close

Materi Kuliah Desain Ketuhanan Dalam Islam Wacana Filsafat Ketuhanan Dalam Islam

FILSAFAT KETUHANAN DALAM ISLAM
Perkataan Ilah, yang senantiasa diterjemahkan Tuhan , dalam Al-Qur’an dipakai untuk menyatakan banyak sekali objek yang dibesarkan atau dipentingkan manusia, misalnya dalam QS Al-Jatsiyah ayat 23 :
Artinya :  Maka pernahkah jamu melihat orang yang menyebabkan hawa nafsunya selaku tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat menurut ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan menaruh tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang mau memberinya isyarat sesudah Allah (membiarkannya sesat) . Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
Dalam QS. Al-Qashash ayat 38 perkataan Ilah  digunakan oleh Fir’aun untuk dirinya sendiri :
Artinya : Dan berkata Fir’aun : “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengenali dewa bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat,kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya saya dapat naik menyaksikan Tuhan Musa, dan bergotong-royong saya sungguh-sungguh yakin bahwa ia tergolong orang-orang pendusta”.
Contoh ayat-ayat tersebut diatas menawarkan bahwa, perkataan Ilah  bisa mengandung arti banyak sekali benda, baik absurd (nafsu atau impian pribadi )  maupun benda positif (Fir’aun atau penguasa yang dipatuhi atau dipuja)/ Perkataan Ilah  dalam Al-Qur’an jga digunakan dalam bentuk tunggal (murfrad : Ilaahun), ganda (mutsanna : Ilaahaini), dan banyak (jama’ : aalihatun). Bertuhan nol atau atheisme  tidak mungkin. Untuk dapat mengetahui definisi tentang Tuhan atau Ilah  yang sempurna berdasarkan penjelasan Al-Qur’an ialah sebagai berikut : Tuhan (Ilah) yaitu sesuatu yang dipentingkan (dianggap penting) oleh manusia sedemikian rupa, sehingga manusia merelakan dirinya dikuasai oleh-Nya”. Perkataan dipentingkan  hendaklah diartikan secara luas, tercakup di dalamnya yang dipuja, dicinta, diagungkan, diharap-harapkan mampu menawarkan kemaslahatan atau kegembiraan , dan termasuk pula sesuatu yang ditakuti akan menghadirkan bahaya atau kerugian.
Ibnu Taimiyah menunjukkan definisi al-Ilah selaku berikut :
Al-Ilah yakni : Yang dipuja dengan penuh kecintaan hati, tunduk kepada-Nya, merendahkan diri di hadapan-Nya, takut dan mengharapkan-Nya. Kepada-Nya kawasan berpasrah dikala berada dalam kesulitan, berdoa dan bertawakkal terhadap-Nya untuk kemaslahatan diri, meminta dukungan dari pada-Nya dan menjadikan ketenangan di saat mengingat-Nya dan terpaut cinta terhadap-Nya (M. Imaduddin),1989:56).
Berdasarkan definisi tersebut dapatlah dipahami, bahwa Tuhan itu bisa berbetuk apasaja, yang dipentingkan oleh manusia.Yang pasti ialahh , manusia tidak mungkin atheis,  mustahil tidak ber-Tuhan. Berdasarkan penegasan Al-Qur’an , bahwa bagi setiap manusia pasti ada sesuatu yang dipertuhankannya. Dengan demikian orang-orang komunis pada hakikatny bertuhan juga. Adapun Tuhan mereka yakni ideologi atau angan-angan (utopia) mereka.
Dalam ajaran Islam ditemukan pernyataan la ilaaha illa Allah . Susunan  kalimat tersebut dimulai dengan peniadaan, ialah tidak ada Tuhan, lalu baru dibarengi dengan penegasan melainkan Allah. Hal itu memiliki arti bahwa, seorang muslim mesti membersihkan diri dari segala macam kepercayaan terhadap Tuhan terlebih dahulu, sehingga yang ada dalam hatinya cuma satu Tuhan adalah Allah Swt.
(Wallahu’alam).. 
Sumber : 
 BUKU : MATERI PEMBELAJARAN MATA KULIAH PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA PERGURUAN TINGGI UMUM OLEH DEPARTEMEN AGAMA . Halaman 2-4.

  Ini Beliau Alasan Mengapa Nyamuk Suka Berdengung Di Sekeliling Indera Pendengaran?