close

Ibnu Tufail

1.     PENDAHULUAN
Sebelum tiba agama islam adalah insan berada dalam kondisi yang

sangat memprihatinkan dari segi berfikir dan bertindak. Mereka hanyut dalam kegelapan dan tidak memedulikan peradaban sebagaimana hidupnya kabilah-kabilah yang saling berdampingan namun tak memiliki rasa tenggangrasa antar sesama. Seperti hidupnya para kabilah-kabilah di kawasan Najd, Iraq, Syam, Hijaz, Bahrain, ‘Amman, Yaman dan penduduk yang tinggal di padang pasir (البداوى).[1]

          Dengan hadirnya agama Islam melalui ilmu yang senantiasa menjadi landasan

dalam berfikir dan bertindak, umat islam menjadi umat yang maju bahkan mengalahkan cara berfikir dan bertindaknya bangsa eropa, bahkan umat islam bisa menciptakan bangsa eropa terbelalak menyaksikan pertumbuhan-pertumbuhan yang diraih oleh umat islam terhadap nilai-nilai adat dan keilmuan yan sangat tinggi, sehingga menghasilkan para ilmuan yang pakar-pakar dalam aneka macam bidang termasuk bidang filsafat.

Sebagai acuan Andalus, yang ialah pusat kebudayaan islam di eropa yang sudah menciptakan ilmuan kelas dunia sehingga dihadiri banyak pelajar dari bangsa eropa mirip Ibnu Rusdy, Imam Thobary, dsb. untuk menghidupkan semangat dalam mempelajari ilmu filsafat, ia berupaya memperlihatkan pengertian bahwa ilmu filsafat itu tidak berlawanan dengan wahyu Allah Swt. Melalui karya-karyanya beliau berupaya merealisasikan itu, diantaranya yaitu cerita roman yang berjudul Hayy Ibn Yaqzhan. Dengan roman ini, dia menjajal membuktikan antara filsafat dan agama. Bagaimanakah Ibnu Tufail menuangkan hasil karyanya dalam roman ini?, Insyaalah penulis akan menawarkan keterangannya dalam makalah ini dari aneka macam sumber yang penulis dapatkan, diantaranya dalam buku كتاب الموسوعة الفلسفة الإسلامية و أعلامها karangan Yusuf Farhat.
2.     Biografi
Nama lengkapnya yakni Muhammad Bin Abdul Malik, dengan gelar Abu Bakar dan dinisbahkan terhadap bani Qois. Dia dilahirkan di desa وادى أش cadix Granada Andalus, adapaun tanggal kepastian dari kelahirannya tidak begitu dimengerti secara pasti, namun para hebat penghubung sejarah memberitakan kelahiran Ibnu Tufail pada kala ke-6 H[2], dan dalam buku Filsafat Islam, Prof. Dr. Sirajuddin Zar menulis bahwa kelahiran Ibnu Tufail pada tahun 506/1110 M.[3]
Disisi lain latar belakang sejarah dari Ibnu Tufail nyaris susah ditemui, demikian juga dengan para guru-gurunya dan perjalanan dalam mencari ilmu wawasan, praduga besar lengan berkuasa dia pernah berguru di Secville alasannya kota tersebut ialah pusat aktivitas keilmuan terbesar di Andalus pada sat itu. Ada yang mengatakan Ibnu Tufail mempelajari ilmu kedokteran di Granada dan ada pula yang mengatakan dia murid dari Ibnu Majjah, tetapi ia sendiri mengaku tidak pernah bertemu dengan filosof itu.[4] Kaprikornus selain menjadi filosof, Ibnu Tufail juga populer dengan bidang kedokteran, matematika dan penyair, dimana lewat karir dokternya dia menaiki tangga kesekretariatan Gubernur Ceuta dan Tangier putra Abdul Mu’min, penguasa Daulah Muwahhidun Spayol pertama yang merebut Marocco pada tahun 542 H yang kemudian menjabat selaku dokter tinggi dan menjadi Qodhi di pengadilan khalifah Abu Ya’qub Yusuf (558-580 H). Pada tahun 578 H Ibnu Tufail mengundurkan diri dari jabatannya alasannya adalah merasa telah bau tanah dan lemah dan menurut sarannya juga, jabatan dokter istana diserahkan oleh penguasa Daulah Muwahidun  kepada Ibnu Rusdy. Tiga tahun sehabis itu, Ibnu Tufail wafat dan pemakamannya dihadiri oleh penguasa dan pembesar Daulah Muwahhidun.[5]
Berpijak pada jabatan terakhir inilah Ibnu Tufail mendapat peluang Penuh untuk mengembangkan filsafatnya, namun sayang hanya sedikit sekali karya-karyanya yang sampai ke kita selain Hayy Ibn Yaqzhan. karya ini ialah sebuah roman filsafat pendek, tetapi memberikan pengaruh yang begitu besar sehingga karya tersebut dianggap selaku salah satu buku yang paling fantastis. Hal ini terbukti dengan banyaknya buku ini yang diterjemahkan kedalam bahasa Ibrani, Latin, Inggris, Belanda, Prancis, Spayol, Jerman, Rusia, sampai pada zaman terbaru pun minat terhadap karya ini masih tetap ada. Ahmad Amin menerbitkan dalam edisi bahasa arab, yang dibarengi terjemahaannya pada bahasa Persi dan Urdu.[6]
