close

99 Kaidah Fiqih Terlengkap

 

Berikut ini ialah 99 kaidah fiqih yang dikutip dalam kitab syarah al-Qawaid al-Fiqhiyyah karya Ahmad bin Syaikh Muhammad al-Zurqan:[1]

Kaidah fiqih ke-1

الأمور بمقاصدها

Artinya: Sebuah masalah/perbuatan tergantung maksudnya

Kaidah fiqih ke-2

العبرة في العقود للمقاصد والمعاني، لا للألفاظ والمباني

Artinya: Pada hakekatnya, suatu perjanjian (komitmen) tergantung pada niat dan maknanya, bukan pada lafadz dan bentuknya.

Kaidah fiqih ke-3

اليقين لا يزول بالشك

Artinya: Keyakinan tidak mampu dihilangkan dengan keraguan

Kaidah fiqih ke-4

الأصل بقاء ما كان على ما كان

Artinya: Hukum Asal Segala Sesuatu Adalah Tetap Dalam Keadaannya Semula,

Kaidah fiqih ke-5

القديم يترك على قدمه

Artinya: Sesuatu yang telah berlaku sejak lama dibiarkan apa adanya

Kaidah fiqih ke-6

الضرر لا يكون قديما

Artinya: Kemudharatan tidak boleh berjalan usang/kemudharatan harus segera dihilangkan

Kaidah fiqih ke-7

الأصل براءة الذمة

Artinya: Pada dasarnya bebas dari tanggungan

Kaidah fiqih ke-8

الأصل في الصفات العارضة العدم

Artinya: Asal pada sifat-sifat atau hal yaitu tidak ada

Kaidah fiqih ke-9

ما ثبت بزمان يحكم ببقائه ما لم يقم الدليل على خلافه

Artinya: Hukum yang sudah ditetapkan akan selalu berlaku selama tidak ada dalil yang menyalahinya

Kaidah fiqih ke-10

الأصل إضافة الحادث إلى أقرب أوقاته

Artinya: Pada dasarnya ialah menyandarkan peristiwa baru pada waktu yang paling erat

Kaidah fiqih ke-11

الأصل في الكلام الحقيقة

Artinya: Perkataan itu asalnya ialah hakikat

Kaidah fiqih ke-12

لا عبرة بالدلالة في مقابلة التصريح مالم تكن دلالة

Artinya: Dalalah tidak dipertimbangkan sebagai pembanding kepada tashrih selama bukan dalalah syar’i

Kaidah fiqih ke-13

لا مساغ للاجتهاد في مورد النص

Artinya: Ijtihad tidak diperbolehkan selama ada nash.

Kaidah fiqih ke-14

ما ثبت على خلاف القياس فغيره لا يقاس عليه

Artinya: Sesuatu yang tetap atas penolakan terhadap qiyas maka tidak (boleh dipakai) untuk menetapkan qiyas lainnya.

Kaidah fiqih ke-15

الاجتهاد لا ينقض بمثله

Artinya: Sebuah ijtihad tidak mampu membatalkan yang semisalnya (ijtihad lainnya)

Kaidah fiqih ke-16

المشقة تجلب التيسير

Artinya: Kesulitan/kesukaran mendatangkan kemudahan

Kaidah fiqih ke-17

إذا ضاق الأمر اتسع

Artinya: Apabila sutu masalah menjadi sempit maka harus diberikan kelonggaran atasnya

Kaidah fiqih ke-18

لا ضرر ولا ضرار

Artinya: Madharat tidak bisa dituntaskan dengan kemadharatan juga

Kaidah fiqih ke-19

الضرر يزال

Artinya: Kemudharatan harus dihilangkan

Kaidah fiqih ke-20

الضرورات تبيح المحظورات

Artinya: Suatu kondisi darurat mengizinkan sesuatu yang dilarang

Kaidah fiqih ke-21

الضرورات تقدر بقدرها

Artinya: Sesuatu yang dibolehkan alasannya adalah darurat itu harus disesuaikan dengan kadar kedaruratannya.

