close

50+ Kerajaan Islam Di Indonesia Beserta Sejarah Dan Nama Raja-Rajanya

Kerajaan Islam di Indonesia – Masuknya penyebaran agama Islam di Indonesia disebabkan beberapa faktor, salah satunya ialah berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Sejarah kerajaan Islam di Indonesia dimulai sejak periode ke-11 Masehi, seiring dengan runtuhnya kerajaan Budha dan Hindu yang ada di Indonesia. Masa kejayaan kerajaan Islam di Indonesia berjalan antara era ke 13 hingga kurun ke 16 Masehi.

Latar belakang munculnya kerajaan Islam di Indonesia pun didorong oleh perdagangan bahari antar pedagang Islam dari Arab, Persia, India, Afrika, dan sebagainya. Kerajaan-kerajaan Islam pun mulai bermunculan, baik di tempat Sumatera, Jawa, Maluku, serta di Sulawesi, beberapa yang terkenal yaitu Samudera Pasai, Cirebon, Demak, Banten, Mataram, Ternate, Tidore, dan Gowa.

Berdirinya kerajaan Islam juga turut menyebarkan agama Islam di Indonesia. Terdapat beberapa pusat pengkajian ilmu agama Islam dan pesantren-pesantren akhir berdirinya kerajaan Islam ini. Di tanah Jawa, abad kerajaan Islam pun tak mampu dipisahkan dari wali songo yang ialah tokoh yang berbagi agama Islam di tanah Jawa dan Indonesia secara keseluruhan.

Kerajaan Islam juga mempunyai andil dalam menjaga kawasan Nusantara dari penjajah abnormal, mirip Spanyol, Portugis, dan pastinya Belanda lewat VOC-nya. Saat Indonesia merdeka, beberapa kesultanan yang masih berdiri dan bertahan pun melebur dan bergabung dengan kawasan NKRI.

(baca juga kerajaan Hindu tertua di Indonesia)

kerajaan islam di indonesia

Sejarah Kerajaan Islam di Indonesia

Berikut ini adalah nama nama kerajaan Islam di Indonesia yang besar dan terkenal beserta sejarah, tahun bangkit dan tahun runtuhnya, masa kejayaannya, pusat pemerintahannya, serta nama-nama raja atau sultan yang pernah berkuasa.

Kerajaan Perlak

Kesultanan Perlak atau Peureulak adalah kerajaan Islam di Indonesia yang berpusat di daerah Peureulak, Aceh Timur, Aceh. Kerajaan ini diklaim selaku kerajaan Islam pertama di Indonesia. Perlak pertama bangun antara tahun 840 M hingga runtuh sekitar tahun 1292 M.

Kerajaan ini sempat menjadi pelabuhan niaga yang maju alasannya adalah letaknya yang strategis dan erat dengan jalur perdagangan di Selat Malaka. Perlak juga dikenal selaku penghasil kayu perlak, yang bagus untuk menciptakan kapal. Kebanyakan pedagang dari Arab dan Persia singgah disini untuk berjualan.

Datangnya saudagar dari Timur Tengah juga membuat pertumbuhan agama Islam di kawasan Aceh Timur menjadi cukup pesat. Perlak lalu disatukan dengan Kerajaan Samudera Pasai yang ketika itu berada di bawah kala pemerintahan sultan Samudera Pasai, Sultan Muhammad Malik Al Zahir.

Daftar Sultan Kerajaan Perlak

  1. Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Azis Shah (840-864)
  2. Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Rahim Shah (864-888)
  3. Sultan Alaiddin Syed Maulana Abbas Shah (888-913)
  4. Sultan Alaiddin Syed Maulana Ali Mughat Shah (915-918)
  5. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Kadir Shah Johan Berdaulat (928-932)
  6. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah Johan Berdaulat (932-956)
  7. Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Shah Johan Berdaulat (956-983)
  8. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat (986-1023)
  9. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud Shah Johan Berdaulat (1023-1059)
  10. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mansur Shah Johan Berdaulat (1059-1078)
  11. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdullah Shah Johan Berdaulat (1078-1109)
  12. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ahmad Shah Johan Berdaulat (1109-1135)
  13. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud Shah Johan Berdaulat (1135-1160)
  14. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Usman Shah Johan Berdaulat (1160-1173)
  15. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Shah Johan Berdaulat (1173-1200)
  16. Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Jalil Shah Johan Berdaulat (1200-1230)
  17. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah II Johan Berdaulat (1230-1267)
  18. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat (1267-1292)

Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan Samudera Pasai ialah kerajaan Islam yang terletak di pesisir pantai utara pulau Sumatera. Pusatnya bersahabat dengan sekitar kota Lhokseumawe dan Aceh Utara di provinsi Aceh. Kerajaan ini juga dikenal dengan nama Kesultanan Pasai atau Samudera Darussalam. Kerajaan ini menjadi salah satu kerajaan Islam pertama di Indonesia.

Awalnya kerajaan Samudera Pasai diresmikan pada tahun 1267 M dan kemudian runtuh pada tahun 1521 M akhir serangan dari Portugis yang masuk ke wilayah Sumatera. Raja pertama Samudera Pasai adalah Sultan Malik as-Saleh, ama aslinya yaitu Marah Silu.

Sejarah kerajaan Samudera Pasai dapat ditemukan bersumberkan dari hikayat raja-raja Pasai, serta inovasi makam raja dan koin emas di periode tersebut. Bukti eksistensi kerajaan ini juga tertera pada kitab karya musafir Maroko bernama Abu Abdullah ibn Batuthah yang populer.

Daftar Sultan Kerajaan Samudera Pasai

  1. Sultan Malik as-Saleh (Meurah Silu) (1267-1297)
  2. Sultan Al-Malik azh-Zhahir I / Muhammad I (1297-1326)
  3. Sultan Ahmad I (1326-1336)
  4. Sultan Al-Malik azh-Zhahir II (1336-1349)
  5. Sultan Zainal Abidin I (1349-1406)
  6. Ratu Nahrasyiyah (1406-1428)
  7. Sultan Zainal Abidin II (1428-1438)
  8. Sultan Shalahuddin (1438-1462)
  9. Sultan Ahmad II (1462-1464)
  10. Sultan Abu Zaid Ahmad III (1464-1466)
  11. Sultan Ahmad IV (1466-1466)
  12. Sultan Mahmud (1466-1468)
  13. Sultan Zainal Abidin III (1468-1474)
  14. Sultan Muhammad Syah II (1474-1495)
  15. Sultan Al-Kamil (1495-1495)
  16. Sultan Adlullah (1495-1506)
  17. Sultan Muhammad Syah III (1506-1507)
  18. Sultan Abdullah (1507-1509)
  19. Sultan Ahmad V (1509-1514)
  20. Sultan Zainal Abidin IV (1514-1517)

Kerajaan Aceh Darussalam

Kesultanan Aceh Darussalam atau Aceh saja, merupakan sebuah kerajaan Islam yang berpusat di provinsi Aceh di ujung pulau Sumatera. Kerajaan ini diresmikan pertama pada tahun 1496 M sebelum karenanya runtuh pada tahun 1903 M. Sultan pertama kerajaan Aceh ialah Sultan Ali Mughayat Syah.

Pusat pemerintahan Kesultanan Aceh Darussalam ada di kota Banda Aceh, dan sempat berpindah ke kota Keumala semenjak tahun 1873 M. Kerajaan ini diketahui mempunyai ideologi untuk menentang imperialisme bangsa Eropa yang di periode itu mulai datang ke Indonesia.

Sistem pemerintahan pada Kesultanan Aceh Darussalam juga terstruktur dan sistematik, dengan pengembangan pusat pengkajian ilmu wawasan, tergolong ilmu fiqih Islam. Kesultanan Aceh kesudahannya runtuh pada 1903 M sesudah mengalah kepada pihak Belanda.

