close

Acuan Peran Wacana Implementasi Ilmu Komunikasi Dalam Studi Ilmu Korelasi Internasional

Sejak awal kehidupannya setiap manusia tidak dapat bangun sendiri. Manusia yang satu selalu memerlukan manusia lainnya untuk melangsungkan kehidupannya. Dari relasi yang saling membutuhkan manusia memiliki lambang-lambang pesan untuk mempertukarkan berita di antara sesama inilah yang kemudian ialah akar terciptanya kajian ilmu komunikasi.
Komunikasi memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Komunikasi berasal dari bahasa latin yaitu communico yang artinya membagi dalam arti membagi gagasan, inspirasi atau anggapan; communication dalam bahasa inggris, communicate dari kata Bahasa Belanda. Menurut Beamer dan Varner (2008) dalam bukunya intercultural communication menyatakan bahwa komunikasi yaitu suatu proses penyampaian usulan, pikiran, perasaan kepada orang lain yang di pengaruhi oleh lingkungan social dan budayanya.
Dalam faktor komunikasi antar langsung,Klinger mengatakan manusia tergantung terhadap manusia lain sebab orang lain juga berusaha mensugesti melalui pengertian yang diberikan, berita yang dibagi, dan semangat yang disumbangkan. Semuanya membentuk wawasan, menguatkan perasaan, dan meneguhkan perilaku insan. Hubungan ketergantungan antar eksklusif ini juga berlaku pada relasi antar negara, dan upaya untuk mensugesti tersebut dikenal dengan ungkapan ‘negosiasi’bagi para diplomat dalam studi Hubungan Internasional. 
Bagi sebuah negara, diplomasi dan negosiasi menjadi salah satu alat untuk melaksanakan komunikasi dengan pemeran lain, utamanya dalam kekerabatan internasional. Dalam hal ini, yang melakukan diplomasi ialah seorang perwakilan negara yang disebut diplomat. Kesalahan dalam menganggap kekuatan atau kekurangan, tujuan aspirasi bangsa lain, dan  sebagainya, bisa membawa kepada kesalahan yang besar dalam membentuk kerangka politik luar negeri suatu bangsa (Roy, 1995: 32). Maka dari itu, seorang diplomat atau negosiator dituntut untuk mampu melakukan proses diplomasi dan negosiasi dengan perilaku dan sifat yang sudah sebaiknya dimiliki oleh seorang perwakilan negara.
Perlu dimengerti bahwa dalam komunikasi ada dua aspek bahasa yang dipakai yakni bahasa mulut dan bahasa non-mulut, kedua faktor ini juga sungguh penting diperhatikan saat kita melakukan negoisasi ataupun ketika kita menyampaikan suatu gagasan atau pertimbangan terkait sebuah persoalan. Keduanya, bahasa lisan dannon verbal, mempunyai sifat holistik, bahwa masing-masingtidakdapat saling dipisahkan. 
Dalam banyak langkah-langkah komunikasi, bahasa nonver balmen jadi perhiasan atau aksesori bahasa ekspresi. Namun lambang-lambang nonverbal juga dapat berfungsi kontra diktif, pengulangan bahkan pengganti ungkapan-ungkapan verbal. Ketika kita mengucapkan terimakasih (bahasa mulut) ,kita melengapinya dengan tersenyum(bahasa non mulut), kitas etuju dengan pesan yang disampaikan seseorang dengan anggukan kepala (bahasanon mulut).
Komunikasi verbal sering dinilaikurang universal dibanding dengan komunikasi non lisan, karena bila kita pergi keluar negeri misalnya dan kita tidak mengetahui bahasa yang digunakan oleh penduduk di Negara tersebut, kita bisa menggunakan aba-aba-instruksi non verbal dengan orang asing yang kita ajak berkomunikasi. Secara khusus kajian atas bahasa komunikasi non-verbal ini terdapat dalam pokok kajian psikologi komunikasi. Psikologi komunikasi bermaksud untuk mengetahui gejala komunikasi yang efektif. 
Dalam aneka macam bentuk kontekstualnya, komunikasi ialah kejadian psikologi dalam diri masing-masing akseptor komunikasi, mirip yang terungkap dalam banyak sekali teori  mirip teroi simbolis atau yang lainnya. Dengan kata lain, psikologi mencoba menganalisis seluruh unsur yang terlibat dalam proses komunikasi. Pada diri komunikan, psikologi menganalisis karakteristik manusia komunikan serta faktor-aspek internal dan eksternal yang menghipnotis prilaku komunikasinya. Sedangkan pada diri komunikator, psikologi melacak sifat-sifatnya dan mengajukan pertanyaan, apa yang mengakibatkan satu sumber komunikasi berhasil dalam menghipnotis orang lain, sementara sumber komunikasi lainnya tidak.
SUMBER GAMBAR : Pixabay

SUMBER REFERENSI

Zulkarnain. 2015. Dalam Jurnal : “Psikologi dan Komunikasi Massa”. Tasâmuh Volume 13, No. 1, Desember 2015.

Prof. DR. Nina w. Syam, M.S. “Psikologi sebagai akar ilmu komunikasi”. 2011, Simbiosa Rekatama Media, Bandung.
R. Pertiwi. “Macam-Macam Negoisasi”. www.academia.edu.
Marissah Thamrin. “Komunikasi Verbal dan Non-lisan”. 2013. www.academia.edu .
Dr. Nikmah Hadiati Salisah, SIP, M.Si. “E-Book IAIN Sunan Ampel Surabaya: Psikologi Komunikasi”. www.digilib.uinsby.ac.id


TUGAS DARI MAHASISWI UNHAS :

NUR FADILLAH (DEPARTEMEN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL)

TUGAS INI DIKIRIM KE BLOG INI UNTUK DIMANFAATKAN SEBAGAI CONTOH ATAU MEMBANTU SOBAT-SOBAT YANG MEMBUTUHKAN..

Wallahu a’lam..