Kaidah fiqih ke-22                                                                

ما جاز لعذر بطل بزواله

Artinya: Sesuatu yang dibolehkan karena uzur, maka batallah alasannya adalah hilangnya uzur tersebut

Kaidah fiqih ke-23

إذا زال المانع عاد الممنوع

Artinya: Apa jika hilang penyebab yang melarang sesuatu maka yang dihentikan itu boleh dikerjakan

Kaidah fiqih ke-24

الضرر لا يزال بمثله

Artinya: Kemadharatan dilarang dihilangkan dengan kemadharatan yang semisal

Kaidah fiqih ke-25

يتحمل الضرر الخاص لدفع الضرر العام

Artinya: Mudarat yang bersifat terbatas mesti ditanggung demi mencegah mudarat yang bersifat biasa

Kaidah fiqih ke-26

الضرر الأشد يزال بالضرر الأخف

Artinya: Kemadharatan yang lebih besar/ berat dihilangkan dengan Kemadharatan yang lebih ringan

Kaidah fiqih ke-27

إذا تعارض مفسدتان روعي أعظمهما ضررا بارتكاب أخفهما

Artinya: Apabila dua kerusakan bertabrakan maka dilihat/diseleksi yang lebih ringan

Kaidah fiqih ke-28

 يختار أهون الشرين

  Kriteria Gharimin Peserta Zakat

Artinya: Dipilih kejelekan yang lebih ringan di antara dua kejelekan

Kaidah fiqih ke-29

درء المفاسد أولى من جلب المصالح

Artinya: Menolak suatu kerusakan didahulukan dari pada menawan kemaslahatan.

Kaidah fiqih ke-30

الضرر يدفع بقدر الإمكان

Artinya: Kemadharatan itu sedapat mungkin harus ditangkis

Kaidah fiqih ke-31

الحاجة تنزل منزلة الضرورة، عامة كانت أو خاصة

Artinya: kebutuhan menduduki posisi dharurah, baik kebutuhan umum maupun khusus

Kaidah fiqih ke-32

 الاضطرار لا يبطل حق الغير

Artinya: Sesungguhnya sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi tidak membatalkan hak bagi yang lain

Kaidah fiqih ke-33

 ما حرم أخذه حرم إعطاؤه

Artinya: Sesuatu yang diharamkan mengambilnya maka diharamkan juga memberikannya

Kaidah fiqih ke-34

 ما حرم فعله حرم طلبه

Artinya: Sesuatu yang haram mengerjakannya maka haram juga meminta mengerjakannya

Kaidah fiqih ke-35

 العادة محكمة

Artinya: Kebiasaan mampu dijadikan hukum

Kaidah fiqih ke-36

 استعمال الناس حجة يجب العمل بها

Artinya: Jika insan sudah setuju dengan sesuatu (janji umum) maka wajib dilakukan

Kaidah fiqih ke-37

 الممتنع عادة كالممتنع حقيقة

Artinya:       Larangan budpekerti yaitu menjadi larangan sesungguhnya (secara hakikat)

Kaidah fiqih ke-38

لا ينكر تغير الأحكام بتغير الأزمان

Artinya: Tidak dipungkri perubahan hukum dengan adanya pergantian zaman

Kaidah fiqih ke-39

 الحقيقة تترك بدلالة العادة

Artinya: Suatu realita akan ditinggalkan menurut akhlak

Kaidah fiqih ke-40

 إنما تعتبر العادة إذا اطردت أو غلبت

Artinya: Tentunya tradisi itu bisa digunakan (selaku acuan hukum) saat tradisi tersebut berlaku terus-menerus dan bersifat umum.

