close

Mengapa Kita Mesti Berbuat Kebaikan ?? Berikut Penjelasannya….

AYAT-AYAT AL-QUR’AN TENTANG KOMPETISI DALAM KEBAIKAN

MUQADDIMAH
 
Pernahkah kau membantu pekerjaan ayah dan ibu di rumah atau membantu teman yang sedang susah?Pasti pernah! Hal tersebut adalah perbuatan terpuji dan sangat bagus. Jika tindakan baik tersebut terus dikerjakan dan menjadi kebiasaan, Allah akan menunjukkan hikmah dan ilmuNya sebagai balasan perbuatan baik.

Allah Swt. tidak pernah memerintahkan manusia untuk saling bermusuhan, membunuh atau saling merusak milik orang lain, baik kepada milik sesama muslim maupun milik orang lain yang bukan muslim. Allah Swt. memerintahkan insan untuk menyembah-Nya, tidak menyukutukan-Nya dengan sesuatu , dan berlomba-kontes berbuat baik kepada sesama makhluk terutama insan tanpa membedakan jenis kelamin, agama, suku, bangsa, dan kalangan. Menolong atau mengendorkan penderitaan orang lain adalah salah satu bentuk dari perbuatan baik dan tergolong keharusan.
A.    Surah Al-Baqarah / 2:148

Surah Al-Baqarah tergolong golongan surah Madaniyah.

Artinya : “ Dan setiap umat mempunyai kiblat yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan menghimpun kau seluruhnya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu”. (QS. Al-Baqarah/2:148)
Isi Kandungan :
Setiap umat memiliki kiblat masing-masing. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menghadao ke Kakbah, bani Israil dan orang-orang Kristen menghadap Baitul Makdis, dan Allah telah menyuruh supaya kaum muslim menghadap ke Kekbah yang serupa dalam shalat. Oleh alasannya adalah itu, hendaknya kaum muslim bersatu, terus melakukan pekerjaan dengan ulet, bederma, bertobat, dan berlomba-kontes menciptakan kebajikan serta tidak  menimbulkan fitnah atau cemooh dari orang-orang yang ingkar sebagai penghambat. Allah akan menghimpun seluruh manusia untuk dihitung dan diberi akhir segala amal perbuatannya. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu ada tidak ada yang dapat melemahkan-Nya untuk mengumpulkan seluruh insan pada hari pembalasan.
Berlomba-kontes dalam berbuat kebaikan memiliki arti menaati dan patuh untuk melakukan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dengan semangat yang tinggi. Allah akan membalas kebaikan dengan surga dan berada di dalamnya abadi selama-lamanya kepada orang yang beriman, berbuat baik, dan bantu-membantu.
Dalam Al-Qur’an, Allah banyak berfirman tentang perintah kepada manusia untuk berbuat kebajikan dan gotong royong dalam takwa serta meninggalkan perbuatan jahat. Kita wajib berbuat kebajikan sesuai kemampuandi mana pun, kepada siapa pun, dan kapan pun. Adapun terhadap orang yang berbuat jahat, Allah akan memperlihatkan siksa yang amat pedih dan keras. Pada tiap-tiap amalan atau tindakan, baik kecil maupun besar, Allah pasti akan berikan akibat-Nya. Hal tersebut menerangkan bahwa Allah itu Maha Adil.
Adapun ayat-ayat Allah yang berkaitan dengan suruhan berbuat baikdan meninggalkan tindakan jahat serta akhir bagi orang-orang yang berbuat baik dan balasan bagi orang-orang yang berbuat jahat di antaranya QS. Al-Baqarah/2:148, Az-Zalzalah/99:7-8, Al-Maidah/5:2,dan An-Nisa /4:85, 122-123.
Selain ayat-ayat diatas masih banyak firman Allah perihal suruhan berbuat kebajikandan larangan berbuat kejelekan serta akhir-balasan bagi tiap-tiap tindakan tersebut.
B.  Surah Fatir/35: 32
Surah Fatir termasuk kategori Makiyah dan berisi 45 ayat.
Artinya: ”Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antar hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu yakni karunia yang besar.” ( QS. Fatir/35:32 ).
Isi Kandungan :
Dalam kehidupan, setiap orang niscaya akan senantiasa dihadapkan pada berbagai pilihan dan masalah. Hal yang dihadapi itu tidak mampu disingkirkan, namun untuk diatasa dan di cari jalan keluarnya. Orang-orang yang bisa menanggulangi problem dengan baik hanyalah orang yang bersandar pada kitab (hukum,ketentuan, atau ilmu pengetahuan) dari Allah Swt. dengan demikian ,ilmu wawasan memiliki peranan yang sungguh penting dalam kehidupan, khususnya untuk menanggulangi duduk perkara yang dihadapi. Islam memerintahkan kita berusaha keras dalam menimba ilmu pengetahuan dan hal itu sekali menjadi keharusan bagi kita selama hidup. Menuntut ilmu wawasan mesti diikuti pula dengan keimanan yang kuat agar mencapai derajat yang tinggi, baik di dunia maupun di akhirat.