Daftar Sultan Kerajaan Aceh Darussalam

  1. Sultan Ali Mughayat Syah bin Sultan Syamsu Syah (1496-1528)
  2. Sultan ‘Adilullah bin Munawwar Syah (1528-1540)
  3. Sultan ‘Ali Ri’ayah Syah bin Munawwar Syah (1540)
  4. Sultan Salahuddin bin Ali Malik az Zahir (1530-1537)
  5. Sultan Alauddin bin Ali Malik az Zahir (1537-1568)
  6. Sultan Ali bin Alauddin Malik az Zahir (1568-1575)
  7. Sultan Muda (1575)
  8. Sultan Sri Alam (1575-1576)
  9. Sultan Zainal Abidin ibn Abdullah (1576-1577)
  10. Sultan Alauddin Mansur Syah ibn Ahmad (1577-1589)
  11. Sultan Ali ibn Munawar Syah (1589-1596)
  12. Sultan Alauddin Riayat Syah Sayyid al-Mukammil (1596-1604)
  13. Sultan Ali Riayat Syah (1604-1607)
  14. Sultan Iskandar Muda Johan Pahlawan Meukuta Alam (1607-1636)
  15. Sultan Iskandar Tsani Alauddin Mughayat Syah (1636-1641)
  16. Sri Ratu Safiatuddin Tajul Alam (1641-1675)
  17. Sri Ratu Naqiatuddin Nurul Alam (1675-1678)
  18. Sri Ratu Zaqiatuddin Inayat Syah (1678-1688)
  19. Sri Ratu Zainatuddin Kamalat Syah (1688-1699)
  20. Sultan Badrul Alam Syarif Hasyim Jamaluddin (1699-1702)
  21. Sultan Perkasa Alam Syarif Lamtui (1702-1703)
  22. Sultan Jamalul Alam Badrul Munir (1703-1726)
  23. Sultan Jauharul Alam Aminuddin (1726)
  24. Sultan Syamsul Alam (1726-1727)
  25. Sultan Alauddin Ahmad Syah (1727-1735)
  26. Sultan Alauddin Johan Syah (1735-1760)
  27. Sultan Alauddin Mahmud Syah I (1760-1764)
  28. Sultan Badruddin Johan Syah (1764-1765)
  29. Sultan Alauddin Mahmud Syah I (1765-1773)
  30. Sultan Sulaiman Syah (1773)
  31. Sultan Alauddin Mahmud Syah I (1773-1781)
  32. Alauddin Muhammad Syah (1781-1795)
  33. Sultan Alauddin Jauhar al-Alam (1795-1823)
  34. Sultan Syarif Saif al-Alam (1815-1820)
  35. Sultan Alauddin Jauhar al-Alam (1795-1823)
  36. Sultan Muhammad Syah (1823-1838)
  37. Sultan Sulaiman Ali Iskandar Syah (1838-1857)
  38. Sultan Mansur Syah (1857-1870)
  39. Sultan Mahmud Syah (1870-1874)
  40. Sultan Muhammad Daud Syah (1874-1903)

Kerajaan Cirebon

Kesultanan Cirebon ialah kerajaan Islam yang berada di provinsi Jawa Barat. Kerajaan ini berjaya pada masa 15 hingga 16 Masehi. Cirebon pertama bangkit pada tahun 1430 M dan lalu runtuh pada tahun 1677 M. Cirebon menjadi salah satu kerajaan Islam terkemuka yang menjadi pelabuhan penting selaku jalur jual beli dan pelayaran di kurun tersebut.

Pusat pemerintahan Kesultanan Cirebon ada di pantai utara Jawa yang menjadi perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Cirebon pun memadukan dua budaya, yaitu kebudayaan Jawa dan kebudayaan Sunda. Kesultanan Cirebon menjadi pusat kebudayaan di tanah Jawa sekaligus penyebaran agama Islam.

Kesultanan Cirebon hasilnya runtuh pada tahun 1677 Masehi, alasannya terjadi pembagian menjadi kesultanan Kasepuhan yang dipimpin Pangeran Martawijaya, kesultanan Kanoman yang dipimpin oleh Pangeran Kartawijaya, serta Panembahan Cirebon yang dipimpin Pangeran Wangsakerta.