3.     Filsafat Hayy Ibn Yaqzhan
Dikarenakan karya ia yang tinggal ialah cerita Hayy Ibn Yaqhzan, maka untuk mengetahui filsafat Ibn Tufail pasti dengan cara mentelaah kisah in, alasannya beliau mengekpresikan filsafatnya dalam bentuk narasi. Ada yang menyampaikan bahwa cerita ini ditulis oleh Ibn Tufail sendiri sebagai balasan atas usul seorang sahabatnya yang ingin mengetahui hikmah ketimuran. Ada juga yang mengatakan goresan pena ini erat kaitannya dengan serangan Al-Ghazali kepada dunia filsafat. Dikala itu, orang-orang takut berfilsafat dan usaha-perjuangan filosof muslim yang telah mendamaikan antara filsafat dengan agama sudah sirna sama sekali. Juga buku-buku filsafata selama ini hanya untuk kelompok tertentu, sekarang sudah mampu pula dipahami oleh orang awam. Karena itu amat logis buku Ibnu Tufail ini ingin menghilangkan kondisi dan ingin mengembalikan filsafat ke tempatnya yang semula[7].
Dari keringkasan isi cerita tersebut, bahwasanya Ibn Tufail hendak mengemukakan kebenaran berikut ini, seperti yang yang ringkas oleh Nadhim al-Jist dalam buku Qissat al-akidah sebagaimana yang berikut :
a.      Urutan-urutan tangga ma’rifat yang ditempuh oleh logika, dimulai dari obyek-obyek indrawi yang khusus sampai terhadap fikiran-anggapan universal.
b.     Tanpa pengajaran dan isyarat , nalar insan bisa mengenali wujud tuhan, ialah dengan melalui tanda-tandanyapada makhluknya dan menegakkan dalil-dalil atas wujudnya.
c.      Akal manusia ini adakala mengalami ketumpulan dan ketidak mampuan dalam mengemukakan dalil-dalil pikiran, yakni ketika hendak menggambarkan keazalian mutlak, ketidak akhiran, zaman Qodim, hudust (gres) dan hal-hal lain yang sejenis dengan itu.
d.     Baik logika menguatkan qodimnya alam dan kebaharuannya, namum kelanjutan dari iman tersebut yaitu satu juga adalah adanya dewa.
e.      Manusia dengan akalnya sanggup mengetahui dasar-dasar keistimewaan dan dasar-dasar budpekerti yang bersifat amali dan kemasyarakatan, serta berhiaskan diri dengan dasar-dasar akhlak tersebut, disamping menundukkan impian-cita-cita tubuh pada aturan asumsi, tanpa melalaikan badan, atau meninggalkan sama sekali.
f.       Apa yang ditugaskan oleh syariat islam dan apa yang diketahui oleh nalar yang sehat dengan sendirinya, berupa kebanaran, kebaikan dan keindahan mampu berjumpa kedua-duanya dalam satu titik, tanpa diperselisihkan lagi.
g.     Pokok dari semua nasihat yakni apa yang telah ditetapkan oleh syara’ yakni mengarahkan pembicaraan kepada orang lain menurut kemampuan akalnya dan membuka kebenaran dan belakang layar-diam-diam filsafat terhadap mereka, juga pokok pangkal segala kebaikan yaitu menetapi batas-batas syara’ dan meninggalkan pendalaman sesuatu.[8]
Sebagai bentuk corak filsafat Ibn Tufail, pada makalah ini cerita perihal Hayy Ibn Yaqzhan akan dicantumkan secara ringkas, bahwa salafus shalih kita terdahulu mengisahkan disuatu pulau dari aneka macam banyak kepulauan di India, yang terletak dibawah garis khatulistiwa, lahirkan seorang insan tanpa ayah dan ibu, yang manusia tersebut dibesarkan oleh alam[9], alasannya adalah kepulauan tersebut mempunyai iklim dan keadaan tanah yang stabil serta dibentangi oleh cahaya dari ufuk timur yang tepat. Dipulau yang indah, luas, dan mukayafah (cocok dengan habitat/keadaan) tersebut mempunyai banyak sekali faedah-faedah dan nilai-nilai kesejahteraan bagi manusia, yang konon kabar dimiliki oleh seorang pria yang mempunyai keinginan yang berpengaruh tinggal disana serta mempunyai kerabat wanita yang cantik jelita[10].