Kaidah fiqih ke-41

العبرة للغالب الشائع لا للنادر

Artinya:       Perhatian lebih diberikan pada insiden yang sering (lebih banyak didominasi), bukannya yang jarang (minoritas)

Kaidah fiqih ke-42

 المعروف عرفا كالمشروط شرطا

Artinya: Sesuatu yang diketahui akan menjadi adat seperti yang disyaratkan menjadi syarat

Kaidah fiqih ke-43

المعروف بين التجار كالمشروط بينهم

Artinya: Sesuatu yang dikenal diantara penduduk itu mirip menjadi syarat dikalangan mereka

Kaidah fiqih ke-44

التعيين بالعرف كالتعيين بالنص

Artinya:       Penetapan secara budbahasa mirip penetapan secara nash (teks)

Kaidah fiqih ke-45

إذا تعارض المانع والمقتضي يقدم المانع

Artinya: Apa jikalau bercampur suatu larangan dengan perintah maka didahulukan larangan

Kaidah fiqih ke-46

التابع تابع

Artinya:       Sesuatu yang terkait dengan suatu obyek, maka beliau diakui keabsahannya

Kaidah fiqih ke-47

التابع لا يفرد بالحكم ما لم يصر مقصودا

Artinya: Sesuatu yang mengikut tidak dapat mempunyai aturan sendiri selama tidak menjadi tujuan

Kaidah fiqih ke-48

من ملك شيئا ملك ما هو من ضروراته

Artinya: Seseorang yang mempunyai sesuatu maka dia juga memiliki segala kepentingan/akhir/mudharat yang muncul atasnya

Kaidah fiqih ke-49

إذا سقط الأصل سقط الفرع

Artinya: Apabila terputus sesuatu yang dasar maka terputus pula suatu cabangnya

Kaidah fiqih ke-50

الساقط لا يعود، كما أن المعدوم لا يعود

Artinya: Sesuatu yang telah gugur tidak akan kembali, sebagaimana sesuatu yang tidak ada mustahil kembali.

Kaidah fiqih ke-51

إذا بطل الشيء بطل ما في ضمنه

Artinya: Apabila sesuatu itu batal maka batallah apa yang ada didalammnya

Kaidah fiqih ke-52

إذا بطل الأصل يصار إلى البدل

Artinya: Apabila yang pokok tidak mampu dilaksanakan, maka beralih kepada pengganti

Kaidah fiqih ke-53

يغتفر في التابع ما لا يغتفر في المتبوع

Artinya: Sesuatu yang saat bangkit sendiri tak diampuni, ketika menjadi pengikut diampuni”

Kaidah fiqih ke-54

يغتفر في البقاء ما لا يغتفر في الابتداء

Artinya: Sesuatu yang dihentikan dengan cara yang baru, mungkin diperbolehkan dengan cara melanjutkan.

Kaidah fiqih ke-55

البقاء أسهل من الابتداء

Artinya: Meneruskan sesuatu lebih mudah dari pada memulainya

Kaidah fiqih ke-56

لا يتم التبرع إلا بالقبض

Artinya: Tidak tepat kesepakatan Tabarru’ kecuali dengan penyerahan barang

Kaidah fiqih ke-57

التصرف على الرعية منوط بالمصلحة

Artinya: Tasharruf (tindakan pemimpin) kepada rakyat harus dihubungkan dengan kemashlahatan/kepentingan umum-.

Kaidah fiqih ke-58

 الولاية الخاصة أقوى من الولاية العامة

Artinya:       Kewenangan khusus (pribadi) lebih kuat dari pada kewenangan umum (publik)

Kaidah fiqih ke-59

 إعمال الكلام أولى من إهماله

Artinya: Mengamalkan maksud suatu kalimat, lebih utama dari pada mengabaikannya (menyia-nyiakannya)

Kaidah fiqih ke-60

 إذا تعذرت الحقيقة يصار إلى المجاز

Artinya: Apabila maksud hakiki tidak mampu ditangkap, maka pengertian majazi (metaforis) dapat dipakai

Kaidah fiqih ke-61

 إذا تعذر إعمال الكلام يهمل

Artinya: Apabila perkataan itu lemah dalam pelaksanaan maka abaikan saja

Kaidah fiqih ke-62

ذكر بعض ما لا يتجزأ كذكر كله

Artinya: Penyebutan sebagian atas sesuatu yang tidak dapat dipisahkan, sama halnya dengan penyebutan keseluruhan

Kaidah fiqih ke-63

المطلق يجري على إطلاقه ما لم يقم دليل التقييد نصا أو دلالة

Artinya:       Sesuatu yang mutlaq berlangsung dengan kemutlakannya selama tidak ada nash  atau dalil yang mengikatnya

