close

Contoh Ajuan KesempatanRadio Komunitas Epiginosko

Contoh Proposal Potensi Radio Komunitas Epiginosko 

 Perkembangan media massa di Indonesia mengalami perkembangan pesat sejak terjadinya pergeseran kebijakan tentang Sistem  Penyiaran di Indonesia. Perubahan yang terjadi seiring dengan perubahan kebijakan politik yang terjadi Pasca Reformasi ( setelah tahun 1998 ).

Pada era Pasca Reformasi, regulasi perihal pendirian media massa mengalami fasilitas. Keadaan ini berpengaruh hadirnya  media massa baik cetak maupun elektronika. Demikian juga halnya dengan hadirnya TV, Radio Swasta Nasional. Saat ini tercatat ada 1 lembaga penyiaran publik dengan jangkauan nasional yakni TVRI, 10 lembaga penyiaran TV Swasta dengan jangkauan nasional, serta 56 forum penyiaran TV Swasta setempat yang tersebar di aneka macam kawasan. Demikian juga dengan radio swasta yang tergabung dalam PRSSNI ada sekitar 84 radio swasta siaran bangun di Provsu (PRSSNI 2006).

Pasca Reformasi juga mengakibatkan iklim yang kondusif lahirnya proses demokratisasi , yang selama  kurun orde baru proses ini belum berjalan optimal. Dalam proses demokratisasi inilah  tugas media massa sungguh diperlukan untuk memotivasi, menyadarkan bahkan menggerakkan masyarakat untuk  memajukan kualitas hidupnya.

Proses demokratisasi yang sedang berjalan  disokong oleh semangat otonomi tempat, yang memberi potensi bagi daerah untuk membuat sumber pemasukan sendiri, serta Undang-undang Penyiaran No. 32/2002 yang memberi kesempatan  bagi tumbuhnya stasiun televisi swasta berbasis tempat, forum penyiaran publik lokal ( TV/Radio Publik Lokal ),   serta lembaga penyiaran    komunitas  ( TV / Radio Komunitas ) memberi  potensi bagi pengurus media massa  untuk berperan secara maksimal  membangun wilayahnya.

Kehadiran  lembaga penyiaran komunitas  (TV dan Radio Komunitas) mampu memberi kontribusi yang sungguh memiliki arti bagi sebuah kawasan, terutama selaku fasilitas   untuk mensosialisasikan kebijakan Pemda di tingkat Lokal dan selaku fasilitas mengiklankan potensi kawasan, sehingga  mampu memiliki pengaruh kepada peningkatan pemasukan  pendapatan kawasan tersebut.

Kota Pematang Siantar merupakan  daerah yang sungguh berpotensi di Propinsi Sumatera Utara. Sektor pariwisata, jual beli dan peternakan merupakan  peluangyang mampu dioptimalkan  semoga dapat mengembangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD ). Dengan potensi kawasan yang dimiliki, optimalisasi fungsi lembaga penyiaran  Radio Komunitas  dapat merealisasikan tingkat kesejahteraan penduduk yang lebih tinggi dari kondisi kini.

Dasar pertimbangan yang lebih spesifik dapat dikemukakan selaku berikut :