Dan didalam buku Ensiklopedi Tematis Dunia Islam: Pemikiran dan Peradaban karangan Taufik Abdullah pun digambarkan tentang dongeng yang serupa, dengan mengisahkan seorang bayi pria yang berada disebuah pulau, bayi itu boleh jadi muncul karena terbentuknya percampuran tanah dan air sedemikian rupa sehingga cocok untuk dimasuki oleh jiwa insan, dan lahirlah bayi tersebut dengan nama Hayy Ibn Yaqzhan. Bayi yang dibesarkan dan diasuh oleh alam ini dapat terus hidup dengan lingkungannya, dan dapat meningkat baik menjadi insan remaja yang berada dilingkungan alam binatang mirip seekor rusa sebagaimana yang ada dalam buku tersebut. Akal sehatnya meningkat sedemikian rupa menurut sunnahtullah sehingga beliau bukan saja mampu berfikir perihal dunia fenomena, tetapi juga dapat menangkap hal-hal yang absrak dan mengenali adanya tuhan, pencipta sekalian alam. Dia bahkan dengan mata batinnya dapat melihat dewa, dan merasa erat denganNya serta merasa bahagia.
Tidak jauh dari pulau itu terdapat pula pulau lain yang dihuni oleh satu penduduk manusia. Absal dan salaman yang tergolong pemuka dalam masyarakat itu adalah penganut agama wahyu, tetapi mempunyai kecendrungan yang berlawanan. Absal banyak terpesona pada pemahaman metaforis dan teks-teks agama, sedangkan salaman lebih cendrung kepada arti-arti lahiriyah, sejalan dengan perilaku penduduk biasanya pada pulau tersebut. Absal lalu mengasingkan diri dari penduduk , dan pada sebuah hari Absal menyeberang ke pulau yang dihuni Hayy Ibn Yaqzhan, dan keduanya bertemudan setelah Hayy Ibn Yaqzhan diajari berakal mengatakan, keduanya saling berdialog dan berkisah. Hayy dengan mudah dapat mengerti dan menyetujui keterangan-keterangan yang disampaikan oleh Absal ihwal dewa, syurga, neraka, hari berbangkit, timbangan, jalan lurus dsb, sebagaimana yang diajarkan oleh wahyu. Disisi lain Absal pun dengan gampang memahami apa yang dijelaskan oleh Hayy wacana hasil renungannya dengan alam dan pengalaman rohaniahnya dengan tuhan, dan balasannya kedua manusia tersebut saling membenarkan satu dengan lainnya. Serta keduanya bersepakat untuk menyeberang kepulau yang dihuni oleh salaman, dengan maksud mengajak salaman dan masyarakat sepaya beragama dengan pengertian-pemahaman yang ada pada kedua manusia tersebut. Dan ternyata salaman dan masyarakatnya tidak tertarik dengan permintaan dari Hayy dan Absal, sampai balasannya keduanya sadar bahwa dengan pemahaman seperti yang meningkat pada masyarakat itu tidak butuhdiajak mengetahui agama seperti yang dipahami oleh Hayy dan Absal, dan hasilnya keduanya kembali kepulau yang tidak berpenghuni tadi dan melanjutkan ibadah serta tafakurnya depada Tuhan seperti sebelumnya.[11]
Dari cerita Hayy Ibn Yaqzhan ini, Ibnu Tufail membuktikan bahwa manusia yang masih bersih dan suci dan belum terpengaruh oleh asumsi dan pengertian lain akan bisa mengenal Allah selaku sang khalid, dia juga bisa membedakan antara yang bagus dan yang jelek serta beliau akan mengenali bahwa hidup ini akan selsai dan akan ada jadinya. Inilah fitrah manusia, suci dan bersih yang telah dianugrahkan oleh Allah Swt. Sebagaimana sabda Rasullah Saw
عن أبى هريرة رضى الله عنه, عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : كل ولد يولد على الفطرة فأبواه يهوّدانه او ينصرانه او يمجسانه (رواه مسلم)[12]
“setiap anak yang dilahirkan itu berada dalam kondisi fitrah (suci), maka kedua Ibu Bapaknyalah yang membuatnya Yahudi, Katolik dan Majudi (HR. Muslim).
Dari hadits yang mulia ini dapat kita petik sebuah pesan tersirat, jikalau seandainya insan itu dibiarkan dengan fitrahnya, maka ia akan berjalan dengan baik dan mampu mengenal Allah seperti yang digambarkan oleh dongeng diatas tadi. Seperti filosof lain, Ibnu Tufail pun membicarakan beberapa masalah pokok dalam cerita Hayy Ibn Yaqzhan, seperti ketuhanan, fisika, jiwa, epistemologi, rekonsiliasi antara filsafat dengan agama.
A.   Ketuhanan