Kaidah fiqih ke-64

الوصف في الحاضر لغو وفى الغائب معتبر

Artinya: Sifat yang terlihat tidak mempunyai nilai kebenaran,  maka sifat yang tidak terlihat mampu digunakan

Kaidah fiqih ke-65

 السؤال معاد في الجواب

Artinya:       Pertanyaan itu diulangi di dalam balasan   

Kaidah fiqih ke-66

 لا ينسب إلى ساكت قول، لكن السكوت في معرض الحاجة بيان

Artinya:

Kaidah fiqih ke-67

دليل الشيء في الأمور الباطنة يقوم مقامه

Artinya: Perkataan tidak mampu dinisbatkan kepada orang yang diam, namun diam ialah sama dengan pernyataan, dikala bicara diharapkan. (Artinya orang yang membisu saat mengatakan itu menjadi keharusan, maka dia dianggap membuat pernyataan (menyetujui/menolak).

Kaidah fiqih ke-68

الكتاب كالخطاب

Artinya:       Tulisan seseorang itu mirip halnya perkataan

Kaidah fiqih ke-69

 الإشارة المعهودة للأخرس كالبيان باللسان

Artinya: Isyarat yang dapat dikenali dari orang bisu seperti penjelasan ekspresi(nya)

Kaidah fiqih ke-70

يقبل قول المترجم مطلقا

Artinya:       Kata terjemahan diterima secara mutlaq.

Kaidah fiqih ke-71

 لا عبرة بالظن البين خطؤه

Artinya: Tidak dipegangi sesuatu (hukum) yang berdasarkan pada yang terang salahnya

Kaidah fiqih ke-72

لا حجة مع الاحتمال الناشئ عن دليل

 

Artinya: Tidak di jadikan hujjah sesuatu yang menurut kemungkinan yang berlawanan dengan dalil  

Kaidah fiqih ke-73

لا عبرة للتوهم

Artinya: Tidak bia dijadikan kriteria sesuatu yang bimbang/was-was

Kaidah fiqih ke-74

 الثابت بالبرهان كالثابت بالعيان

Artinya: Keputusan dengan bukti yang otentik seperti kepastian menyaksikan dengan mata kepala sendiri

Kaidah fiqih ke-75

 البينة على المدعي، واليمين على من أنكر

Artinya: Bagi yang penuduh (pendakwa) wajib menenteng bukti, sedangkan yang mengingkari (terdakwa) cukup bersumpah

Kaidah fiqih ke-76

البينة لإثبات خلاف الظاهر، واليمين لإبقاء الأصل

Artinya: Bukti yakni untuk menentukan sesuatu yang berlawanan secara lahiriyah, sedang sumpah untuk memutuskan sesuatu yang asal

Kaidah fiqih ke-77

البينة حجة متعدية، والإقرار حجة قاصرة

Artinya: Bukti adalah kepastian mutlak (bagi fihak ketiga), sedang ikrar (pengukuhan) hanyalah bukti relatif bagi yang menyatakannya.

Kaidah fiqih ke-78

 المرء مؤاخذ بإقراره

Artinya: Seseorang itu terikat oleh pengakuannya

  Kepemilikan (Milkiyah)

Kaidah fiqih ke-79

 لا حجة مع التناقض ولكن لا يختل معه حكم الحاكم

Artinya:       Sesuatu yang diperdebatkan tidak bisa dijadikan hujjah, tetapi jga tidak dapat menafikan keputusan hakim

Kaidah fiqih ke-80

 قد يثبت الفرع مع عدم ثبوت الأصل

Artinya: Sesungguhnya ditetapkannya cabang itu tidak bermakna dengan menghapus yang asal/pokok

Kaidah fiqih ke-81

إنما الأعمال بالنية

Artinya:       Sesungguhnya perbuatan tergantung kepada niatnya

Kaidah fiqih ke-82

المعلق بالشرط يجب ثبوته عند ثبوت الشرط

Artinya:       Fihak yang dibebani oleh syarat, wajib memenuhinya dikala syarat disebutkan.

