close

Istrimu Bukan Konsumsi Publik

 Assalamu’alaikum.. setuju jika membahas tentang artikel ini semua akan mengeluarkan anutan masing-masing dan mulai berdebat sampai sering kali lebih mengikuti praduga yang menurutnya memang masuk logika dan lebih baik dari apa yang sudah diajarkan agama. Nauzubillah

Nah… bagi sahabat yang hendak berguru mari kita sama-sama belajar dengan suasana yang menjadi hal umumdalam persepsi publik tetapi, mempunyai konsekuensi di darul baka kelak.

Pembahasan ini saya copy dari grup WA. Mari kita sama-sama berupaya memperbaiki diri kita, belajar perihal banyak sekali hal dalam agama kita, agar kelak dikala di tanya “apa yang kita lakukan dengan waktu kita” hal ini InsyaAllah akan menolong kita alasannya adalah kita berupaya mencari tahu, mau belajar.

ISTRIMU BUKAN KONSUMSI PUBLIK

Baiknya istri kita tidak jadi konsumsi biasa . 

 Yang lazimterjadi yaitu di Media sosial seperti Facebook, dll.
Ada istri foto selfie sendirian.
 Ada pula yang menunjukkan kemesraan dengan suami di medsos.

Yang terjadi pula istri suka berdandan untuk orang lain saat keluar rumah. Sedangkan untuk suami? Dandannya pas pasan, bahkan lebih bahagia menunjukkan bau keringat dibandingkan dengan kecantikannya.

Begini alasannya..

Seorang suami dikala telah melaksanakan pernikahan, berarti perwalian dari orang bau tanah perempuan telah berpindah padanya. Sehingga nafkah istri sepenuhnya jadi tanggung jawab suami.

Nah.. jikalau demikian mempunyai arti keelokan istri secara mutlak milik suami.
Jika demikian, apakah pantas istri itu diobral, ditonton banyak orang?

 Setiap orang boleh menikmati kecantikannya?
 Kenapa dandanan istri hanya untuk suaminya, bukan jadi konsumsi lazim?

Lihatlah perintah Allah Ta’ala :
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan hendaklah kau tetap di rumahmu dan janganlah kau berhias dan berperilaku laris mirip orang-orang Jahiliyyah yang dulu”. (QS. Al-Ahzab : 33)

  Waspadalah!! Ini Pengaruh Buruk Membaca Di Gadget Sambil Tiduran

Maqatil bin Hayan menyampaikan bahwa yang dimaksud berhias diri adalah seseorang menggunakan khimar (kerudung) di kepalanya namun tidak menutupinya dengan sempurna. Dari sini terlihatlah kalung, anting dan lehernya.

Jika para suami- mendapati istri yang disayangi, yang selalu menjaga kecantikannya hanya untuk suami saja, maka bersyukurlah. Karena itulah ciri ciri perempuan terbaik sebagaimana disebut dalam hadits berikut :

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata :

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

 
Pernah ditanyakan terhadap Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam “Siapakah wanita yang paling baik?”

Jawab ia:

“Yaitu yang paling mengasyikkan kalau dilihat suaminya, mentaati suami bila diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci”.

(HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 432. Al-Hafizh Abu Thahir menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Bandingkan dengan wanita ketika ini, bahkan yang telah berhijab. Mereka lebih ingin jadi konsumsi biasa daripada untuk suaminya sendiri.

Itulah bedanya wanita muslimah dahulu yang shalihah dengan yang sekarang yang kian rusak.

Semoga Allah beri hidayah pada para istri untuk menjadi istri shalihah serta membahagiakan suami dan keluarga.
 

Sumber :

Grup Tholabul’ilmi Akhwat

Wallahu a’lam