1.      Potensi daerah di Kota Pematang Siantar di sektor pariwisata, perdagangan, peternakan, dan industri kecil  perlu dioptimalkan melalui kemasan program siaran yang mengedepankan  upaya-upaya biar masyarakat bersedia  ikut serta mengembangkan potensi wilayahnya.
2.      Potensi-kesempatandalam bidang pariwisata peternakan, jual beli dan industri kecil perlu dikerjakan promosi melalui Radio Komunitas agar mampu menarik minat penanam modal setempat maupun luar negeri untuk menanamkan investasinya di Kota Pematang Siantar.
3.      Kehadiran Radio Komunitas  mampu memberi fasilitas bagi penduduk di Kota Pematang Siantar untuk menerima berita perdangan dengan biaya yang terjangkau dan kualitas siaran yang bagus .
Berdasarkan masalah inilah, penulis menilai perlu dilakukannya sebuah observasi untuk mengetahui bagaimana sesungguhnya bagaimakah Potensi Radio Komunitas Epiginosko  Terhadap Pembangunan Masyarakat  Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar
Perumusan Masalah 
Berdasarkan uraian  latar belakang penelitian di atas, maka peneliti  mampu merumuskan   duduk perkara dalam observasi ini  sebagai berikut, bagaimakah Potensi Radio Komunitas Epiginosko Terhadap Pembangunan Masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar.
Adapun urusan  khusus dalam observasi ini adalah :
1.      Bagaimanakah motivasi Pedagang Pasar Horas di Kota  Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko untuk mendapatkan info kawasan?
2.      Apakah jenis isu tempat yang didengar penduduk Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar  dari Radio Komunitas Epiginosko ?
3.      Kapankah Waktu dan bagaimanakah frekuensi  masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko?
4.      Dimanakah lokasi   masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang  Siantar  lazimnya menyimak Radio Komunitas Epiginosko ?
Pembatasan Masalah
Adapun pembatasan problem dalam observasi ini yaitu :
1.      Siaran  Radio Komunitas baik  yang berbentuk info maupun  berita    lazim tentang potensi daerah Kota Pematang Siantar.
2.      Daerah observasi ini ialah di Kota Pematang Siantar
3.      Responden penelitian ini adalah masyarakat  Pedagang  Pasar Horas Kota  Pematang Siantar
Tujuan dan Manfaat Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1.      Mengetahui motivasi  masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko untuk menerima informasi kawasan .
2.      Mengetahui  Jenis informasi daerah yang didengar penduduk Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar dari Radio  Komunitas. Epiginosko
3.      Mengetahui waktu mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko penduduk Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar .
4.      Mengetahui  Lokasi   masyarakat Pedagang Pasar Horas biasanya menyimak Radio Komunitas Epiginosko  di Kota Pematang Siantar.
Adapun faedah dari penelitian ini yakni :
1.      Sebagai bahan masukan bagi pemerintah sentra Departemen Komunikasi dan Informatika dalam pengerjaan kebijakan yang berhubungan dengan pengembangan radio komunikator.
2.      Sebagai    bahan   masukan    bagi   pemerintah   Kota   P.  Siantar biar mampu mendorong dalam pengembangan radio komunikator di P. Siantar.
3.      Sebagai     bahan     masukan    bagi     pengurus    managemen    radio komunitas epiginosko dalam upaya peningkatan dan pengembangannya.
Uraian Teoritis
Penelitian ini membahas wacana bagaimana penduduk mendapatkan berita tempat lewat  Radio Komunitas.  Mengadopsi kepada karakteristik media massa maka keberadaan Radio Komunitas mampu diterangkan fungsi dan peranannya dalam kerangka teoritis  tentang komunikasi massa.

  Evaluasi Partus Fisiologis Hari Ke-5

Seperti yang dikemukakan  Melezke (1963) yang dikutip oleh Rakhmat, 1981 mengartikan komunikasi massa sebagai setiap bentuk komunikasi yang memberikan pernyataan secara terbuka melalui media penyebaran teknis secara tidak pribadi dan satu arah pada  publik  yang tersebar. 

Dibanding dengan jenis-jenis komunikasi lainnya, komunikasi massa memiliki ciri-ciri  (dikutip dari Effendi (1993:22-26)  yakni :

1.      Komunikasi massa berlangsung  satu arah. Dalam hal ini tidak terdapat arus balik dari komunikan kepada komunmikator. Dengan kata lain, komunikator tidak mengenali balasan khalayak (komunikan) kepada pesan yang disampaikan.
2.      Komunikator pada komunikasi  massa merupakan lembaga, adalah satu institusi  atau organisasi. Karena komunikator  pada komunikasi massa bertindak atas nama lembaga, maka  ia  bertinndak sesuai dengan kebijaksanaan ( policy) media yang memilikinya. Ia tidak memiliki kebebasan sebagai  individu.
3.      Pesan pada komunikasi massa  bersifat lazim. Maksudnya  pesan ditujukan kepada biasa , bukan kepada perseorangan atau kalangan tertentu.
4.      Media komunikasi massa menjadikan keserempakan. Artinya khalayak menerima secara serentak  (simultan ) pesan yang disampaikan lewat media massa.
5.      Komunikan pada komunikasi massa bersifat heterogen. Artinya komunikan atau khalayak ialah penduduk   yang heterogen. Keberadaannya terpencar, satu sama lain tidak saling mengenal dan tidak melaksanakan kontak eksklusif, masing-masing berlawanan  latar belakang sosialnya seperti usia, agama, pekerjaan, pendidikan, kebudayaan, pengalaman dan sebagainya.

