close

Jangan Mengkhawatirkan Rezeki Anak-Anak, Namun Khawatirkan Keselamatan Agama Mereka!

Assalamu’alaikum.. semangat malam sahabat-sobatku.. 
Jangan lupa untuk mengucap syukur ketika sahabat menutup istirahat malam ini untuk mengawali hari esok dan berharap agar hari esok akan lebih baik dari hari ini. Ohiya.. sebelum istirahat baiknya yuuuk sahabat kita membaca bacaan yang berguna semoga memperbesar wawasan kita.
Hari ini aku ingin menyebarkan perihal apa yang sudah saya baca di sosmed saya, salah satunya di akun  LINE, mirip umumsebelum istirahat saya membuka akun sosmed yang aku miliki sembari memeriksa siapa tau ada bacaan yang bermanfaat dan Alhamdulillah pembahasan kali ini menurut saya penting untuk kita renungkan dan memperbesar pengetahuan kita bareng .


Yuuupsss… judulnya perihal “JANGAN MENGKHAWATIRKAN REZEKI ANAK-ANAK, TAPI KHAWATIRKAN KESELAMATAN AGAMA MEREKA!”
Seperti yang sahabat ketahui bersama  pertumbuhan zaman, aneka macam isu sara sudah menciptakan kita gundah, fatwa, sopan santun anak bangsa menjadi salah satu bidikan kaum liberal dalam membabat abis adab dan adab, yah bisa dikatakan adanya “pembersihan otak secara halus” melalui media umum, tayangan-tayangan TV mulai dari iklan, informasi, dan sinetron-sinetron yang tak jelas ending dan jalan ceritanya. Nauzubillah….
Berkaitan dengan judul artikel diatas, mari simak bareng Mu’awiyyah al-Aswad rahimahullah berkata :
“Jangan duka mempertimbangkan rezeki orang-orang  yang engkau tinggalkan, karena engkau tidak dibebani untuk memberi rezeki terhadap mereka.”
(An-Nafaqah Alal’Iyah karya Ibnu Abid Dunya, jilid 2 hlm. 654)
Yaaaah.. begitulah kerap kali kita terlalu mempertimbangkan hal-hal yang sebetulnya tidak perlu kita fikirkan atau khawatirkan, terlebih kehidupan zaman sekarang.. kemiskinan, kelaparan, langkah-langkah kriminal de el el menciptakan kita geleng-geleng kepala dikala menonton isu. Namun, untuk rezeki selagi kita berupaya untuk mencarinya supaya Allah meluaskan seluas-luasnya rezeki kita agar kita dapat membantu sesama, dan saling memberi manfaat, serta saling menasehati dalam menaati kebaikan.
Jadi,,, yuuuk sahabat kita mencar ilmu bersama untuk tidak terlalu mengkhawatirkan rezeki kita, alasannya Allah telah menjamin untuk semua makhluk hidup. Namun, yang perlu kita khawatirkan yakni amalan kita karena Allah tidak menjamin seorang insan masuk surga. Mari perhatikan uraian indah dari Ibnu Qoyyim rahimahullah berikut ini :
“Fokuskanlah pikiranmu untuk mempertimbangkan apapun yang ditugaskan Allah kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang memang telah dijamin oleh Allah untukmu. Karena rezeki dan kematian, rezeki niscaya datang. Jika Allah dengan hikmah-Nya berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti dengan rahmat-Nya membukakan jalan lain yang jauh lebih bermanfaat bagimu.
Renungkanlah keadaa janin, makanan datang kepadanya, berupa darah dari satu jalan, yaitu pusar. Lalu dikala ia keluar dari perut ibunya maka terputuslah jalan rezeki itu, Allah membuka untuknya dua jalan rezeki lainnya [Yakni dua puting susu ibunya], dan Allah mengalirkan untuknya di dua jalan itu; rezeki yang lebih baik dan lebih yummy dari rezeki yang pertama, itulah rezeki susu murni yang lezat.
Lalu sesudah kurun menyusui telah habis dan terputus dua jalan rezeki itu dengan sapihan, Allah membuka empat jalan rezeki  lain yang lebih tepat dari yang sebelumnya; yaitu dua makanan dan dua minuman. Dua makanan berasal dari hewan dan flora, dan dua minuman berasal dari air dan susu serta segala faedah dan kelezatannya yang ditambahkan kepadanya.
Lalu ketika beliau meninggal, terputuslah empat jalan rezeki ini, namun Allah membuka baginya delapan jalan rezeki jikalau ia hamba yang mujur. Itulah pintu-pintu surga yang berjumlah delapan, beliau boleh masuk nirwana dari mana saja ia inginkan.
Dan begitulah Rabb, Dia tidak menghalangi hamba-Nya untuk menerima sesuatu, kecuali Dia berikan sesuatu yang lebih baik berguna baginya, dan itu tidak diberikan kepada selain orang mukmin, alasannya Dia membatasi dari bagian yang rendahan dan murah dan Dia tidak rela hal tersebut untuknya, untuk mmemberinya bab yang mulia dan berharga” (Kitab Al-Fawaid, hal :57)
Maka, untuk itu yang mesti diperhatikan jangan sampai dikala kita meninggal, kita meninggalkan generasi yang lemah dan jauh dari pemahaman agama. Yaaaah.. meskipun begitu kita juga harus memperhatikan belum dewasa kita agar hidup pantas.
Banyak-banyak berdoa supaya kita semua dihindarkan dari fitnah dunia ini, dijauhkan dari azab kubur, neraka, agar kita salah satu dari hamba yang senantiasa mendapat petunjuk dan rahmat-Nya. Aamiin..
Semoga berfaedah.. ayooo sama-sama berusaha menjadi lebih baik dari hari ini.. 
Wallahu a’lam…
Sumber bacaan :
LINE “Moslem Story”. Diakses pada Rabu, 4 April 2018, pukul : 22.14 WITA.