwa terhadap Allah SWT, yang membangkitkan untuk mengambil tugas aktif dalam sebuah bidang dalam me wujudkan penduduk adil dan sejahtera yang diridhoi Allah SWT.
  • Korektif kepada setiap langkah yang bertentangan dengan usaha merealisasikan penduduk yang adil dan sejahtera.
  • Percaya pada diri sendiri dan sadar akan kedudukannya selaku “khallifah fil ard” yang harus melaksanakan peran-peran kemanusiaan.
  [Ndp Hmi] Individu Dan Masyarakat

Pada pokoknya insan cita HMI ialah “Man of future ” manusia pelopor adalah insan yang berfikiran luas dan berpandangan jauh, bersikap terbuka, terampil atau andal dalam bidangnya, ia sadar apa yang menjadi cita-citanya dan tahu bagaimana mencari ilmu perjuangan untuk secara kooferatif bekerja sesuai dengan yang dicita -citakan. Ideal type dari hasil perkaderan HMI ialah “Man of inovator” (duta-duta pembantu). Penyuara “Idea of Progress” insan yang berkeperibadian imbang dan padu, kritis, dinamis, adil dan jujur tidak takabur dan bertaqwa terhadap Allah Allah SWT. Mereka itu insan-manusia duit beriman akil dan bisa bederma saleh dalam mutu yang optimal (manusia kamil)

Dari lima kualitas lima insan cita tersebut intinya harus mengerti dalam tiga kualitas manusia Cita yaitu mutu insan akademis, mutu insan pencipta dan mutu insan pengabdi. Ketiga manusia mutu pengabdi tersebut merupakan manusia islam yang terefleksi dalam sikap senantiasa bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang ridhoi Allah SWT.

Yang dimaksud dengan penduduk adil sejahtera yang diridhoi Allah SWT yakni masyarakat yang melakukan kehidupannya selalu berlandaskan atas asas keadilan sehingga tercapai kesejahteraan dan dalam perjalanan pencapaian masyarakat adil sejahtera tersebut tidak mendobrak aturan Allah yang tertuang dalam Al-Qur’an sehingga adil sejahtera yang dicapai oleh penduduk meruapak adil makmur yang diharapkan oleh Allah SWT. Jadi setiap perjuangan dalam pencapaian masyarakat adil makmur mesti berpedoman pada aliran Islam yang tertuang dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

FUNGSI DAN PERAN HMI

HMI Berfungsi Sebagai Organisasi Kader
(Pasal 8 AD HMI)

HMI selaku organisasi kader adalah organisasi mahasiswa yang berorientasikan Islam yang melakukan perkaderan, dimana seluruh kegiatan yang dijalankan pada dasarnya ialah proses kaderisasi, sehingga HMI berfungsi dan cuma senantiasa membentuk kader-kader muslim intelektual yang profesional.

HMI Berperan Sebagai Organisasi Perjuangan (Pasal 9 AD HMI)

HMI berperan selaku organisasi usaha adalah organisasi yang senantiasa berjuang melakukan dan membentuk kader bangsa yang muslim, intelektual, dan profesional dimana outputnya ditujukan untuk kepentingan bangsa secara keseluruhan, sehingga manusia HMI siap dan mampu berguna bagi seluruh golongan yang ada di masyarakat selama tidak bertentangan dengan koridor misi HMI.

HUBUNGAN MISSION SECARA INTEGRAL

Hubungan antara asas, tujuan, sifat, status, fungsi dan peran HMI secara integral adalah dalam pencapaian dan memperjuangkan mission HMI mesti dikerjakan secara utuh dan menyeluruh, dan satu sama lain saling mempengaruhi, dan menentukan sehingga tidak bisa ditinjau secara parsial.

Dalam diri kader HMI mesti :

  • Senantiasa memperdalam kehidupan rohani semoga menjadi luhur dan bertaqwa pada Allah SWT
  • Selalu tidak puas dan berkemauan keras untuk mencari kebenaran, HMI cuma komit pada kebenaran
  • Jujur pada dirinya dan pada orang lain dan tidak mengingkari hati nuraninya
  • Teguh dalam pendirian dan obyektif rasional bila berhadapan dengan orang yang berlainan pendirian
  • Bersikap kritis dan berfikir bebas kreatif.