Manusia Makhluk Istimewa

Posted on
manusia makhluk istimewa
Manusia makhluk istimewa
 

Oleh: Ust Ikin Shodikin (almarhum)

Manusia makhluk istimewa dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya. Karena ternyata pada manusia ada unsur-unsur makhluk lain, tetapi pada makhluk lain tidak ada unsur-unsur kemanusiaan.

Sebagaimana kita maklumi, makhluk menurut ulama ada yang masuk kelompok jamadat, nabatat, hayawanat, dan jinnat. Jamadat, makhluk tidak hidup. Nabatat, hanya sekadar tumbuh. Hayawanat. Adapun yang dimaksud dengan jinnat adalah makhluk yang tidak tembus pandang untuk manusia.

Dan ternyata manusia pernah menjadi jamadat, pernah pula menjadi jinnat. Maka ketika dalam rahim manusia disebut janin. Tapi kalau terus-menerus dalam janin tidak mustahil nantinya jadi majnun. Ia tidak bisa terus menerus menjadi janin, suatu saat ia harus keluar agar tidak majnun. Lalu disanalah akhirnya manusia mengalami proses hayawanat,  dalam arti hidup bergerak secara aktif, tidak bisa tinggal disatu tempat.

Sebagai contohnya, dulu ketika seseorang hendak menyebrang menuju masjidil haram  ada seorang supir yang berteriak ‘tsaur’ . waktu itu dia berlalu begitu saja, karena menurut urfi Ciganitri ‘tsaur’ artinya sapi. Tetapi setelah itu dia bertanya kepada seseorang yang sudah lama tinggal disana, dijelaskan bahwa ‘tsaur’ disana itu sama halnya dengan ‘anjing’, dia pun merasa tersinggung selang beberapa hari kemudian dia menyebrang lagi lalu ada sopir yang memanggil ‘tsaur’, dia pun berhenti dan menegurnya terlebih dahulu.

Inilah barangkali yang dimaksud manusia itu. Manusia tidak bisa tinggal dan terkurung hanya dengan satu ‘urfi’, satu saat ia harus meninggalkan ‘urfinya’, inilah yang yang dimaksud li ta’arufu, agar mengenal urfi masing-masing.

Lalu kenapa bisa terjadi demikian, padahal secara khalqiyyah manusia itu sama dengan hayawanat lainnya. Jelas memang, secara khalqiyyah, hanya dari segi fisik, manusia itu sama. Tetapi pada manusia kehebatannya itu karena ada unsur khuluqiyyah-nya.

Saya ambil contoh lagi, kalo kuda yang lari itu apanya? Antara kuda dan pemilik kuda ada perbedaan. Kuda yang lari itu kakinya. Pemilik kuda yang lari itu bukan kakinya, tapi yang memiliki kakinya, Cuma alatnya kaki. Makanya ketika kuda dan pemilik kuda dibalapkan, kuda yang menang, karena kuda itu yang lari kakinya. Kuda itu dipecut langsung lari dan tidak pernah berfikir takut jatuh. Tapi pemilik kuda, akan berfikir dulu, apakah nantinya jatuh atau tidak? Inilah kelebihan manusia, adanya unsur khalqun dan khuluqun.

Tetapi, pada umumnya manusia itu tersimpangkan oleh sesuatu yang mudah terlihat dan terdengar. Tidak heran, kalau laki-laki mencari calon istri, yang pertama kali dilihatnya itu apakah cantik atau tidak? Begitupula perempuan, yang pertamakali dilihatnya apakah tampan atau tidak?

Jadi, yang pertama diperhatikan itu adalah apa yang terlihat oleh mata dan  apa yang terdengar oleh telinga. Padahal, mata dan telinga suka salah. Kalau mata dan telinga suka salah yang meluruskannya siapa? Perasaan? Kalau perasaan salah yang melurusakannya apa? Akal? Kalau akal salah yang meluruskannya apa?

Banyak orang yang mengalami frustasi, karena tidak mempunyai jalan keluar. Semua hanya diserahkan pada kemampuan budidaya akal. Kalau kata akalnya benar maka itu benar. Tapi kalau suatu saat akalnya salah, apa yang akan meluruskannya.

Dalam suatu kuliah umum, seorang profesor mengatakan, “kita berduka cita karena kita kehilangan ilmuwan untuk Eropa.” Seorang ilmuwan dalam bidang fisika setelah terlebih dahulu membunuh anaknya. Tapi sebelumnya ia menulis surat. Isinya, segala persoalan yang sudah tidak bisa kita hadapi. Kembalikanlah kepada-Nya.

Siapa “Nya” itu? Padahal sebelumnya ia seorang Atheis? Sebelumnya ia mamandang segala sesuatu harus menurut akal?

Pada saat itulah orang membuka mata, bahwa hakikatnya segala sesuatu itu ada keterbatasan. Manusia baik dari segi khalqun atau khuluqun, ada keterbatasan. Kalau sedang makan ‘kabuhulan’ (tersedak) ada obatnya, yaitu air. Tapi kalau kabuhulan ku cai apa obatanya? Kini justru banyak orang yang kabuhulan ku cai. Segala persoalan hanya diserahkan kepada akal. Segala yang tidak diterima akal, mustahil, dan mustahil. Itulah kekeliruan.

Mengapa firman Allah berikut ini diawali oleh, “amanar rasulu bima unzila ilaihi min rabbihi wal mu’minuna? Ini menunjukan bahwa Rasul pun dituntut iman karena apa yang diturunkan kepadanya adalah masalah ghaib.

Dari sanalah bagaimana menghadapi dan menyikapi Bima unzila ilaihi min rabbihi. Apa yang harus kita hadapi itu? Apa alatnya? Apakah hanya sekadar khalqun? Mustahil. Atau yang harus kita gunakan itu alatnya khuluqun?