Daftar Sultan Kerajaan Cirebon

  1. Sultan Cirebon I Pangeran Walangsungsang (1430-1479)
  2. Syarif Hidayatullah / Sunan Gunung Jati (1479-1568)
  3. Fatahillah (1568-1570)
  4. Sultan Zainul Arifin / Panembahan Ratu I (1570-1649)
  5. Sultan Abdul Karim / Panembahan Girilaya (1649-1677)

Kerajaan Demak

Kesultanan Demak yakni kerajaan Islam pertama di Jawa. Kerajaan ini juga menjadi kerajaan Islam terbesar di daerah pantai utara Jawa. Sebelumnya Demak merupakan kadipaten peninggalan kerajaan Majapahit yang kemudian timbul menjadi kekuatan baru. Demak berdiri semenjak tahun 147 M hingga runtuh di tahun 1554 M.

Hadirnya kerajaan Demak menjadi penggagas penyebaran agama Islam di pulau Jawa, dan bahkan di Indonesia. Demak bangkit setelah runtuhnya kerajaan Majapahit, ditandai dengan berdirinya kota pelabuhan Demak yang sekarang menjadi kota Demak di provinsi Jawa Tengah.

Kerajaan Demak tidak bertahan lama dan mengalami kemunduran alasannya terjadi kudeta di antara saudara kerajaan. Demak runtuh di tahun 1554 M dan menjadi bagian dari Kerajaan Pajang yang diresmikan oleh Hadiwijaya atau Jaka Tingkir, sehabis dia menaklukkan Arya Penangsang selaku raja Demak yang terakhir sebelum runtuh.

Daftar Sultan Kerajaan Demak

  1. Raden Fatah (1475-1518)
  2. Pati Unus (1518-1521)
  3. Trenggana (1521-1546)
  4. Sunan Prawata (1546-1547)
  5. Arya Penangsang (1547-1554)

Kerajaan Banten

Kesultanan Banten ialah kerajaan Islam yang berpusat di Tatar Pasunda, provinsi Banten. Banten pertama bangun pada tahun 1526 M sebelum alhasil runtuh di tahun 1813 M. Berdirinya kesultanan Banten juga tak lepas dari hadirnya kesultanan Cirebon dan kesultanan Demak yang memperluas kekuatan dan pengaruhnya hingga ke pesisir barat pulau Jawa.

Kesultanan Banten menjadi kesultanan yang mandiri pada tahun 1552 sehabis Maulana Hasanuddin ditasbihkan oleh ayahnya ialah Sunan Gunung Jati sebagai Sultan di Banten. Banten juga diketahui sebagai kerajaan maritim dan mengandalkan jual beli dalam menopang perekonomiannya.

Kerajaan Banten bisa mempertahankan kejayaan selama hampir 3 masa, meski juga terus digempur oleh bangsa Eropa. Masa kejayaan kesultanan Banten terjadi saat kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa antara tahun 1651 sampai 1682 M. Namun risikonya Banten runtuh pada tahun 1813 M akibat efek kekuatan Hindia-Belanda

Daftar Sultan Kerajaan Banten

  1. Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570)
  2. Sultan Maulana Yusuf (1570-1585)
  3. Sultan Maulana Muhammad (1585-1596)
  4. Sultan Abdul Mafakhir Mahmud Abdulkadir (1596-1647)
  5. Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad (1647-1651)
  6. Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1683)
  7. Sultan Abu Nashar Abdul Qahar (1683-1687)
  8. Sultan Abu al-Fadhl Muhammad Yahya (1687-1690)
  9. Sultan Abu al-Mahasin Muhammad Zainulabidin (1690-1733)
  10. Sultan Abdullah Muhammad Syifa Zainularifin (1733-1750)
  11. Sultan Syarifuddin Ratu Wakil2 (1750-1752)
  12. Sultan Abu al-Ma’ali Muhammad Wasi (1752-1753)
  13. Sultan Abu al-Nasr Muhammad Arif Zainulasyiqin (1753-1773)
  14. Sultan Aliyuddin I (1773-1799)
  15. Sultan Muhammad Muhyiddin Zainussalihin (1799-1801)
  16. Sultan Muhammad Ishaq Zainulmuttaqin (1801-1802)
  17. Sultan Wakil Pangeran Natawijaya (1802-1803)
  18. Sultan Aliyuddin II (1803-1808)
  19. Sultan Wakil Pangeran Suramenggala (1808-1809)
  20. Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin (1809-1813)

Kerajaan Pajang

Kerajaan Pajang yaitu suatu kerajaan Islam yang pusat pemerintahannya ada di provinsi Jawa Tengah. Kesultanan ini merupakan kelanjutan dari kesultanan Demak. Pajang pertama berdiri pada tahun 1568 M dan lalu runtuh pada tahun 1586 M.

