close

Idhofah Sebagai Bentuk Kepemilikan

Bismillah….Kali ini belajar bahasa arab dari nol akan memasuki Materi Ke 5 dari Buku Durusul Lughah Al-Arabbiyah I karya Dr V Abdurrahim. Kita memulai dengan mempelajari Idhofah selaku Bentuk Kepemilikan. Perhatikan.

“Pena muhammad” bagaimana bahasa Inggrisnya? Muhammad’s pen atau pen of Muhamad. Betul kan?! Sedangkan bahasa arab yakni قَلَمُ مُحَمَّدٍ. Bentuk tersebut dinamakan الإِضَافَةُ.

Kita lihat contoh di atas, berisikan 2 kata. Kata pertama (قلم) sebagai benda yang dimiliki dan ia disebut mudhaf مُضَافٌ. Sedangkan kata kedua (محمد) selaku pemilik benda disebut mudhaf ilaih. Mudhaf ketentuannya yakni tidak mempunyai al dan tanwin. Dan dia mampu marfu, manshub ataupun majrur. Sedangkan untuk mudhaf ilaih dia mesti/senantiasa majrur namun mampu berupa ma’rifah ataupun nakiroh.
Contoh:
Buku muhammad = كِتَابُ مُحمدٍ.
Perhatikan. Kata pertama adalah benda yang dimiliki. Ia disebut mudhaf. Mudhaf tidak memakai al dan tidak berakhiran tanwin. Mengapa berakhiran dhommah? Ingat, segala sesuatunya selalu buat dalam kondisi marfu, kecuali ada yang menciptakan dia menjadi majrur atau manshub. dan kita sudah mencar ilmu kapan isim menjadi majrur yaitu jika diawali harf jar -dan sekarang kita tahu isim menjadi majrur kalau ia menjadi mudhaf ilaih-. Sedangkan untuk manshub, kita belum mencar ilmu. Kata kedua adalah pemilik benda. Ia disebut mudhaf ilaih. Mudhaf ilaih harus majrur.

Sekarang coba buat bentuk kepemilikan dari kata2 berikut ini.
مكتبٌ + المدرسُ menjadi مكتبُ المدرسِ
قلمٌ + حامدٌ menjadi قلمُ حامدٍ
مفتاحٌ + البيتُ menjadi مفتاحُ البيتِ
بيتٌ + عبّاسٌ menjadi بيتُ عبّاسٍ
دكّانٌ + التاجرُ menjadi دكّانُ التاجرِ
Bagaimana? Sulit? Insyaallah dengan banyak berlatih membuat kita semakin paham. Makara, teruslah berlatih..

Itu penjelasan panjang lebar di atas ialah hukum dasar membuat bentuk idhofah, sekarang kita akan sedikit mengembangkannya dengan materi-materi yang telah kita pelajari.

  Apa Arti Lafadz Nasyitun?

Tadi dibilang mudhaf bisa marfu, majrur ataupun manshub. berikut teladan dari mudhaf yang majrur.
Bagaimana bahasa arabnya “rumah Allah”? بَيْتُ اللهِ. Kalau “dari rumah Allah”? مِنْ بَيتِ اللهِ . amati pada بيت. Sekarang ia majrur? Kenapa? Karena sebelumnya ada harf jar. Gampang kan?
Kenapa الله tetap majrur? Ya karena dia mudhaf ilaih. Perhatikan, isim yang diawali harf jar , dia mesti majrur. Begitu pula mudhaf. Jika beliau diawali harf jar, maka otomatis beliau menjadi majrur.
Kita coba lagi. Apa bahasa arabnya “nama Allah”? اِسْمُ اللهِ. Kalau “dengan nama Allah” (dengan = بِ — > harf jar)? بِسْمِ اللهِ. Bagaimana? Ternyata apa yang senantiasa kita ucapkan setiap akan mengawali acara mengandung idhofah..

Sekarang kita akan menjajal mengaplikasikannya…
Mari kita simak percakapan Said, Yasir, dan Ali (cobalah untuk membaca dan menerjemahkan):

Bisa membacanya? Bisa mengartikannya? Coba dicocokkan dengan ini..
سَعيدٌ : أَكِتَابُ مُحَمَّدٍ هَذَا يَا يَاسِرُ
1. Apakah buku Muhammad (yaitu) ini wahai Yasir?
ياسرٌ : لا, هَذَا كِتَابُ حَامِدٍ.
2. Tidak, ini buku Hamid.
سعيدٌ : أَيْنَ كِتَابُ مُحَمَّدٍ؟
3. Dimana buku Muhammad?
ياسرٌ : هُوَ عَلَى الْمَكْتَبِ هُناكَ.
4. Dia di atas meja di sana
Kita jelaskan masing2 poinnya ya..

Poin 1,
Apakah ada idhofah di situ? Ada! Apa itu? كِتَابُ مُحَمَّدٍ. Mana mudhafnya? كِتَابُ. Mana mudhaf ilaihnya? مُحَمَّدٍ.
Coba bandingkan dengan poin 2, pada poin 1 هذا berada di belakang, sedangkan pada poin 2 ia berada di permulaan kalimat. Hal ini, ialah selaku pemfokusan dalam kalimat tanya.
bandingkan “rasa” dari dua kalimat di bawah ini:
أَكِتَابُ مُحَمَّدٍ هَذَا؟
أَهَذَا كِتَابُ مُحَمَّدٍ؟

Beda kan? akan terasa lebih “mantab” dengan kalimat yang pertama.

