Masyarakat Multikultural – Pengertian dan Karakteristiknya

Posted on
Remove term: pengertian masyarakat multikultur menurut para ahli pengertian masyarakat multikultur menurut para ahliRemove term: masyarakat multikultur masyarakat multikulturRemove term: karakteristik masyarakat multikultur karakteristik masyarakat multikulturRemove term: contoh masyarakat multikultur contoh masyarakat multikultur
Gambar: Indahnya perbedaan di Indonesia. Sumber: Twitter

Masyarakat multikultural, barangkali anda sering mendengar dan membaca istilah ini di media televisi atau media online. Sebetulnya apa sih masyarakat multikultural itu?

Multikultural terdiri dari dua kata, yaitu multi dan kultural. Dalam kamus bahasa Indonesia multi artinya lebih dari satu, sedang kultural adalah hal yang bersifat kebudayaan. Multikultural berarti beragam kebudayaan.

Jika demikian maka masyarakat multikultural adalah masyarakat yang memiliki aneka macam kebudayaan?

Untuk lebih memahaminya, sebaiknya kita simak pengertian masyarakat multikultural di bawah ini:

A. Pengertian Masyarakat Multikultural Menurut Para Ahli

Azyumardi Azra

Beliau menyebutkan bahwa masyarakat multikultural adalah pandangan tentang keberagaman dunia, kemudian diejawantahkan menjadi aneka kebijakan yang menekankan penerimaan realitas plural dan keberagaman hidup masyarakat.

Pada akhirnya multikulturalisme diyakini sebagai salah satu pandangan dunia (way of life) yang harus terwujud dalam kesadaran berpolitik.

J.S. Furnivall

Mengatakan bahwa masyarakat multikultural sebagai kumpulan berbagai elemen komunitas, yang di dalamnya hidup secara sendiri- sendiri, tanpa pembauran sama sekali antar satu dengan lainnya, namun ada rasa saling menghargai, meski berbeda pandangan ekonomi, sosial dan politik.

Suparlan

Mendefinisikan multikulturalisme menjadi satu ideologi yang mengutamakan dan mengakui adanya perbedaan, tapi perbedaan itu memiliki derajat yang sama antar satu dengan lainnya, baik pada tataran individu maupun level kebudayaan.

Menurut beliau, konsep multikulturalisme tak bisa diserupakan dengan konsep masyarakat majemuk, karena ada penekanan titik kesederajatannya.

J.Nasikun

Menurut Prof Nasikun multikultural mesti bersifat majemuk, masyarakat multikultur mempunyai subkebudayaan yang beraneka-ragam, ditandai dengan berkembangnya nilai yang sudah disepakati semua anggota masyarakat.

B. Karakteristik dan Ciri Masyarakat Multikultural

Seorang pakar sosiologi bernama Pierre L. Va den Berghe mengemukakan karakteristik dan ciri masyarakat multikultural, yaitu dengan ciri sebagai berikut;

1. Segmentasi kelompok.

Adanya segmentasi dalam kelompok sub-budaya yang berbeda (Primordial). Masyarakat multikultural tersegmentasi (terbagi-bagi) dalam komunitas-komunitas kecil yang berdasarkan agama, suku dan ras masing-masing.

Meski masih dalam lingkungan kerja yang sama, dalam pergaulan sehari-hari di luar lingkunan kerja, biasanya satu individu lebih memilih bergaul (hang out) dengan orang satu ras atau agama yang sama.

Dengan kata lain, masyarakat multikultural tampak hidup bersama, padahal dalam kesehariannya, sering memilih bersahabat dengan komunitas dari daerah atau komunitas mereka saja, alasannya karena lebih mudah berkomunikasi serta punya ikatan batin yang sama.

2. Punya lembaga yang lebih tinggi dari lembaga formal

Karakteristik masyarakat multikultural tak hanya punya lembaga formal yang wajib ditaati, lebih dari itu masyarakat berciri multikultur memiliki lembaga informal non-komplementer yang wajib ditaati.

Umumnya, ketaatan pada lembaga non-komplementer melebihi penghormatan pada lembaga formal, hal tersebut dipengaruhi kepemimpinan tokoh yang bisa menggerakan warga secara emosional (lebih dekat).

3. Kurang berkembangnya konsensus

Masyarakat multikultural mempunyai berbagai jenis ras, agama dan etnik. Hal ini menimbulkan persepsi, kebiasaan, dan pengetahuan yang berbeda satu dengan lainnya. Agak sulit mendapatkan kesepakatan nilai atau norma yang jadi dasar pijakan bersama karena perbedaan-perbedaan tersebut.

4. Penegakan aturan yang bersifat memaksa

Masyarakat yang multikultur bisa terintegrasi secara sosial ketika dibangun oleh aturan yang sifatnya memaksa. Aturan-aturan ini perlu demi menjaga keharmonisan bersama sekaligus melindungi kaum minoritas. Kalaupun tidak begitu, integrasi sosial terjadi karena ada rasa saling ketergantungan secara ekonomi.

5. Dominasi politik kelompok mayoritas

Mesti diakui, dalam masyarakat yang multikultur selalu ada dominasi satu kelompok terhadap yang lainnya. Biasanya kelompok yang dominan tersebut bisa memaksakan kebijakan yang menguntungkan kelompoknya sendiri.