Kesultanan Pajang ialah kerajaan pertama yang timbul di pedalaman Jawa sehabis runtuhnya kerajaan Islam di tempat pantai utara pesisir. Pendiri sekaligus sultan pertama Kerajaan Pajang yaitu Jaka Tingkir yang kemudian diketahui dengan gelar Sultan Hadiwijaya.

Usai Hadiwijaya lengser, sempat terjadi kudeta antara anaknya dan menantunya. Hal ini kemudian memicu serangkaian peristiwa sebelum Pajang runtuh di tahun 1587. Usai runtuh, Pajang dijadikan selaku bawahan dari kesultanan Mataram Islam.

Daftar Sultan Kerajaan Pajang

  1. Sultan Hadiwijaya / Jaka Tingkir (1568-1583)
  2. Sultan Ngawantiputra / Arya Pangiri (1583-1586)
  3. Sultan Prabuwijaya / Pangeran Benawa (1586-1587)

Kerajaan Mataram Islam

Kesultanan Mataram Islam adalah kerajaan bercorak Islam yang ada di pulau Jawa pada era ke 17 M. Kerajaan ini mulanya cuma bernama Mataram, namun sering disebut selaku Mataram Islam atau Mataram Baru, untuk membedakan dengan Kerajaan Mataram Kuno yang bercorak Hindu.

Kerajaan ini dipimpin dinasti keturunan Ki Ageng Sela dan Ki Ageng Pemanahan. Asal-usulnya ialah sebuah Kadipaten di bawah Kesultanan Pajang. Raja pertamanya yakni Sutawijaya atau Panembahan Senapati, putra dari Ki Ageng Pemanahan.

Pada periode kejayaannya, kerajaan Mataram Islam pernah menyatukan tanah Jawa dan berperang melawan VOC dari pihak Belanda. Mataram Islam lalu runtuh akhir adanya pemberontakan serta kekuasaan dan campur tangan dari pihak VOC.

Daftar Sultan Kerajaan Mataram Islam 

  1. Ki Ageng Pamanahan (1556-1584)
  2. Panembahan Senapati (1584-1601)
  3. Raden Mas Jolang (1601-1613)
  4. Raden Mas Rangsang (1613-1646)
  5. Amangkurat I (1646-1676)
  6. Amangkurat II (1677-1703)

Kerajaan Ternate

Kesultanan Ternate ialah slaah satu kerajaan Islam di kepulauan Maluku. Kerajaan ini disebut juga sebagai Kerajaan Gapi. Ternate pertama diresmikan pada tahun 1257 M hingga tahun 1950 M. Kesultanan Ternate memiliki tugas penting di tempat timur Nusantara.

Masa kejayaan Kesultanan Ternate terjadi di era 16, dimana wilayahnya diketahui sebagai pusat perdagangan rempah-rempah di seluruh dunia. Selain itu kekuasaan Ternate juga meluas berkat kekuatan militernya, sampai meluas sampai wilayah Sulawesi, Filipina dan kepulauan Marshall di Pasifik.

Kerajaan Ternate kemudian sempat mengalami kemunduran hingga runtuh di permulaan masa 17. Namun imbas Ternate masih cukup besar di wilayah Indonesia Timur, bahkan sampai Indonesia merdeka. Kesultanan Ternate kemudian melebur dengan Indonesia, dan sampai kini simbol budaya Kesultanan Ternate masih tetap ada.