Komunikasi massa menyiarkan gosip, ide dan sikap kepada komunikan yang beragam dalam jumlah yang banyak  menggunakan media.

Kerangka teori yang dipakai dalam penelitian ini adalah   model  Mass Media Uses and Gratifications.

Model  Mass Media Uses and Gratifications menurut para pendirinya menyatakan bahwa permulaan keperluan  secara psikologis dan sosial individu menjadikan  cita-cita tertentu kepada media massa atau sumber lain. ( Katz, Blumler, Gurevitch, 1974 : 19 – 32).
Dalam observasi ini tidak semua unsur yang ada dalam versi Mass Media Uses and Gratifications diteliti. Penelitian ini akan mendeskripsikan ihwal:
1.      Bagaimanakah motivasi  penduduk Pedagang Pasar Horas di Kota  Pematang Siantar menyimak Radio Komunitas Epiginosko untuk mendapatkan isu daerah ?
2.      Apakah Jenis info daerah yang didengar masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar dari Radio Komunitas Epiginosko ?
3.      Kapankah Waktu penduduk Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar menyimak Radio Komunitas Epiginosko ?
4.      Dimana Lokasi   penduduk Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang  Siantar   lazimnya menyimak Radio Komunitas Epiginosko ?
Anteseden                     Motif                  Penggunaan                   Efek                                          Media
Variabel           – Kognitif       Waktu                     – Kepuasan
Individual         – Diversi        Frekuensi                 – Ketergantungan
Identitas           – Isi             – Pengetahuan Personal    Jenis Isi
                                                                         
Variabel
Lingkungan

Sumber : Jalaluddin Rahmat, 1985
Model ini dimulai dengan Variabel Anteseden  yang terdiri dari Variabel Individual ialah antara lain usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan tingkat pemasukan. Variabel Lingkungan juga masih merupakan bab dari Variabel Anteseden yang umumnya berisikan lingkungan sosial, afiliasi golongan, organisasi dan lain sebagainya.
Masyarakat dalam versi observasi ini memiliki kebutuhan dan motif bervariasi menurut karakteristik sosialnya. Katz, Blumler, Gurevitch membuat tipologi keperluan manusia yang berafiliasi dengan  penggunaan media yang mencakup :
1.      Kebutuhan Kognitif
2.      Kebutuhan Afektif
3.      Kebutuhan Integratif Pesan
4.      Kebutuhan Integratif Sosial
5.      Kebutuhan akan pelarian
Kebutuhan tersebut mampu dipenuhi  dan dipuaskan lewat media massa dan sumber lain . Melalui sumber lain , keperluan mampu terpenuhi melalui kekerabatan dengan keluarga, teman, komunikasi interpersonal, maupun mengisi waktu luang dengan banyak sekali cara.
Kerangka teoritis yang digunakan dalam observasi ini memang memodifikasi imbas media massa terhadap sikap individu. Dalam pembahasan dan kerangka teoritis, media massa di sini dimaknai selaku Radio Komunitas Epiginosko.
Kebutuhan melalui media massa dapat dipenuhi dengan membaca surat kabar dan majalah, menyimak radio serta menonton televisi. Dalam observasi ini, versi Mass Media Uses and Gratificationsdiubahsuaikan untuk  meneliti kekerabatan antara motif penduduk dengan penggunaan radio. 