  Bahan 4A (Book 1)

يَا يَاسِرُ. Mengapa يَا يَاسِرُ bukan يَا يَاسِرٌ? Hal ini sebab يَا yaitu harfu nida ialah partikel untuk memanggil seseorang. Dan isim sesudahnya tidak mempunyai al ataupun tanwin sehingga يَاسِرُ bukan يَاسِرٌ. Begitu pula dengan يَا مُدَرِّسُ bukan يَا المُدَرِّسُ terlebih يَا مُدَرِّسٌ.
Insyaallah ke depan akan dijelaskan lebih lanjut.

Poin 2,
هَذَا كِتَابُ حَامِدٍ. jumlah ismiyah atau fi’liyah? Jumlah ismiyah. Kenapa? Karena diawali isim, yakni هَذَا.mana mubtadanya? هَذَا. Mana khabarnya? كِتَابُ. Ya. HANYA كِتَابُ . bagi yang pernah berguru bahasa Arab, mungkin Anda diajarkan bahwa khabarnya yakni كِتَابُ حَامِدٍ. Tapi, DR V Abdurrahim berlawanan dalam hal ini. nah, karena di sini kita berguru memakai tata cara dia, jadi untuk irobnya khabarnya hanya كِتَابُ. Dan tolong jangan diperdebatkan. Toh tidak terlalu signifikan. Dan silakan saja jika di luar, Anda tetap berpedoman bahwa khabarnya ialah كِتَابُ حَامِدٍ.
كِتَابُ juga sebagai mudhaf (m) dan حَامِدٍ ialah mudhaf ilaih(mi).
Biasanya kita tulis : mb-k/m-mi

Poin 3,
Tidak perlu diterangkan.

Poin 4,
Mengapa هُوَ ? alasannya adalah beliau mengambil alih كتاب pada poin 3 yang bergender mudzakar.
هُناكَ adalah zarf ظرف. Yang artinya di sana “There”.
هُوَ عَلَى الْمَكْتَبِ هُناكَ. Irobnya : mb-(hj-im)/jm/sj/k-z

Selanjutnya mari kita teruskan mendengarkanpercakapan Said, Yasir dan Ali

Bisa membaca dan menerjemahkannya? Silakan dicocokkan…
سعيد : أَيْنَ دَفْتَرُ عَمَّارٍ؟
5. Di mana buku catatan Ammar?
ياسر : هُوَ عَلَى مَكْتَبِ المُدَرِّسِِ.
6. Dia di atas meja guru
سعيد : قَلَمُ مَنْ هَذَا يَا عَلِيُّ؟
7. Pena siapa ini wahai Ali?
عليٌّ : هَذَا قَلَمُ المُدَرِّسِِ.
8. Ini pena guru
سعيد : أَيْنَ حَقِيْبَةُ المُدَرِّسِ؟
9. Di mana tas guru?
عليٌّ : هِيَ تَحْتَ المَكْتَبِ.
10. Dia di bawah meja.

  Bahan 1 (Book 1)

Poin 5,
Sudah terperinci kan?

Poin 6,
Irobnya : mb-jm/sj/k(hj-im/m)-mi.
Bingung g?hehe… berikut penjelasannya:
Mb : هُوَ
Jm/sj/k : عَلَى مَكْتَبِ
Hj : عَلَى
مَكْتَبِ
: Ia selaku isim majrur (im) dan sebagai mudhaf(m)
Mi : المُدَرِّسِِ

Sebelumnya cb bandingkan dua kalimat ini:
.هُوَ عَلَى المَكْتَبِ هُنَاكَ
.هُوَ عَلَى مَكْتَبِ المُدَرِّسِ

Pada kalimat pertama عَلَى المَكْتَبِ sedangkan pada kalimat kedua عَلَى مَكْتَبِ. Kira2 kenapa hayo? Betul!!! jawabnya yakni pada kalimat kedua مَكْتَبِ bertindak juga selaku mudhaf. Dan mudhaf dilarang memakai al dan tanwin. Masih Ingat kan???

Poin 7,
Pena Muhammad bahasa Arabnya yaitu قلمُ محمدٍ. Sekarang kalo misalnya kita tidak tahu pemiliknya maka kita menggantinya dengan مَنْ. Sehingga menjadi قَلَمُ مَنْ. Lantas apakah مَنْ majrur? Ya. Karena dia adalah mudhaf ilaih. Masih ingat هذا pada bahan 3? هذا tidak berubah. Bentuk marfu, manshub dan majrurnya sama. Begitu pula dengan من. Bentuk marfu, manshub dan majrurnya ya tetap من. g galau kan?
Ini pena Muhammad, bagaimana bahasa arabnya? هذا قلمُ محمدٍ. Nah, jika kita ingin menanyakan pemiliknya, susunan itu dibalik -sebagai mana dalam poin ke 7 ini- menjadi قلمُ منْ هذا؟.
Pada poin 7 ini kembali kita berjumpa harfu nida sehingga isim setelahnya tidak memakai al ataupun tanwin. يَا عَلِيُّ

Poin 8,
Irob : Mb-k/m-mi

Poin 9,
Sudah jelas kan?

Poin 10,
Kenapa هي? Karena selaku pengganti pada poin 9 yaitu حقيبة yang muannats (ada ta’ marbuthoh).
تحت yaitu zarf. Sehingga isim setelahnya adalah mudhaf ilaih. Akan kita bahas lebih lanjut, insyaallah…
Irobnya : mb-z/sj/k-mi

Ok. Sementara materi ihwal idhofah cukup itu dahulu… mudah kan? biar kita semua mampu memahaminya…