Daftar Sultan Kerajaan Ternate

  1. Baab Mashur Malamo (1257-1277)
  2. Jamin Qadrat (1277-1284)
  3. Komala Abu Said (1284-1298)
  4. Bakuku (Kalabata) (1298-1304)
  5. Ngara Malamo (Komala) (1304-1317)
  6. Patsaranga Malamo (1317-1322)
  7. Cili Aiya (Sidang Arif Malamo) (1322-1331)
  8. Panji Malamo (1331-1332)
  9. Syah Alam (1332-1343)
  10. Tulu Malamo (1343-1347)
  11. Kie Mabiji (Abu Hayat I) (1347-1350)
  12. Ngolo Macahaya (1350-1357)
  13. Momole (1357-1359)
  14. Gapi Malamo I (1359-1372)
  15. Gapi Baguna I (1372-1377)
  16. Komala Pulu (1377-1432)
  17. Marhum (Gapi Baguna II) (1432-1486)
  18. Zainal Abidin (1486-1500)
  19. Sultan Bayanullah (1500-1522)
  20. Hidayatullah (1522-1529)
  21. Abu Hayat II (1529-1533)
  22. Tabariji (1533-1534)
  23. Khairun Jamil (1535-1570)
  24. Babullah Datu Syah (1570-1583)
  25. Said Barakat Syah (1583-1606)
  26. Mudaffar Syah I (1607-1627)
  27. Hamzah (1627-1648)
  28. Mandarsyah (1648-1650)
  29. Manila (1650-1655)
  30. Mandarsyah (1655-1675)
  31. Sibori (1675-1689)
  32. Said Fatahullah (1689-1714)
  33. Amir Iskandar Zulkarnain Syaifuddin (1714-1751)
  34. Ayan Syah (1751-1754)
  35. Syah Mardan (1755-1763)
  36. Jalaluddin (1763-1774)
  37. Harunsyah (1774-1781)
  38. Achral (1781-1796)
  39. Muhammad Yasin (1796-1801)
  40. Muhammad Ali (1807-1821)
  41. Muhammad Sarmoli (1821-1823)
  42. Muhammad Zain (1823-1859)
  43. Muhammad Arsyad (1859-1876)
  44. Ayanhar (1879-1900)
  45. Muhammad Ilham (Kolano Ara Rimoi) (1900-1902)
  46. Haji Muhammad Usman Syah (1902-1915)
  47. Iskandar Muhammad Jabir Syah (1929-1950)

Kerajaan Tidore

Kesultanan Tidore ialah salah satu kerajaan Islam di kepulauan Maluku. Pusat pemerintahannya ada di kota Tidore, Maluku Utara. Kerajaan Tidore ini pertama diresmikan pada 1081 M sampai tahun 1950 M saat melebur ke kawasan Indonesia yang telah merdeka.

Masa kejayaan kerajaan Tidore terjadi pada kala 16 sampai abad 18 M. Saat itu daerah Tidore terus meluas hingga kawasan pesisir Papua Barat. Tidore juga sempat bertikai dengan Kesultanan Ternate yang juga kerajaan Islam di Maluku. Kedua kesultanan ini sempat mendapat santunan, masing-masing dari Spanyol dan Portugis.

Saat kala jajahan Belanda ke Indonesia, Tidore tetap menjadi kerajaan merdeka dan menolak penguasaan VOC di tanah Maluku. Meski begitu VOC tetap bisa mengendalikan perdagangan rempah-rempah di kawasan Tidore sehingga menjadikan kerugian bagi Tidore.