Chaffe (1980) dalam Rakhmat (1985:215-217), mengemukakan tiga pendekatan untuk melihat efek media massa. Pertama, pendekatan yang berhubungan dengan pesan media massa. Kedua, pendekatan dengan melihat jenis perubahan yang terjadi pada khalayak. Seperti penerimaan info, pergantian perasaan atau perilaku dan pergeseran perilaku (pergantian kognisi, afeksi, dan behavioral). Dan ketiga, meninjau satuan pengamatan yang dikenai imbas media massa.

Pendekatan tersebut, menurut Gonzales (1978; dalam Jahi, 1988:17), disebut tiga dimensi efek komunikasi massa, yakni : (1) imbas kognitif yang meliputi peningkatan kesadaran, belajar dan aksesori pengetahuan; (2) imbas afektifyang berafiliasi dengan emosi, perasaan, dan sikap; sedang (3) imbas konatif erat hubungannya dengan niat dan kecenderungan berperilaku berdasarkan cara tertentu. 

Mar’at (1981:124), mengungkapkan bahwa unsur kognitif dan afektif banyak dipengaruhi oleh media komunikasi mirip film, surat kabar, radio, dan televisi. Teori berguru sosial dari Bandura (1977), menerangkan imbas prososial dari media massa itu sendiri.

Ketika membahas motif, peneliti perlu memulai  dengan meletakkan konsepsi insan karena yang diteliti yakni motif insan. Konsep manusia  yang dibahas dalam penelitian ini ialah konsepsi Psikologi Humanistik yang menyaksikan insan sebagai  insan seutuhnya. Tidak mirip pandangan  Psikoanalisis yang condong menganggap insan cuma dipengaruhi oleh naluri hewaninya dan Behaviorisme yang melihat manusia sebagai robot tanpa jiwa dan nilai.

Kedua persepsi yang tadi disebutkan  tidak menghormati insan sebagai manusia. Keduanya tidak mampu menerangkan  faktor keberadaan manusia yang nyata dan membangun mirip cinta, kreativitas, nilai , makna, dan perkembangan eksklusif (Rakhmat, 2001 : 30 ).

Manusia yakni pencari makna, dalam pertumbuhannya  insan membutuhkan orang lain.  Dengan kata lain,  hidup manusia lebih berarti saat manusia itu melibatkan nilai-nilai dan pilihan yang membangun . Menurut Carl Rogers dalam konsepsi Humanistik ini, insan memiliki prilaku  mengembangkan, menjaga dan pengaktualisasian diri.
Berkaitan dengan prilaku manusia, William Mc.Dougall mengemukakan  aspek-faktor personal yang menentukan prilaku insan. Manusia mempunyai faktor-faktor  personal  (internal)  antara lain sikap, instink, kepribadian, tata cara kognitif, dan motif ( Rakhmat, 2001:33).
Secara Etimologis, motivasi  berasal dari bahasa Latin adalah ”motivas” yang memiliki arti alasan dasar , fikiran dasar, dorongan bagi seseorang untuk berbuat atau pandangan baru pokok  yang selalu berpengaruh terhadap tingkah laku insan ( Kartono, 1988 : 153).
Sedangkan  menurut Wahyusumidjo, motivasi  merupakan proses psikologis yang merefleksikan  interaksi antara perilaku, keperluan, pandangan dan keputusan pada seseorang  yang muncul sebab adanya faktor intrinsik dan ekstrinsik (Wahyusumidjo , 1984:178 ) 
Dari usulan di atas, dijelaskan lebih lanjut bahwa  aspek intrinsik dalam diri insan  dapat timbul menurut kepribadian, sikap, impian, dan kebutuhannya (need). Kebutuhan inilah yang menjadikan motif.
Motif ialah  salah satu faktor pembentuk prilaku seseorang dalam merespon sesuatu. Motif merupakan daya yang timbul dari dalam diri yang mendorong  seseorang untuk melaksanakan sesuatu.
Menurut tafsiran sosiologis Max Webber , motif merupakan  deskripsi lisan  yang menawarkan citra, klarifikasi atau dasar kebenaran tingkah laris yang sudah dijalankan (Turner, 1984).
Menurut Yoseph Klapper (Rakhmat, 2001: 198) dampak Komunikasi Massa ditentukan oleh faktor-faktor predisposisi personal, keanggotaan golongan dan proses pilih-pilih atau lazimjuga disebut aspek personal. Di dalam faktor personal inilah terdapat motif yang menunjukkan perkiraan tertentu bagi orang dalam merespon sesuatu. Makara mampu dibilang motif mensugesti seseorang dalam menentukan sesuatu tergolong juga dalam memilih media massa dan memakan isinya. Demikian juga halnya motif menggunakan telepon pedesaan sabagai salah satu fasilitas berkomunikasi .

