close

Hotel Tertua Di Kota Bandung Yang Masih Tetap Eksis

Hotel Surabaya Hotel tertua di Kota Bandung  Bangunan unik di Jalan Kebonjati itu masih ta Hotel Tertua di Kota Bandung yang Masih Tetap Eksis
Renovasi Hotel Surabaya 
Hotel Surabaya Hotel Tertua di Kota Bandung 

Bangunan unik di Jalan Kebonjati itu masih tampak sama mirip sekitar 10 tahun kemudian, saat saya pertama kali mengetahui bahwa bangunan itu masuk dalam daftar Benda Cagar Budaya di Kota Bandung.

Fitur khasnya, seperti ornamen dua buah puncak pada atap bab tampang, suatu menara di salah satu sudut bangunan, kaca patri berwarna-warni pada jendelanya, serta cat bangunan yang senantiasa berwarna putih, tidak pernah berganti dari kurun ke periode. Ya, sebagai salah satu warisan unik, Hotel Surabaya (sekarang Hotel Carcadinne) berupaya untuk menjaga fisiknya, walau kini usianya sudah lebih dari 1 kurun.


Rasanya, seiring berjalannya waktu, bangunan ini makin populer di kalangan warga Bandung, terutama bagi peminat atau mereka yang peduli dengan bangunan-bangunan pusaka (heritage). 

Kepopulerannya bahkan sudah menembus batas internasional, terbukti dengan dicantumkannya nama dan data hotel ini dalam beberapa buku panduan wisata. Bahkan bagi mereka yang belum tahu sekalipun, dikala melalui Jalan Kebonjati, di sebelah selatan Stasiun Pusat Kereta Api Bandung, akan tercuri perhatiannya saat melihat tampilan bangunan hotel yang bau tanah dan kuno ini.

Sayangnya, budaya lisan yang biasa dalam masyarakat kita jaman dahulu tidak meninggalkan banyak catatan perihal sejarah Hotel Surabaya ini. Bahkan ketika penulis menanyakan wacana hal itu terhadap staf receptionist pun tidak menciptakan banyak data.

Namun dari banyak sekali sumber yang dikumpulkan, dikenali bahwa Hotel Surabaya diresmikan bertepatan dengan masuknya jalur kereta api dari Batavia (Jakarta) ke Bandung pada tahun 1884. 


Dengan masuknya rel kereta api, Bandung yang sebelumnya masih berupa desa kecil di Dataran Tinggi Parahyangan, mulai terbuka bagi “dunia” luar. Seiring dengan semakin terbukanya kawasan ini kepada para pendatang, khususnya para pengunjung dari Batavia, maka keperluan akan kamar penginapan di Bandung dikala itu pun makin meningkat.

  Naik Delman Dari Bogor Ke Bandung Tempo Dahulu

Konon hotel ini dimiliki oleh seorang saudagar keturunan China yang kaya raya di Bandung dikala itu. Di suatu foto hitam putih yang terpampang di papan erat meja receptionist pun tergambar satu keluarga keturunan China, berisikan sepasang suami isteri dan 3 orang anak (2 wanita dan 1 pria). 


Keluarga inilah yang diyakini selaku pemilik hotel ini. Selain foto tersebut, dipajang pula beberapa foto lain yang menggambarkan pemilik hotel dengan para tamunya, pada umumnya orang-orang kulit putih.

Belum diketahui mengapa hotel ini diberi nama Surabaya, padahal jelas-terperinci letaknya di Kota Bandung. Satu model menyebutkan bahwa pemilik hotel ini berasal dari Surabaya yang membuka usaha penginapan di Bandung. Sedangkan model lain menyebutkan relevansinya dengan kelanjutan pembangunan rel dari Bandung ke Surabaya, dan bahwa Bandung menjadi kota transit penting bagi pelaku perjalanan dari Batavia ke Surabaya saat itu.

Letak Hotel Surabaya yang masih berada dalam kawasan Pecinan Bandung itu ikut memperkuat pernyataan bahwa hotel ini dimiliki oleh keluarga keturunan China tersebut. 