Allah Swt menempatkan orang-orang yang beriman, berakal, dan berinfak saleh sesuai dengan ilmunya pada derajat yang tinggi. Allah Swt pasti meninggikan derajat orang-orang yang dalam dirinya terdapat tiga hal, ialah keimanan,ilmu wawasan, dan amal saleh.

Allah berfirman sebagaimana berikut.


Artinya : ….” Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat……”  (QS. Al-Mujadila/58:11)

Makin banyak tindakan baik atau kebajikan yang dilaksanakan oleh insan dalam hidup didunia, semakin tinggi kedudukannya dalam persepsi Allah, lebih-lebih nanti di alam darul baka. Ilmu mampu menawarkan insan metode pengembangan teknologi dan peradaban semoga insan lebih berbudaya. Sebelum kehadiran Islam, peluang menuntut ilmu pengetahuan bukanlah sesuatu yang umum. Tidak siapa pun diberikan hak untuk menimba ilmu, kecuali ialah monopoli kalangan-golongan tertentu, seperti kelompok pemerintah, aristrokrat, keluarga-keluarga terkemuka, dan kaluarga-keluarga kerajaan.

Ada sekitar empat puluh usulan menyangkut perincian ayat ini. Intinya, sebagian besar menyatakan bahwa ayat ini berbicara menyangkut tiga golongan insan, ialah orang yang menganiaya diri sendiri, orang yang pertengahan, dan orang yang berlomba dalam kebajikan dengan izin Allah. Dua diantaranya masuk nirwana dan satu ke neraka. kata “al khairat” dalam ayat ini mngisyaratkan bahwa ketiga kalangan tersebut semuanya mendambakan kabajikan itu. Hanya saja ada yang setengah hati melakukannya, bahkan ada yang menganiaya diri mereka sendiri sehingga tidak melakukan dengan baik atau sungguh-sungguh.

sebagian besar ulama mengatakan bahwa uruyan penyebutan golongan dalam ayat ini tidak menurut keutamaannya. Golongan yang zalim disebutkan lebih permulaan mampu jadi sebab kelompok ini yang terbanyak, setelah itu gres disebutkan yang pertengahan karena mereka berada diantara takut dan harapan, dan diakhiri dengan golongan yang berlomba dalam kebajikan semoga jangan ada seorang pun yang mersa aman dari ketetapan Allah. atau bisa jdi penyebutan kelompok yang berlomba dalam kebajikan pada urutan terakhir untuk mengisyaratkan bahwa merekalah yang tersekat dengan nirwana dan orang-orangb yang zalim yakni kalangan terjauh. Mereka semua mendapatkan banyak sekali pilihan atau duduk perkara dalam kehidupannya di dunia selaku cobaan yang nantinya akan mengambarkan masuk ke golongan manakah mereka nanti dan sehingga berupaya menjadi hamba yang terbaik dan melakukan kebajikan.

  Materi Kuliah Ketenagakerjaan Tanggungjawab Perusahaan Terhadap Buruh

intinya, isi kandungan  Surah Fatir/35: 32 yaitu upaya-upaya mengetahui hal-hal  selaku berikut.

a. Kitab Al-Qur’an ialah aliran dan isyarat bagi orang-orang yang bertakwa.

b. Ada sebagian orang yang tidak mau memiliki kesanggupan untuk membaca, mengerti dan melakukan isi kandungan Al-Qur’an sehingga mereka tergolong orang yang menganiaya pada diri mereka sendiri.

c. Tingkatan umat Islam dalam menerima atau mengamalkan Al-Qur’an ada tida tingkatan yaitu :

– Orang yang menganiaya dirinya sendiri adalah orang yang lebih banyak kesalahanannya dibandingkan dengan kebaikannya.

– Orang yang pertengahan, yaitu orang yang kebaikannya berbanding dengan kesalahannya.

– Orang yang lebih cepat berbuat kebaikan adalah, orang yang kebaikannya banyak dan jarang berbuat kesalahan.

d. Bagi orang yang banyak berbuat kebaikan, maka ia akan dimasukkan ke Surga Adn yaitu nirwana yang penuh dengan kenikmatan.

Sumber buku : Pendidikan Agama Islam 2 lentera kehidupan SMA kelas X1 oleh Drs. Margiono, M.Pd.
Drs. Junaidi Anwar dan Dra. Latifah.