  Kimia Lemak Dan Minyak

Dalam kata lain Efektifitas sebuah proses komunikasi ditentukan oleh tiga faktor, menurut Rakhmat (1989:62), ketiga faktor itu yakni sebagai berikut :

1. Faktor Komunikator 
Komunikator dalam model ini mesti memiliki kredibilitas, daya tarik dan kekuasaan.  Kredibilitas terdiri dari dua unsur ialah keahlian dan kujujuran. Keahlian diukur dengan sejauhmana komunikan menilai komunikator mengenali balasan yang benar. Sedangkan kejujuran dioperasionalkan dengan persepsi komunikan perihal sejauhmana komunikan tidak memihak dalam penyampaian pesan.

Daya tarik ukur dari kesamaan, familiaritas dan kesukaan. Kekuasaan dioperasionalkan dengan balasan komunikan perihal kemampuan komunikator untuk memperlihatkan ganjaran, kemampuan untuk meneliti apakah komunikan mengikuti pesan yang disampaikan  atau tidak.

2. Faktor Pesan 
Pesan berisikan struktur pesan, gaya pesan, imbauan pesan. Pertama,  struktur pesan ditunjukkan dengan pola penyimpulan, pola urutan argumentasi dan acuan objektifitas. Prinsip-prinsip yang harus dianalisis yakni sebagai berikut :
1.      Perceived Control adalah kemampuan komunikator untuk melaksanakan pengawasan apakah komunikan itu tunduk kepada pesan atau tidak.
2.      Perceived Concern adalah kesanggupan komunikator untuk melakukan observasi/mersa peduli apakah komunikan tunduk terhadap pesan.
3.      Perceived Security adalah kesanggupan komunikator untuk memperhatikan/menilik apakah komunikan itu tunduk terhadap pesan.
Kedua, gaya pesan memberikan variasi linguistik dalam penyampaian pesan  (perulangan, mudah dimengerti, perbendaharaan kata).
Ketiga, Appeals (imbauan) pesan mengacu pada motif-motif psikologis yang dikandung pesan (rasional, emosional, reward appeals, fear appeals ).

Menurut Cultip dan Center dalam Susanto (1982:138) menyampaikan bahwa pesan yang efektif adalah pesan yang memiliki 7 C adalah :

1.      Credibility yakni nilai iktikad khalayak atau publik terhadap komunikator.
2.      Context yaitu faktor yang menghubungkan isi pesan dengan kondisi lingkungan yang ada.
3.      Contents ialah aspek makna dan arti yang tersimpulkan dalam pesan khususnya memperhatikan apakah pesan dimengerti oleh komunikan.
4.      Clarity yaitu faktor kesederhanaan dan jelas tidaknya perumusan yang digunakan dalam pesan
5.      Continuity yaitu pesan yang bersifat kesinambungan
6.      Consistency ialah ada tidaknya kontradiksi / pebedaan dalam bagian-bagian ataukah terdapat sebuah pengulangan dengan variasi di dalamnya.
7.      Capability yaitu faktor yang terakhir dalam penelitian pesan untuk disebarkan kepada komunikan.
3.      Faktor media 
Media yang diteliti ialah Radio Komunitas dengan perkiraan makin lengkap sarana dan prasarana yang ditawarkan untuk proses komunikasi maka hasil yang mau diperoleh akan makin tampak lebih sempurna meskipun kadangkala  banyak hambatan yang harus dijumpai.