Bicara perihal kawasan Pecinan di Bandung sendiri, kawasan ini terhampar antara Jalan ABC di utara Alun-alun ke arah barat sampai Jalan Kelenteng, dan antara Jalan Sudirman di selatan sampai Jalan Kebonjati di sebelah utara. 

Kawasan Pecinan di Bandung pertama kali meningkat pada tamat masa ke-19, dikala para kaum China peranakan berdatangan dari kota-kota lain di pantai utara Pulau Jawa, biasanya melakukan pekerjaan bagi tuan tanah orang-orang Eropa. 

Baru pada awal periode ke-20, seiring dengan planning Pemerintah Hindia Belanda mengakibatkan Bandung sebagai ibukota Hindia Belanda, berdatanganlah para imigran dari China daratan untuk mengadu nasib di tanah yang gres, biasanya dengan berdagang.

  Cara Berbusana Para Menak Sunda Jaman Dahulu

Walau dimiliki oleh keluarga keturunan China dan berada dalam kawasan Pecinan, arsitektur Hotel Surabaya sama sekali tidak mengesankan gaya China. Malah, bangunan ini sangat bertemaBarat / Eropa. 


Beberapa sumber menyebutkan gaya arsitekturnya yaitu Neo-Klasik, yakni gaya arsitektur bau tanah Eropa yang dipraktekkan pada bangunan-bangunan kala ke-16 sampai permulaan kala 20, kebanyakan di tanah jajahannya. 

Ornamen dua puncak pada bab tampang mengingatkan akan bagian serupa pada bangunan-bangunan di Amsterdam, Belanda, sedangkan menara pada salah satu sudut mirip dengan menara khas bangunan-bangunan dari jaman Victoria, yang meningkat menjelang tamat era ke-19 di Inggris.

Sedangkan warna cat yang selalu putih mengikuti ciri khas warna yang diminati kaum kulit putih di Hindia Belanda dahulu, yang dipraktekkan pada bangunan dan pakaian mereka. Bahkan sampai saat ini, pembagian jenis kamar pun masih memakai nama-nama berbau Barat, seperti Shangrila, Octagon, dan Henriette.

Bentuk jendela dan pintu di Hotel Surabaya ini sangat khas bangunan-bangunan warisan jaman kolonial, dengan daun pintu yang tinggi serta jendela yang lebar. Bingkai-bingkainya terbuat dari kayu dan dicat putih serta beling patri berwarna-warni. Walau sempat mengalami renovasi tahun 1991, tidak banyak bab bangunan yang dirubah, baik terlihat luar maupun bagian interiornya.

Hotel Surabaya, yang terdiri dari 2 lantai ini, memiliki 60 ruang kamar tamu. Walau kemudahan dan perawatan ruang-ruang tersebut terkesan sangat mendasar, namun furniture yang dipergunakan umumnya ialah warisan dari jaman baheula. 


Kursi dan mejanya pada umumnya yang dibuat dari kayu jati, begitu juga dengan anak tangga yang menghubungkan lantai satu dengan lantai atas. Bahan kayu jati juga dipakai selaku materi lantai tingkat 2. Sedangkan lampunya masih ada yang berbentuklampu hias dari periode-abad kemudian.

  Majalah Theosofi Yang Pernah Terbit Di Bandung

Sayang sekali, walau terdaftar sebagai salah satu Benda Cagar Budaya di Kota Bandung, perawatan bangunan ini tampaknya belum optimal. Begitu juga dengan rancangan interiornya. Padahal, dengan gaya arsitekturnya yang unik dan sejarahnya, serta keaslian banyak bagian bangunan dan akomodasi di dalamnya, hotel melati ini akan jauh lebih menarik untuk dikunjungi baik selaku hotel maupun atraksi wisata.

Bagi Anda penggemar bangunan-bangunan pusaka (heritage), apakah itu bangunan bau tanah yang unik atau bersejarah, sepertinya kunjungan ke Hotel Surabaya di Bandung tidak boleh dilewatkan begitu saja. Artikel ini pernah dimuat di Majalah Bandung and Beyond edisi 2006. (sumber)