Kaidah fiqih ke-83

 يلزم مراعاة الشرط بقدر الإمكان

Artinya: Lazimnya pemenuhan syarat itu sesuai kesanggupan yang memungkinkan

Kaidah fiqih ke-84

المواعيد بصور التعليق تكون لازمة

Artinya:       Janji yang diiringi patokan yakni umum

Kaidah fiqih ke-85

 الخراج بالضمان

Artinya: Hak menerima hasil itu selaku ganti kerugian (yang ditanggung)

Kaidah fiqih ke-86

 الأجر والضمان لا يجتمعان

Artinya:       Pendapatan/upah dengan jaminan itu tidak tiba secara bersama-sama

Kaidah fiqih ke-87

 الغرم بالغنم

Artinya:       Risiko itu sejalan dengan laba

Kaidah fiqih ke-88

 النعمة بقدر النقمة، والنقمة بقدر النعمة

Artinya: Kenikmatan itu setaraf dengan pengorbanan dan pengorbanan setaraf dengan kenikmatan

Kaidah fiqih ke-89

يضاف الفعل إلى الفاعل، لا إلى الآمر ما لم يكن مجبرا

Artinya: Perbuatan itu disandarkan pada pelakunya kecuali pada suatu perkara yang belum terjabarkan

Kaidah fiqih ke-90

إذا اجتمع المباشر والمتسبب يضاف الحكم إلى المباشر

Artinya:       Apabila terdapat dua orang terlibat sebuah perkara, yang seorang terlibat pribadi dan lainnya cuma terlibat sebab-sebab, maka hukum dibebankan pada orang yang terlibat secara pribadi saja

Kaidah fiqih ke-91

الجواز الشرعي ينافي الضمان

Artinya: Hal yang dibolehkan syariat tidak dapat dijadikan beban/tanggungan

Kaidah fiqih ke-92

 المباشر ضامن وإن لم يتعمد

Artinya: Orang yang berbuat sesuatu, meskipun tanpa sengaja, tetap mesti menanggung beban

Kaidah fiqih ke-93

 المتسبب لا يضمن إلا بالتعمد

Artinya: Tidak dikenai beban orang yang terlibat dalam alasannya suatu peristiwa kecuali dengan sengaja dia hendak melakukannya

Kaidah fiqih ke-94

 جناية العجماء جبار

Artinya:       Tidak ada beban yang terkait dengan kecelakaan disebabkan oleh binatang atas kemauanya sendiri.

Kaidah fiqih ke-95

الأمر بالتصرف في ملك الغير باطل

Artinya: Perintah menasarufkan (memanfaatkan) barang orang lain (tanpa ijin pemiliknya) yakni batal

Kaidah fiqih ke-96

لا يجوز لأحد أن يتصرف في ملك الغير بلا إذنه

Artinya:       Tidak boleh bagi seorang pun merubah /mengganti milik orang lain tampa izin pemiliknya.

Kaidah fiqih ke-97

لا يجوز لأحد أن يأخذ مال أحد بلا سبب شرعي

Artinya: Tidak boleh bagi seseorang mengambil milik orang lain tanpa sebab syar’i

Kaidah fiqih ke-98

تبدل سبب الملك قائم مقام تبدل الذات

Artinya: Perubahan karena kepemilikan barang adalah setara dengan pergeseran pada barang itu sendiri

Kaidah fiqih ke-99

من استعجل الشيء قبل أوانه عوقب بحرمانه

Artinya: Barang siapa yang mendahulukan sesuatu sebelum waktunya, maka beliau dibebani atas larangan yang ada didalamnya

Kaidah fiqih ke-100

من سعى في نقض ما تم من جهته فسعيه مردود عليه

Artinya: Barang siapa berupaya menyanggah perbuatannya sendiri, maka usahanya itu tertolak.

 

 

 



[1]Ahmad bin Syaikh Muhammad al-Zurqan, Syarh al-Qawaid al-Fiqhiyyah, (Damaskus: Dar al-Qalam, 1989 M/1409 H)