close

Kumpulan Puisi Hari Kebangkitan Nasional Karya Taufik Ismail

Dear Sobat , bagaimana cara Sobat memaknai momentum Hari Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei?

Agaknya ada banyak cara untuk menyambut Harkitnas ya. Salah satunya yakni dengan membaca, musikalisasi, hingga dramatisasi puisi karya Taufik Ismail.

Mengapa kok puisinya Taufik Ismail?

Beliau ialah sastrawan alias penyair yang konsisten menulis puisi beragam tema, tergolong juga puisi wacana Kebangkitan Nasional.

Penyair yang bergelar Datuk Panji Alam Khalifatullah dan lahir 25 Juni 1935 mempunyai beberapa puisi bernuansa Kemerdekaan dan semangat nasionalisme yang menyentuh hati, dan juga berisi keresahan terkait eksistensi negeri ini.

Nah, berikut disuguhkan beberapa teladan puisi bertema Hari Kebangkitan Nasional karya Taufik Ismail yang berisikan semangat nasionalisme.

Mari disimak ya:

Puisi Hari Kebangkitan Nasional Karya Taufik Ismail

Puisi Hari Kebangkitan Nasional Karya Chairil Anwar

Puisi 3: Kembalikan Indonesia Padaku

Karya Taufik Ismail

Hari depan Indonesia yaitu dua ratus juta lisan yang menganga,
Hari depan Indonesia yakni bola-bola lampu 15 wat,
sebagian berwarna putih dan sebagian hitam,
yang menyala bergantian,
Hari depan Indonesia yakni pertarungan pingpong siang malam
dengan bolayang bentuknya mirip telur angsa,
Hari depan Indonesia yaitu pulau Jawa yang tenggelam
alasannya adalah seratus juta penduduknya,

Kembalikan Indonesia padaku

Hari depan Indonesia yakni satu juta orang main pingpong siang malam dengan bola telur angsa di bawah sinar lampu 15 wat,
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang pelan-pelan tenggelam lantaran berat bebannya kemudian belibis-bebek berenang-renang di atasnya,
Hari depan Indonesia ialah dua ratus juta mulut yang menganga, dan di dalam ekspresi itu ada bola-bola lampu 15 wat, sebagian putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,

Hari depan Indonesia adalah angsa-angsa putih yang berenang-renang sambil main pingpong di atas pulau Jawa yang karam dan menenteng seratus juta bola lampu 15 wat ke dasar lautan,

Kembalikan Indonesia padaku

Hari depan Indonesia yaitu pertarungan pingpong siang malam dengan bola yang bentuknya mirip telur belibis,
Hari depan Indonesia yakni pulau Jawa yang karam alasannya seratus juta penduduknya,
Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat, sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,

Kembalikan Indonesia padaku

*

Boleh Baca: Puisi Indonesia Tangguh Indonesia Tumbuh

Puisi 4: Kalian Cetak Kami Jadi Bangsa Pengemis

Karya Taufik Ismail

Kami generasi yang sangat kurang rasa yakin diri
Gara-gara pewarisan nilai, sangat dipaksa-tekankan
Kalian bersengaja menjerumuskan kami-kami
Sejak lahir sampai dewasa ini
Makara sungguh tepergantung pada budaya
Meminjam duit ke luar negeri
Sudah satu keturunan jangka waktunya
Hutang senantiasa dibayar dengan hutang gres pula
Lubang itu digali lubang itu juga ditimbuni
Lubang itu, alamak, kok kian besar jadi
Kalian paksa-tekankan budaya berhutang ini
Sehingga apa bedanya dengan mengemis lagi
Karena rendah diri pada bangsa-bangsa dunia
Kita gadaikan sikap bersahaja kita
Karena aib dianggap bangsa miskin tak berharta
Kita pinjam uang mereka membeli benda mereka
Harta kita mahal tak terkira, harga diri kita
Digantung di etalase kantor Pegadaian Dunia
Menekur terbungkuk kita berikan kepala kita bareng
Kepada Amerika, Jepang, Eropa dan Australia
Mereka negara multi-kolonialis dengan elegansi ekonomi
Dan ramai-ramailah mereka pesta kenduri
Sambil kepala kita dimakan begini
Kita diajarinya pula tata negara dan ilmu budi pekerti
Dalam upacara masuk masa penjajahan lagi
Penjajahnya banyak gerakannya penuh harmoni
Mereka mengerkah kepala kita gotong royong
Menggigit dan mengunyah terorganisir berirama

Sedih, duka, tak terasa jadi bangsa merdeka lagi
Dicengkeram kuku negara multi-kolonialis ini
Bagai ikan kekurangan air dan zat asam
Beratus juta kita menggelepar menggelinjang
Kita terperangkap terjaring di jala raksasa hutang
Kita menjebakkan diri ke dalam krangkeng budaya
Meminjam kepeng ke luar negeri
Dari membuat peniti dua senti
Sampai membangun kilang gas bumi
Dibenarkan serangkai teori penuh sofistikasi
Kalian memberi acuan hidup boros berasas gengsi
Dan fanatisme mengimpor barang luar negeri
Gaya hidup imitasi, hedonistis dan materialistis
Kalian cetak kami jadi Bangsa Pengemis
Ketika menadahkan tangan serasa memasarkan jiwa
Tertancap dalam berbekas, selepas tiga dasawarsa
Jadilah kami generasi sangat kurang rasa percaya
Pada kekuatan diri sendiri dan kayanya sumber alami
Kalian lah yang membuat kami jadi begini
Sepatutnya kalian kami giring ke lapangan sepi
Lalu tiga puluh ribu kali, kami cambuk dengan puisi ini

***

Demikianlah tadi seutas menu ihwal kumpulan acuan puisi Hari Kebangkitan Nasional karya Taufik Ismail.

Puisi di atas bisa Sobat bacakan atau pentaskan dalam rangka menyambut momentum Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap tanggal 20 Mei.

Semoga berguna ya
Salam.

  Puisi Romantis “Tentang Kamu” Yang Menciptakan Hati Semakin Rindu