Daftar Sultan Kerajaan Tidore

  1. Kolano Syahjati alias Muhammad Naqil bin Jaffar Assidiq
  2. Kolano Bosamawange
  3. Kolano Syuhud alias Subu
  4. Kolano Balibunga
  5. Kolano Duko adoya
  6. Kolano Kie Matiti
  7. Kolano Seli
  8. Kolano Matagena
  9. Kolano Nuruddin (1334-1372)
  10. Kolano Hasan Syah (1372-1405)
  11. Sultan Ciriliyati alias Djamaluddin (1495-1512)
  12. Sultan Al Mansur (1512-1526)
  13. Sultan Amiruddin Iskandar Zulkarnain (1526-1535)
  14. Sultan Kiyai Mansur (1535-1569)
  15. Sultan Iskandar Sani (1569-1586)
  16. Sultan Gapi Baguna (1586-1600)
  17. Sultan Mole Majimo alias Zainuddin (1600-1626)
  18. Sultan Ngora Malamo alias Alauddin Syah (1626-1631)
  19. Sultan Gorontalo alias Saiduddin (1631-1642)
  20. Sultan Saidi (1642-1653)
  21. Sultan Mole Maginyau alias Malikiddin (1653-1657)
  22. Sultan Saifuddin alias Jou Kota (1657-1674)
  23. Sultan Hamzah Fahruddin (1674-1705)
  24. Sultan Abdul Fadhlil Mansur (1705-1708)
  25. Sultan Hasanuddin Kaicil Garcia (1708-1728)
  26. Sultan Amir Bifodlil Aziz Muhidin Malikul Manan (1728-1757)
  27. Sultan Muhammad Mashud Jamaluddin (1757-1779)
  28. Sultan Patra Alam (1780-1783)
  29. Sultan Hairul Alam Kamaluddin Asgar (1784-1797)
  30. Sultan Syaidul Jehad Amiruddin Syaifuddin Syah Muhammad (1797-1805)
  31. Sultan Zainal Abidin (1805-1810)
  32. Sultan Motahuddin Muhammad Tahir (1810-1821)
  33. Sultan Achmadul Mansur Sirajuddin Syah (1821-1856)
  34. Sultan Achmad Syaifuddin Alting (1856-1892)
  35. Sultan Achmad Fatahuddin Alting (1892-1894)
  36. Sultan Achmad Kawiyuddin Alting alias Shah Juan (1894-1906)
  37. Sultan Zainal Abidin Syah (1947-1950)

Kerajaan Gowa

Kesultanan Gowa atau ditulis Goa, ialah salah satu kerajaan Islam di Sulawesi Selatan. Gowa menjadi salah satu kerajaan Islam paling besar dan tersukses di Sulawesi Selatan. Pusat pemerintahannya ada di Gowa dan daerah di sekitarnya. Gowa bangkit sejak tahun 1300 M dan lalu runtuh pada tahun 1946 M.

Sebelumnya kerajaan Gowa merupakan bentuk penyatuan dari Kesultanan Gowa dan Tallo. Kerajaan Gowa mempunyai raja yang terkenal ialah Sultan Hasanuddin. Ia diketahui selaku pejuang yang gigih dan terlibat dalam Perang Makassar melawan VOC yang dibantu Kesultanan Bone pimpinan Arung Palakka.

Puncak keemasan kesultanan Gowa terjadi pada kurun ke 17 M. Namun kekuasaan Gowa mulai menurun dikala pihak Belanda masuk ke Indonesia. Usai Indonesia merdeka, Kerajaan Gowa pun memutuskan melebur dan berkembang menjadi kawasan tingkat II Kabupaten Gowa.