Konsep ketuhanan, dengan arti seorang makhluk mampu meyakini adanya pencipta alam semesta. Didalam dongeng Hayy Ibn Yaqzhan, dengan kekuatan nalar dan renungan kepada alam sekitarnya, dia meyakini adanya pencipta, dia juga meyakini bahwa alam yang indah dan tersusun rapi ini tidak mungkin ada dengan sendirinya tanpa ada yang mengendalikan dan menciptakannya. Ada 3 argumen yang dimukakan oleh Ibn Tufail untuk membuntikan adanya Allah, ialah:
1.     Argumen Gerak (al-harakah)
Bagi orang yang meyakini adana qodim, penggagas ini berfungsi mengganti materi di alam dari berpotensi ke nyata, arti kata mengganti satu bentuk ada terhadap bentuk ada lainnya. Sementara itu, bagi orang yang meyakini alam gres, aktivis ini berfungsi mengganti alam dari tidak ada menjadi ada. Argemen gerak ini selaku bukti alam qodim dan barunya belum pernah dikemukakan oleh filosof muslim manapun sebelumnya, dan dengan argemen ini Ibnu Tufail memperkuat argumentasi bahwa tanpa wahyu logika dapat mengenali adanya Allah.[13]
B.    Argumen Materi (al-madat) dan bentuk (al-shurat)
Argumen ini didasarkan  pada ilmu fisika dan masih ada korelasinya dengan dalil yang pertama (al-harakat). Hal ini dikemukakan oleh Ibn Tufail dalam kumpulan pokok anggapan yang terkait satu dengan yang yang lain, adalah selaku berikut :
*. Segala yang ada ini tersusun dari bahan dan bentuk
          *. Setiap bahan membutuhkan bentuk
          *. Bentuk tidak mungkin bereksistensi penggagas
          *. Segala yang ada untuk bereksistensi membutuhkan pencipta
Dengan argumen ini mampu dibuktikan adanya Allah sebagai pencipta alam ini, beliau mahakuasa dan bebas memilih serta tidak berawal dan berakhir.
C.   Argumen al-Ghaiyyat dan al-‘inayat al-ilahiyyat 
Maksudnya segala sesuatu yang ada di alam ini memiliki tujuan tertentu, dan ini merupakan inayah dari Allah. Ibnu Tufail juga filosof lain yang berpegang pada argumen ini sesuai dengan Qur’ani, dan menolak bahwa alam diciptakan oleh Allah secara kebetulan.[14]
Menurut Ibn Tufail alam ini tersusun sungguh rapi dan sungguh terorganisir, semua planet mirip matahri, bulan, bintang dan lain-yang lain teredar secara teratur. Begitu jug ajenis binatang, semuanya dilengkapi dengan anggota badan yang begitu rupa. Semua anggota tubuh tersebut mempunyai tujuan-tujuan tertentu yang sangat efektif kemanfaatannya bagi binatang yang bersangkutan, sepertinya tidak satupun ciptaan Allah ini yang tidak percuma.[15] Ketiga argumen yang dikemukakan oleh Ibn Tufail ini membuktikan adanya Allah sebagai sang pencipta.
2.     Fisika
Menurut Ibn Tufail alam ini qodim dan juga gres, alam qodim alasannya adalah Allah membuat sejal azali, tanpa didahului oleh zaman. Dilihat dari esensinya, alam yaitu gres sebab wujudnya alam tergantung pada zat Allah.[16]
Sebagaimana ketika anda menggegamkan suatu benda, kemudian anda menggerakkan tangan anda, maka benda harus bergerak mengikuti gerak tangan anda dan gerakan benda tersebut tidak terlambat dari segi zaman dan hanya keterlambatan dari segi zat, demikianlah alam ini, seluruhnya ialah akhir dan diciptakan oleh Allah tanpa zaman. Firman Allah
إنما أمره إذا اراد شيئا ان يقول له كن فيكون (82)
“Sesungguhnya perintah-Nya apabila mengharapkan sesuatu hanyalah berkata ; Jadilah ! maka terjadilah beliau” (QS. Yasin : 82)[17]
3.     Jiwa
Jiwa manusia menurut Ibn Tufail ialah makhluk yang tertinggi martabatnya. Manusia berisikan dua unsur adalah jazad dan ruh, tubuh tersusun dari komponen-bagian sedangkan jiwa tidak demikian. Jiwa bukan jisim dan bukan juga sesuatu daya yang ada didalam jisim. Setelah badan hancur atau mengalami maut, jiwa akan lepas dari badan dan selanjutnya jiwa yang pernah mengenal Allah selama berada dalam jasad akan hidup dan awet.[18]
Ibn Tufail mengelompokan jiwa kepada tiga kelompok :
*. Jiwa yang sebelum mengalami ajal jasad sudah mengenal Allah, mengagumi kebesaran dan keagungannya dan sellu ingat kepada-Nya, maka jiwa mirip ini akan abadi dalam kebahagiaan.
*. Jiwa yang sudah mengenal Allah, tetapi melakukan maksiat dan melalaikan Allah, maka jiwa seperti ini akan baka dalam kesengsaraan.