C. Contoh Masyarakat Multikultural: Indonesia

Bangsa Indonesia adalah salah salah satu contoh paling nyata masyarakat yang multikultur, hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya:

1. Faktor Geografis

Wilayah Indonesia memiliki lebih dari 17 ribu pulau yang tersebar kurang lebih 300 mil dari timur sampai ke barat, bahkan lebih dari 1000 mil utara sampai selatan, hal ini merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kehidupan multikultur di Indonesia.

Diperkirakan para pendatang tiba di kepulauan indonesia sekitar 20.000 tahun yang lalu. Mereka kemudian menyebar ke semua pulau-pulau besar, meliputi bagian barat nusantara, Papua, hingga Australia.

Manusia-manusia tersebutlah yang nanti disebut bangsa indonesia, dalam keadaan geografis terisolir, menempati pulau-pulau yang dikelilingi lautan, mereka mengembangkan berbagai mitos dan kebudayaan unik satu dengan yang lainnya.

2. Faktor Wilayah

Daerah nusantara memiliki wilayah yang strategis, ia diapit samudra hindia dan pasifik. Hal ini berpengaruh dalam proses multikultural, khususnya kebudayaan dan agama.

Ditambah lagi kepulauan Indonesia adalah lalu lintas perdagangan antara para pedagang India, Cina dan Asia tenggara. Melalui interaksi para pedagang inilah, pengaruh kebudayaan dan agama masuk ke Indonesia.

Penyebaran agama dan kebudayaan ini tidak merata, tidak dominan, sehingga menyebabkan terjadinya proses asimilasi kebudayaan yang unik antar satu wilayah dengan wilayah lainnya.

Pengaruh agama khususnya hindhu-budha saat awal tahun masehi berkembang pada wilayah barat nusantara. Sementara pengaruh kebudayaan china terjadi di wilayah-wilayah pantai dan daerah pusat perdagangan.

Ajaran islam mulai masuk kemudian berkembang saat abad ke-13, wilayah bagian barat dan maluku menjadi pusatnya.

Masa kolonial, portugis serta agama katolik memasuki wilayah nusa tenggara timur. Abad ke-16 Belanda datang, lalu abad ke-17 menyebarkan agama kristen dan katolik di kota-kota besar di jawa sumatra, sulawesi, kalimantan, maluku, dan papua.

3. Faktor Iklim

Variasi lingkungan hidup masyarakat nusantara berbeda-beda. Ada yang mengandalkan laut sebagai salah satu sumber kehidupannya, contohnya warga di kepulauan Riau dan Bajo di Sulawesi Selatan, dan Asmat di irian jaya, dan lain lain.

Selain lingkungannya, perbedaan tipe masyarakat pun tampak pada masyarakat perkotaan, komunitas transisi dan komunitas yang masih memiliki budaya adat kental (tribal comunites).

Menurut para antropolog dan pakar sosiologi, curah hujan dan kesuburan tanah adalah penyebab terciptanya dua macam lingkungan ekologis, ada daerah sawah pertanina (wet rice cultivation) yang banyak tersebar di pulau jawa dan bali, serta daerah ladang (shifting cultivation) yang banyak tersebar di luar pulau jawa.

Perbedaan-perbedaan tersebut adalah salah satu faktor diversivikasi antara jawa dan luar jawa baik dalam bidang ekonomi, kependudukan, sosial dan budaya.

Sistem sawah pertanian di pulau jawa membuat tumbuh satu ciri khas kemasyarakatan yang mendasarkan diri pada penaklukan di daratan.

Sedangkan sistem ladang di luar jawa mendorong terbentuknya sistem kemasyarakatan yang mendasarkan diri pada penaklukan lautan yang akhirnya punya keunggulan dalam hal perdagangan.

Makanya di Jawa tumbuh kekuasaan Mataram kuno dan Majapahit. Sedangkan di luar jawa berkembang kerajaan Melayu dan Sriwijaya.

D. Macam-macam Masyarakat Multikultural

Masyarakat dengan kompetisi seimbang.

Yaitu masyarakat multikultur yang terdiri atas sejumlah komunitas dan etnis-etnis yang punya kekuatan kompetitif seimbang.

Masyarakat dengan mayoritas dominan.

Yaitu masyarakat yang terdiri atas sejumlah komunitas atau kelompok etnis yang secara kekuatan adanya ketidakseimbangan. Karena ada kelompok mayoritas yang punya yang lebih besar daripada lainnya.

Masyarakat dengan minoritas dominan.

Yaitu masyarakat yang didalamnya ada kelompok etnis terdapat kelompok minoritas, namun punya kekuatan kompetitif diatas yang lain.

Masyarakat dengan fragmentasi.

Yaitu masyarakat yang didalamnya terdapat sejumlah besar komunitas atau kelompok etnis, akan tetapi tidak ada satu kelompok pun punya posisi politik atau ekonomi yang dominan.

Penutup

Setelah kita memahami tentang masyarakat multikultur, penulis berharap agar pembaca menjadi orang yang senantiasa ramah dan toleran terhadap orang-orang yang memiliki identitas kultural berbeda, karena bagaimanapun Indonesia adalah negara yang mempunyai beragam kultur. Salam

Facebook Comments