Daftar Sultan Kerajaan Gowa

  1. Tumanurung Bainea
  2. Tumassalangga Baraya
  3. Puang Loe Lembang
  4. I Tuniatabanri
  5. Karampang ri Gowa
  6. Tunatangka Lopi
  7. Batara Gowa Tuminanga ri Paralakkenna
  8. Pakere Tau Tunijallo ri Passukki
  9. Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi’ Kallonna
  10. I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiyung Tunipallangga Ulaweng (1546-1565)
  11. I Tajibarani Daeng Marompa Karaeng Data Tunibatte
  12. I Manggorai Daeng Mameta Karaeng Bontolangkasa Tunijallo (1565-1590)
  13. I Tepukaraeng Daeng Parabbung Tuni Pasulu (1593)
  14. I Mangari Daeng Manrabbia Sultan Alauddin I Tuminanga ri Gaukanna (1593-1639)
  15. I Mannuntungi Daeng Mattola Karaeng Lakiyung Sultan Malikussaid Tuminanga (1639-1653)
  16. I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape Sultan Hasanuddin Tuminanga (1653-1669)
  17. I Mappasomba Daeng Nguraga Sultan Amir Hamzah Tuminanga ri Allu’ (1669-1681)
  18. Sultan Mohammad Ali (Karaeng Bisei) Tumenanga ri Jakattara (1674-1677)
  19. I Mappadulu Daeng Mattimung Karaeng Sanrobone Sultan Abdul Jalil Tuminanga 1677-1709)
  20. La Pareppa Tosappe Wali Sultan Ismail Tuminanga ri Somba Opu (1709-1711)
  21. I Mappaurangi Sultan Sirajuddin Tuminang ri Pasi
  22. I Manrabbia Sultan Najamuddin
  23. I Mappaurangi Sultan Sirajuddin Tuminang ri Pasi (1735)
  24. I Mallawagau Sultan Abdul Chair (1735-1742)
  25. I Mappibabasa Sultan Abdul Kudus (1742-1753)
  26. Amas Madina Batara Gowa (1747-1795)
  27. I Mallisujawa Daeng Riboko Arungmampu Tuminanga ri Tompobalang (1767-1769)
  28. I Temmassongeng Karaeng Katanka Sultan Zainuddin Tuminanga ri Mattanging (1770-1778)
  29. I Manawari Karaeng Bontolangkasa (1778-1810)
  30. I Mappatunru / I Mangijarang Karaeng Lembang Parang Tuminang ri Katangka (1816-1825)
  31. La Oddanriu Karaeng Katangka Tuminanga ri Suangga (1825-1826)
  32. I Kumala Karaeng Lembang Parang Sultan Abdul Kadir Moh Aidid Tuminanga (1826-1893)
  33. I Malingkaan Daeng Nyonri Karaeng Katangka Sultan Idris Tuminanga (1893-1895)
  34. I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembangparang Sultan Husain Tuminang (1895-1906)
  35. I Mangimangi Daeng Matutu Karaeng Bonto Nompo Sultan Muhammad Tahur (1936-1946)
  36. Andi Ijo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aidudin (1946-1950)

Kerajaan Islam di Sumatera

  • Kerajaan Jeumpa
  • Kesultanan Peureulak
  • Kesultanan Samudera Pasai
  • Kesultanan Lamuri
  • Kerajaan Pedir
  • Kerajaan Daya
  • Kerajaan Linge
  • Kesultanan Aceh
  • Kesultanan Indrapura
  • Kerajaan Pagaruyung
  • Kerajaan Siguntur
  • Kerajaan Sungai Pagu
  • Kerajaan Bungo Setangkai
  • Kesultanan Jambi
  • Kesultanan Serdang
  • Kesultanan Asahan
  • Kesultanan Deli

Kerajaan Islam di Jawa

  • Kesultanan Cirebon
  • Kesultanan Demak
  • Kesultanan Banten
  • Kesultanan Pajang
  • Kesultanan Mataram Islam
  • Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat
  • Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Kerajaan Islam di Kalimantan

  • Kesultanan Pasir
  • Kesultanan Banjar
  • Kesultanan Kotawaringin
  • Kerajaan Pagatan
  • Kesultanan Sambas
  • Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura
  • Kesultanan Berau
  • Kesultanan Sambaliung
  • Kesultanan Gunung Tabur
  • Kesultanan Pontianak
  • Kerajaan Tidung
  • Kerajaan Tidung Kuno
  • Kesultanan Bulungan

Kerajaan Islam di Sulawesi

  • Kesultanan Gowa
  • Kesultanan Buton
  • Kesultanan Bone
  • Kesultanan Tallo
  • Kerajaan Banggai

Kerajaan Islam di Maluku

  • Kesultanan Ternate
  • Kesultanan Tidore
  • Kesultanan Jailolo
  • Kesultanan Bacan
  • Kerajaan Tanah Hitu
  • Kerajaan Iha
  • Kerajaan Huamual

Nah itulah referensi kerajaan Islam di Indonesia beserta sejarah, lokasi, sentra pemerintahan, kurun kejayaan, tahun bangkit, dan nama-nama raja atau sultan yang memerintah. Semoga mampu menjadi tumpuan ihwal sejarah penyebaran Islam di Indonesia.

  Pada Periode Pemerintahan Raja Hayam Wuruk Terjadi Peristiwa Bubat (Perang Bubat). Terangkan Tentang Perang Bubat!