*. Jiwa yang tidak pernah mengenal Allah selama hidup, maka jiwa seperti ini akan selsai mirip binatang.
4.     Epistemologi
Dalam epistemologi, Ibnu Tufail menerangkan bahwa ma’rifat itu dimulai dari pancaindra, dengan pengamatan dan pengalaman mampu diperoleh pengetahuan indrawi, hal-hal yang bersifat metafisis mampu dikenali dengan logika intuisi. Ma’rifat dilakuakan dengan dua cara yakni dengan renungan atau fatwa, seperti yang dilaksanakan oleh filosof muslim dan tasawuf mirip yang dilakukan oleh kaum sufi, kesesuaian antara logika dan intuisi membentuk esensi epistemologi Ibn Tufail, hal ini dapat dicapai oleh seseorang tergantung terhadap latihan rohani, tingkat pemikiran dan renungan akal.[19]
5.     Rekonsiliasi antara Filsafat dan Agama
Melalui roman filsafat Hayy Ibn Yaqzhan, Ibn Tufail menekankan bahwa antara filsafat dan agama tidak bertentangan, dengan kata lain akal tidak berlawanan dengan wahyu.[20]
Dari kisah yang digambarkan oleh Ibn Tufail, dimana tokoh Hayy dengan renungan, ajaran dan pengalaman sendiri, dia dapat mengenali kebenaran, dan tatkala dia bertemu dengan absal yang menenteng kebenaran berdasarkan wahyu, beliau langsung membenarkan dan mengimaninya, ini menunjukan bahwa nalar murni dan pedoman yang tidak benar bertentangan dengan wahyu, maka apa saja yang disampaikan oleh wahyu langsung diimani oleh akalm alasannya adalah logika meyakini kebenaran yang dibawa oleh wahyu disebabkan  wahyu langsung tiba dari Allah yang tidak dikeragui lagi kebenarannya, mirip halnya pembenaran Hayy terhadap apa yang dibawa oleh Absal.
Ibn Tufail menyadari, mengenali dan berafiliasi dengan Allah melalui pedoman logika murni yang cuma mampu dilakukan oleh orang-orang khusus, dan orang awam tidak mungkin mampu melakukannya, justru itu bagi orang awam sangat dibutuhkan adanya fatwa agama yang dibawa oleh Nabi.[21]
Agama diturunkan untuk semua orang dalam tingkatannya. Filsafat hanya dapat dijangkau oleh orang yang bernalar tinggi yang jumlahnya sedikit. Agama  melambangkan dunia atas semua lambang-lambang eksoteris, agama sarat dengan perbandingan, persamaan, dan pandangan-persepsi antopomorfis sehingga cukup mudah dipahami oleh orang banyak, dan filsafat merupakan bab dari kebenaran esoteris yang menafsirkan lambang-lambang itu supaya diperoleh pemahaman-pemahaman yang hakiki. Kenyataannya ibn Tufail berusaha dengan penuh kesungguhannya untuk merekonsiliasikan antara filsafat dan agama, Hayy dalam roman filsafatnya, dia lambangkan sebagai akal yang dapat berkomunikasi dengan Allah, sedangkan Absal beliau lambang sebagai wahyu dalam bentuk esoteris yang menjinjing hakekat, sementara salaman beliau lambangkan  selaku agama yang juga menenteng kebenaran dalam bentukk esoteris, kebenaran yang dibawa filsafat tidak bertetangan dengan kebenaran yang diinginkan agama karena sumbernya sama yakni Allah Swt.
4.     Kesimpulan
Dari cerita roman yang dikisahkan oleh Ibn Tufail, kita mampu memetik kesimpulan secara akal dan doktrin, bahwa sumber inti dari diri manusia adalah kebenaran yang suci dan tidak ternoda, sehingga kalau ada imbas luar yang masuk, imbas tersebutlah yang menghancurkan dan menodai kesucian diri manusia tersebut, sebagaimana citra hadist dari Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Imam Muslim diatas tadi.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Farhat, Yusuf, كتاب الموسوعة الفلسفة الإسلامية و أعلامها , Ganef:تراد كسيم-شركة مساهمة سويسرية, 1986, Cet.1
Zar, Sirajuddin, Filsafat Islam;Filosof dan Filsafatnya, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004
Yunus, Suraij Ibn, كتاب القضاء, Beirut: دار البشائر الإسلامية 1421-2000, cet.1
Ya’cub, A. Tasman, Filsafat Islam; Profil filosof Islam dan Filsafatnya di Dunia Timur Tengah dan Barat, Padang: IAIN Press 1999
Abdullah, Taufik, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam: Pemikiran dan Peradaban, Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoere

  Hakekat Syukur

[1] Yusuf Farhat, كتاب الموسوعة الفلسفة الإسلامية و أعلامها , (Ganef:تراد كسيم-شركة مساهمة سويسرية, 1986), cet.1, hal.7

[2] Ibid, h.157

[3] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam;Filosof dan Filsafatnya, (jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), h.205

[4] A. Tasman Ya’cub, Filsafat Islam; Profil filosof Islam dan Filsafatnya di Dunia Timur Tengah dan Barat, (Padang: IAIN Press 1999)h.96

[5] Taufik  Abdullah, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam: Pemikiran dan Peradaban, (Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoere), h.207

[6] Sirajuddin Zar, op.cit, h.207

[7] ibid

[8] A. Tasman Ya’cub, op.cit, h.99

[9] Didalam buku كتاب الموسوعة الفلسفة الإسلامية و أعلامه  karangan Yusuf Farhat di perumpamaan dengan kata-kata شجر

[10] Yusuf Farhat, op.cit, h.167

[11] Taufik  Abdullah, op.cit, h.207-208

[12] Suraij Ibn Yunus, كتاب القضاء, (Beirut: دار البشائر الإسلامية 1421-2000), cet.1, h.43

[13] Sirajuddin Zar, op.cit, h.213

[14] Ibid, h.215

[15] Ibid

[16] Ibid, h.216

[17] ibid

[18] Ibid, h. 217

[19] Ibid, h. 218

[20] Ibid, h. 219

[21] Ibid